
IndonesiaDiscover.com.CO.ID, JAKARTA — Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) mencatat sejumlah capaian dalam transformasi tata kelola olahraga, peningkatan prestasi atlet, dan pembangunan karakter generasi muda selama dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Salah satu langkah yang ditempuh adalah menyederhanakan 191 Peraturan Menteri Pemuda dan Olahraga (Permenpora) menjadi hanya empat regulasi.
Di bawah kepemimpinan Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Erick Thohir, penyederhanaan regulasi dilakukan untuk memangkas birokrasi, memperkuat koordinasi pemerintah pusat dan daerah, serta memperluas keterlibatan sektor swasta dalam pengembangan olahraga nasional.
Jumlah pasal dalam regulasi tersebut juga dipangkas sekitar 60 persen, dari 1.500 menjadi sekitar 600 pasal. Empat regulasi yang dipertahankan mencakup pelayanan kepemudaan, pembudayaan olahraga, pembinaan olahraga prestasi, dan industri olahraga.
Menurut Erick, langkah tersebut bukan sekadar memangkas aturan. Melainkan mengubah cara pemerintah bekerja agar lebih efektif dan mampu membangun ekosistem olahraga yang berkelanjutan.
“Sejalan dengan arahan Bapak Presiden Prabowo, kita ingin birokrasi menjadi penggerak, bukan penghambat. Dari 191 peraturan menjadi empat, ini bukan sekadar memangkas aturan, tetapi mengubah cara pemerintah bekerja,” kata Erick dalam keterangan resmi Kemenpora, dikutip Rabu (21/10/2026).
Erick menegaskan, olahraga tidak seharusnya hanya bergantung pada anggaran pemerintah. Menurut dia, olahraga juga perlu dikembangkan sebagai kekuatan ekonomi nasional melalui industri olahraga dan wisata olahraga yang berpotensi menciptakan lapangan kerja.
Transformasi tata kelola tersebut berjalan beriringan dengan pencapaian atlet Indonesia di berbagai ajang internasional. Pada SEA Games Thailand 2025, Indonesia menempati peringkat kedua dengan raihan 91 medali emas, 111 perak, dan 131 perunggu.
Capaian itu menjadi catatan penting karena Indonesia kembali menempati peringkat kedua ketika tidak bertindak sebagai tuan rumah. Terakhir kali Indonesia meraih posisi tersebut dalam kondisi serupa adalah pada SEA Games Thailand 1995, atau 30 tahun sebelumnya.
Sejumlah atlet juga menorehkan rekor. Lifter Rizki Juniansyah memecahkan dua rekor dunia angkat besi kelas 79 kilogram melalui angkatan clean and jerk seberat 205 kilogram dan total angkatan 365 kilogram. Sementara itu, atlet atletik Diva Renata Jayadi mencatatkan rekor SEA Games sekaligus rekor nasional melalui lompatan galah setinggi 4,35 meter.
Prestasi Indonesia berlanjut pada ASEAN Para Games Thailand 2025 yang berlangsung pada Januari 2026. Kontingen Merah Putih menempati peringkat kedua dengan raihan 135 medali emas dari total 393 medali.
Dalam ajang tersebut, sejumlah atlet juga membukukan rekor baru, di antaranya Taufik Abdul Karim pada nomor lari 100 meter dan 200 meter T11 serta Harsanto Mutiara Cantik pada nomor renang 100 meter gaya dada SB9.
Di cabang sepak bola, Indonesia mencatatkan keberhasilan sebagai tuan rumah sekaligus meraih prestasi. Indonesia dipercaya menyelenggarakan FIFA ASEAN Cup 2026 untuk pertama kalinya, dengan pertandingan berlangsung di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Jakarta, dan Stadion Si Jalak Harupat, Bandung.
