Ringkasan Berita:
- Keluarga cemas menunggu kabar keberadaan penumpang KM Virgo Transport 8
- 103 penumpang kapal KM Virgo Transport 8 sudah berhasil dievakuasi
- Proses pencarian dan evakuasi yang dilakukan Tim SAR saat ini masih terkendala kondisi cuaca
Indonesiadiscover.com, JAKARTA – Arif (48), keluarga korban KM Virgo Transport 8 yang hilang kontak di Laut Jawa, masih menunggu kabar keberadaan ayah dan anaknya.
Ia terlihat duduk dengan wajah datar di samping posko Basarnas Pelabuhan Trisakti, Kota Banjarmasin, Provinsi Kalimantan Selatan, Minggu (13/9/2026) siang.
Ia datang sekira pukul 11.00 WITA setelah mendapat kabar dari keponakannya bila kapal yang ditumpangi ayah dan anaknya hilang kontak pada Minggu dini hari.
Berdasarkan kabar yang ia dengar, kapal Virgo Transport 8 tenggelam akibat gelombang besar saat perjalanan dari Pelabuhan di Surabaya, Jawa Timur menuju Banjarmasin, Kalimantan Selatan.
“Ada kabar kalau kapal baru itu tenggelam gitu, kena gelombang. Kabar yang diterima pukul 03.00 dini hari. Tenggelamnya itu katanya ada gelombang besar,” ucap Arif dikutip dari Banjarmasin.co.id.
Saat ini Arif bersama sejumlah keluarga korban lainnya memilih bertahan di pelabuhan.
Ia duduk menanti dengan penuh kecemasan, berharap kabar baik datang dari tim SAR terkait keberadaan keluarganya.
“Kabarnya dua kapal menuju ke mari. Saya tunggu sampai ketemu. Semoga semuanya selamat itu yang saya harap,” ucap Arif.
Kecemasan pun menyelimuti, Likasa, pria asal Sumenep, Madura, Jawa Timur.
Ia sejak pagi menunggu kabar keberadaan istrinya, Sutilah yang menjadi penumpang KM Virgo Transport 8.
Sekitar pukul 13.07 WITA, Likasa masih berada tak jauh dari posko koordinasi pencarian dan evakuasi KM Virgo di Pelabuhan Trisakti Banjarmasin.
Mengenakan kaos oblong berwarna cokelat, ia beberapa kali mondar-mandir di sekitar posko.
Sesekali tangannya merogoh saku celana, mengambil telepon seluler, lalu memeriksa notifikasi yang masuk.
Ia mengetahui kapal KM Virgo Transport 8 mengalami musibah pada Minggu pagi sekira pukul 08.00 WITA setelah teleponnya terhadap istri tak kunjung tersambung.
Karena merasa khawatir, Likasa langsung berangkat dari Banjarbaru menuju Pelabuhan Trisakti Banjarmasin.
Padahal, sebelumnya ia hanya berencana menunggu kedatangan istrinya di Banjarbaru.
“Kan biasanya kalau sudah sampai di daerah pesisir sudah ada sinyal. Akhirnya dapat info kalau kapal yang ditumpangi istri saya ini hilang kontak,” kata Likasa.
Menurut dia, terakhir komunikasi dirinya dengan sang istri dilakukan pada Sabtu (12/9/2026) pagi sekira pukul 09.00.
Istrinya berangkat dari Sumenep menuju Banjarmasin bersama tiga orang tetangganya untuk menyusul Likasa ke Banjarbaru bekerja sebagai penjaga warung.
Semula, Likasa memperkirakan istrinya akan tiba di Banjarmasin pada Minggu pagi.
Informasi yang ia terima, kapal dijadwalkan bersandar sekitar pukul 07.00 WITA.
“Kan biasanya kalau sudah sampai di daerah pesisir sudah ada sinyal. Akhirnya dapat info kalau kapal yang ditumpangi istri saya ini hilang kontak,” katanya.
Hingga siang itu, belum ada informasi yang diterimanya mengenai keberadaan Sutilah.
Karena itu, ia memilih tetap berada di sekitar posko koordinasi.
“Makanya dari tadi saya mondar-mandir aja di posko koordinasi ini,” ucapnya.
Kecemasan juga dirasakan anaknya yang berada di Sumenep, Jawa Timur.
