Peran Antonio Pintus dalam Kesuksesan Real Madrid
Pada awal kepemimpinan Álvaro Arbeloa sebagai pelatih Real Madrid, ia tidak ragu untuk memberikan pujian kepada kembalinya Antonio Pintus, pelatih fisik yang selama bertahun-tahun menjadi bagian penting dari kesuksesan klub. Terutama di Liga Champions.
“Merupakan suatu kehormatan memiliki Antonio Pintus,” ujar Arbeloa saat presentasinya sebagai pelatih Real Madrid. Ucapan ini bukan sekadar basa-basi. Di mata Arbeloa, kehadiran Pintus sangat dibutuhkan, terutama setelah melihat bahwa tim masih memiliki banyak pekerjaan rumah dalam hal kondisi fisik.
“Kami masih memiliki banyak ruang untuk perbaikan dalam hal kondisi fisik. Antonio ada di sini untuk itu, dan saya pikir itu perlu,” tegasnya, setelah kekalahan telak dari Albacete.
Nama Pintus memang tidak biasa. Tidak pernah ada pelatih fisik yang mendapatkan antusiasme sebesar pria Italia berusia 63 tahun ini. Ia datang bersama Zinédine Zidane pada 2016, lalu ikut mengoleksi dua gelar Liga Champions. Setelah itu, ia kembali bersama Carlo Ancelotti dan menambah dua trofi Liga Champions berikutnya. Jauh sebelum itu, Pintus juga pernah merasakan manisnya Liga Champions bersama Juventus pada era 1990-an.
Pada 2021, ketika Pintus sempat hengkang ke Inter Milan, klub sampai mengeluarkan pernyataan resmi khusus—perlakuan yang biasanya hanya diberikan kepada pemain bintang.
Pintus sebagai Pemicu Dipecatnya Xabi Alonso?
Peran Pintus tidak hanya besar, tetapi juga sensitif. Dialah salah satu pemicu utama konflik antara Xabi Alonso dan manajemen klub. Alonso disebut tidak menginginkannya berada di staf pelatih karena memiliki pelatih fisik pilihannya sendiri dengan pendekatan yang lebih terintegrasi.
Namun setelah Ismael Camaforte pergi, Pintus justru kembali dipandang sebagai “formula ajaib” di tengah Real Madrid yang berkutat dengan cedera dan masalah stamina. Bahkan di mata Arbeloa, sosok ini menjadi jawaban atas kekurangan energi timnya. Tak heran jika muncul pertanyaan setengah bercanda: apakah Pintus ini semacam Panoramix modern?
Latar Belakang dan Keilmuan Pintus
Akar keilmuan Pintus berasal dari dunia atletik. Putra seorang pekerja pabrik Fiat ini punya latar belakang kuat di lintasan lari—ia pernah mencatat waktu di bawah empat menit untuk 1.500 meter. Tesis doktoralnya membahas maraton modern, seperti dikenang oleh mentornya, Claudio Gaudino, dalam program radio “Relevo”.
Dari Gaudino pula Pintus mendapat pintu masuk ke Juventus, awal karier panjang yang kemudian berlanjut berkat rekomendasi para pemain yang pernah “merasakan” metodenya. Didier Deschamps membawanya ke Monaco, Vialli ke Chelsea, Poyet ke Sunderland, hingga akhirnya Zidane membawanya ke Madrid.
Florin Raducioiu, yang pernah dilatih Pintus di Monaco, masih mengingat kesan mendalam itu. “Dia memiliki banyak kualitas. Dia tahu bagaimana berempati dengan para pemain, dan itu penting. Dia bekerja pada pola pikir dan meyakinkan Anda. Dia memperhatikan apa yang dilakukan di negara lain dan selalu mengikuti perkembangan. Dia meniru ide-ide,” kenangnya.
Pendekatan dan Metode Pintus
Ia dikenal memberi contoh langsung. Menjaga fisik dengan disiplin (selama bertahun-tahun bersama Ancelotti, ia berlari sepuluh kilometer setiap pagi di Valdebebas) dan merawat sisi intelektualnya—bahkan sempat diundang NASA ke pramusim Real Madrid.
Pramusim adalah wilayah kekuasaannya. Kiko Casilla masih mengingat betul sesi-sesi latihan berat itu. “Dia menyuruhmu melakukan latihan yang mendorongmu hingga batas kemampuan; dia ingin kamu menderita agar terbiasa. Saya ingat kami berlari di musim panas. Pertama 20 menit, lalu 30 menit keesokan harinya, lalu 45 menit, dan akhirnya satu jam,” ujarnya.
Namun Casilla juga menekankan sisi lain Pintus. “Dia orang yang sangat ramah, terbuka, Anda bisa berbicara dengannya tentang apa saja. Dia memiliki kepribadian yang kuat, tetapi tanpa bersikap otoriter; dia menjelaskan berbagai hal kepada Anda.”
Fernando Morientes bahkan menyebutnya sebagai pelatih fisik terbaik yang pernah ia miliki. Pintus dikenal memiliki dua fase krusial dalam setahun: musim panas dan periode Natal, saat intensitas latihan benar-benar dinaikkan. Setelah itu, fokus bergeser ke gym dan pemeliharaan kondisi.
Pengembangan Ilmu dan Teknologi
Rasa hausnya akan ilmu membuat Pintus meraih gelar Sarjana Ilmu Olahraga di Lyon dan melanjutkan studi fisioterapi di Madrid. Ia juga termasuk pionir penggunaan teknologi, mulai dari GPS sejak 2012 hingga masker hipoksia di era terbaru.
Meski sering dijuluki sersan besi, Casilla menegaskan satu hal sederhana: “Anda pasti akan memeluknya.”
Perspektif dan Kritik terhadap Pintus
Namun, cerita tentang Pintus tak selalu penuh pujian. Beberapa sumber di ruang ganti Madrid dulu mengaku tak sepenuhnya memahami hype seputar metodenya. Bagi mereka, apa yang dilakukan Pintus terasa sangat analitis dan berbasis atletik, bukan sebuah “sihir”. Tapi justru di situlah kekuatannya: data yang terukur memberi pemain rasa aman dan kepercayaan diri.
Casilla pun mengingat bahwa ketika hasil tak sesuai harapan, kritik terhadap Pintus selalu muncul kembali. Pola itu terasa familiar, termasuk sekarang.
Pengondisian fisik modern memang terus berevolusi dan kini banyak terintegrasi dengan latihan taktik, seperti yang sempat diterapkan Xabi Alonso. Namun, kehadiran Pintus tetap memberi efek tersendiri.
Bagi Iván Díaz, mantan pelatih fisik Atlético Madrid yang kini bekerja di Arab Saudi, pengaruh Pintus “secara psikologis memperkuat kepemimpinan” dan menawarkan “metode yang telah berhasil diterapkan oleh pelatih-pelatih hebat dan juga didukung oleh teknologi mutakhir.” Efeknya bisa jadi motivasi, bisa juga semacam plasebo tetapi dampaknya nyata.
Kesimpulan
Pada akhirnya, Real Madrid versi Arbeloa tak bisa dipisahkan dari Antonio Pintus. Lebih dari sebelumnya, kesuksesan musim ini sangat bergantung pada pria Italia tersebut. Ia adalah sosok yang diinginkan presiden, dipercaya pelatih, dan diandalkan tim. Menyelamatkan musim ini, besar kemungkinan, dimulai dari kakinya dan stopwatch di tangannya.



