JAKARTA, Indonesiadiscover.com
– Perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) bukan lagi isu masa depan. AI sudah nyata mengubah cara dunia bekerja, termasuk peta karier global. World Economic Forum bahkan memproyeksikan sekitar 85 juta pekerjaan akan tergantikan oleh AI pada 2025. Namun di saat yang sama, peluang baru justru bermunculan bagi mereka yang siap beradaptasi.
Pertanyaannya kini bukan lagi soal apakah AI akan mengubah pasar kerja, karena jawabannya sudah jelas. Tantangan sesungguhnya adalah jurusan kuliah apa yang mampu membuat lulusan berkolaborasi dengan AI, bukan tersingkir olehnya.
Mengacu pada analisis tren industri, proyeksi gaji, serta data ketenagakerjaan global, setidaknya ada enam bidang studi yang dinilai paling relevan untuk menghadapi ekonomi berbasis kecerdasan buatan. Bidang-bidang ini memadukan keunggulan manusia dengan literasi teknologi.
Human-Computer Interaction (HCI)
Human-Computer Interaction (HCI) menggabungkan psikologi, ilmu komputer, dan desain untuk menciptakan teknologi yang ramah pengguna. College Factual mencatat, pertumbuhan karier di bidang HCI diperkirakan mencapai 9,3 persen (2016–2026). Sementara itu, Biro Statistik Tenaga Kerja AS (US BLS) memprediksi pekerjaan di sektor IT tumbuh 13 persen, dengan ilmuwan riset komputer meningkat hingga 16 persen. Proyeksi terbaru bahkan menunjukkan tren ini berlanjut hingga 2033.
Meski AI mampu menganalisis data pengguna, ia tetap tak bisa merasakan frustrasi atau kepuasan emosional manusia. Di sinilah peran profesional HCI menjadi krusial, seiring meningkatnya fokus perusahaan pada human-centered design.
Prospek karier:
UX researcher
Product designer
Human factors engineer
Accessibility specialist
Ilmu Kognitif
Ilmu kognitif berada di persimpangan psikologi, neurosains, ilmu komputer, dan filsafat. Jurusan ini membekali mahasiswa dengan pemahaman mendalam tentang cara manusia berpikir dan memproses informasi, fondasi penting dalam pengembangan AI.
Keunggulan utamanya adalah fleksibilitas karier. Lulusan ilmu kognitif banyak dibutuhkan untuk peran-peran baru yang tidak sepenuhnya bisa diotomatisasi.
Prospek karier:
AI ethics specialist
Cognitive analytics
User researcher
Human factors consultant
Ilmu Komunikasi
Di tengah banjir konten buatan AI, komunikasi manusia justru makin bernilai. Mahasiswa ilmu komunikasi dilatih membaca konteks sosial, membangun kepercayaan, mengelola konflik, dan memengaruhi audiens, kemampuan yang sulit ditiru mesin.
Kuncinya adalah literasi digital. Lulusan komunikasi yang memahami analisis data, algoritma media sosial, dan strategi konten berpeluang besar menempati posisi strategis dengan gaji kompetitif.
Prospek karier:
Brand strategist
Crisis communication manager
Digital marketing director
Organizational development specialist
Kesehatan Masyarakat
Sektor kesehatan tetap menjadi pilar ekonomi global. Pada 2025, bidang kesehatan masuk kategori pekerjaan dengan gaji tertinggi, karena menggabungkan analisis data dan keputusan berbasis kemanusiaan.
AI memang membantu pelacakan penyakit dan pemodelan prediktif, tetapi keputusan akhir tetap membutuhkan pemahaman sosial, budaya, dan etika. Di Amerika Serikat, misalnya, perawat anestesi bisa memperoleh penghasilan hingga 200 ribu dolar AS per tahun.
Prospek karier:
Epidemiolog
Analis kebijakan kesehatan
Koordinator kesehatan global
Ahli biostatistik
Kewirausahaan
Di saat AI bekerja berdasarkan pola, kewirausahaan melatih mahasiswa melihat peluang yang tak terbaca algoritma. Jurusan ini mengasah adaptabilitas, kreativitas, dan keberanian mengambil risiko.
Wirausahawan yang bertahan di era AI adalah mereka yang memahami keterbatasan teknologi sekaligus mampu menawarkan solusi berbasis empati dan inovasi.
Prospek karier:
Pendiri startup
Analis modal
Konsultan inovasi
Business developer
Teknologi Pendidikan
Transformasi besar juga terjadi di dunia pendidikan. Permintaan tenaga pendidik yang mampu mengintegrasikan metode konvensional dan digital terus meningkat, terutama di bidang STEM.
AI dapat mempersonalisasi pembelajaran, tetapi peran guru sebagai pembimbing dan motivator tidak tergantikan. Selain itu, kebutuhan akan perancang sistem pembelajaran semakin besar.
Prospek karier:
Learning experience designer
Educational technology coordinator
Curriculum developer
Corporate trainer
Kampus di Indonesia yang Menyediakan Jurusan Terkait AI
Berikut sejumlah perguruan tinggi di Indonesia yang sudah membuka jurusan atau fakultas terkait kecerdasan buatan:
- Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) – Rekayasa Kecerdasan AI (S1)
- Universitas Bina Nusantara – Artificial Intelligence (S1)
- Universitas Airlangga – Teknik Robotika dan Kecerdasan Buatan (S1)
- Universitas Gadjah Mada – Kecerdasan Artificial (S2)
- Universitas Syiah Kuala – Kecerdasan Buatan (S2)
- Universitas Sumatera Utara – Sains dan Kecerdasan Buatan (S2)
- Universitas Pelita Harapan – Faculty of Artificial Intelligence (FAI)