Timnas Indonesia kemudian melengkapi pencapaian tersebut dengan menjuarai turnamen setelah mengalahkan Thailand melalui adu penalti pada partai final di SUGBK, Jakarta, 5 Oktober 2026. Keberhasilan itu menjadi salah satu catatan penting dalam perjalanan sepak bola nasional.
Capaian positif juga terlihat pada Asian Games Aichi-Nagoya 2026. Indonesia melampaui target empat medali emas dengan membawa pulang lima emas, 11 perak, dan 23 perunggu.
Lima medali emas tersebut dipersembahkan melalui cabang olahraga bulu tangkis, angkat besi, panjat tebing, dan panahan, yang juga dipertandingkan di Olimpiade.
Selain meraih medali, atlet Indonesia mencatatkan sembilan rekor dunia, Asia, dan Asian Games. Lifter Rahmat Erwin Abdullah membukukan enam catatan rekor melalui dua jenis angkatan. Sementara itu, cabang panjat tebing menyumbangkan tiga rekor melalui Desak Made Rita Kusuma Dewi dan Aditya Tri Syahri.
Cabang panahan juga mencatatkan sejarah melalui Nurisa Dian Ashrifah yang mempersembahkan medali emas pertama Indonesia sepanjang keikutsertaan di Asian Games.
“Prestasi ini menunjukkan bahwa ketika pembinaan dilakukan dengan fokus, target yang terukur, dan kolaborasi yang kuat, atlet kita mampu bersaing dan menciptakan sejarah. Kita tidak ingin keberhasilan hanya datang sesekali,” ujar Erick.
Ia menambahkan, prestasi olahraga harus dibangun melalui sistem yang konsisten, mulai dari pembibitan, pembinaan, hingga kompetisi internasional. Dengan demikian, capaian di berbagai kejuaraan dapat menjadi fondasi untuk meraih hasil lebih tinggi, termasuk di Olimpiade.
Selain olahraga, Kemenpora juga menyiapkan transformasi kebijakan kepemudaan menjelang peringatan 100 tahun Sumpah Pemuda pada 2028. Langkah tersebut mencakup penyusunan cetak biru kepemudaan nasional dan Desain Besar Karakter Pemuda Indonesia.
Kebijakan pembangunan karakter itu bertumpu pada tiga nilai utama, yakni patriotik, gigih, dan empatik. Ketiganya diharapkan menjadi fondasi pembentukan generasi muda yang memiliki kecintaan terhadap bangsa, tangguh menghadapi perubahan dan persaingan global, serta mempunyai kepedulian sosial.
Kemenpora juga mendorong kerja sama lintas kementerian, pemerintah daerah, organisasi kepemudaan, dan sektor industri agar pembangunan karakter pemuda menjadi gerakan nasional yang berkelanjutan, bukan sekadar program seremonial.
“Menjelang 100 tahun Sumpah Pemuda, tantangan kita bukan hanya bagaimana mengenang sejarah para pemuda yang mempersatukan bangsa, tetapi bagaimana menyiapkan generasi yang mampu menentukan masa depan Indonesia,” kata Erick.
Ia menilai Indonesia membutuhkan generasi muda yang tidak hanya bangga menjadi bagian dari bangsa, tetapi juga memiliki kemampuan, keberanian, dan kepedulian untuk mendorong kemajuan negara.
Erick menegaskan, seluruh langkah transformasi tersebut merupakan bagian dari komitmen Kemenpora untuk mendukung visi Presiden Prabowo dalam membangun sumber daya manusia unggul, memperkuat daya saing bangsa, serta menjadikan olahraga dan kepemudaan sebagai investasi jangka panjang.
“Dua tahun ini adalah bagian dari perjalanan transformasi. Kita sudah melihat hasilnya, tetapi pekerjaan kita belum selesai. Ukuran keberhasilan bukan hanya berapa medali yang kita menangkan hari ini, melainkan seberapa kuat sistem yang kita bangun agar Indonesia terus melahirkan juara dan generasi muda yang mampu membawa bangsa ini maju,” ujar Erick.