Likasa mengatakan, anaknya terus menunggu kabar mengenai kondisi ibunya.
“Anak saya di Sumenep sana juga nangis-nangis nunggu kabar ibunya,” katanya.
Likasa masih menyimpan harapan agar Sutilah segera ditemukan dalam kondisi selamat.
“Masih harap-harap cemas, semoga dapat dan selamat,” ucapnya.
103 Orang Dievakuasi
Sementara itu, hingga pukul 12.00 WITA, Tim SAR gabungan berhasil mengevakuasi 103 penumpang kapal KM Virgo Transport 8.
“Total penumpang yang terevakuasi berjumlah 103 orang,” ujar Kepala Kantor Basarnas Banjarmasin I Putu Sudayana dalam keterangan pers, Minggu siang.
Penumpang selamat tersebut dievakuasi tiga kapal yakni TB Mahau 9 mengevakuasi 16 orang, dengan rincian 15 orang dilaporkan selamat, sementara satu orang dinyatakan meninggal dunia.
Kemudian, kapal TB TCP mengevakuasi 38 orang dan seluruhnya dilaporkan selamat.
Sementara MV Hai Da mengevakuasi 49 orang, juga dalam kondisi selamat.
I Putu mengatakan, 16 penumpang yang dievakuasi TB Mahau 9 dibawa menuju Pelabuhan Tuban.
Sedangkan penumpang yang dievakuasi TB TCP dan MV Hai Da direncanakan dibawa menuju Pelabuhan Trisakti Banjarmasin.
I Putu mengatakan jumlah penumpang yang menjadi acuan sementara dalam operasi SAR mencapai 243 orang.
Dengan 103 orang telah berhasil dievakuasi, total ada 140 orang lainnya yang masih dalam pencarian.
Pencarian Terkendala Cuaca
Proses pencarian dan evakuasi yang dilakukan Tim SAR saat ini masih terkendala kondisi cuaca.
Tinggi gelombang di lokasi dilaporkan mencapai 2 hingga 2,5 meter.
“Kondisi di lapangan, tinggi gelombang antara 2 sampai 2,5 meter. Sangat berisiko dan riskan untuk kapal-kapal evakuasi,” katanya.
Untuk mengantisipasi kondisi tersebut, tim SAR akan memprioritaskan kapal berukuran lebih besar dalam melakukan pencarian di lokasi kejadian.
Selain sejumlah kapal, Basarnas juga mengerahkan satu helikopter dari Surabaya untuk membantu pencarian dari udara.
Basarnas juga belum dapat memastikan kapan seluruh proses evakuasi akan selesai karena kondisi gelombang masih cukup tinggi.
Menurut I Putu, seluruh unsur SAR yang terlibat masih berupaya maksimal melakukan pencarian dan pertolongan terhadap penumpang KM Virgo.
Kronologi Kecelakaan
Peristiwa bermula saat Kapal Virgo Transport 8 berangkat dari Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, Jawa Timur pada Sabtu (12/9/2026) sekitar pukul 10.13 WIB menuju Pelabuhan Trisakti, Banjarmasin, Kalimantan Selatan.
Kapal diketahui mengangkut 243 penumpang dan 89 unit kendaraan.
Selanjutnya, pada pukul 01.00 WIB, Kapal Virgo Transport 8 melaporkan menghadapi cuaca buruk dan tak lama mengalami hilang kontak.
Kapal diduga mengalami kemiringan hingga kehilangan kontak di sekitar perairan Masalembo, Laut Jawa sekitar pukul 02.00.
Kemudian pada pukul 04.10 WIB, GM Virgo Transport 8 melaporkan kejadian tersebut ke Kantor SAR Banjarmasin untuk mendapatkan bantuan pencarian dan pertolongan.
Pukul 04.30 WIB, Kantor SAR Banjarmasin memberangkatkan 1 tim menuju Dermaga SAR Basirih dan berangkat menuju titik terakhir kapal yang diketahui menggunakan KN SAR Laksmana 241 dengan estimasi 5 jam perjalanan.
Tim SAR gabungan terus melaksanakan pencarian secara intensif dengan memperluas area pencarian di sekitar lokasi kejadian.
Operasi dilakukan secara terpadu dengan melibatkan unsur TNI AL, instansi terkait, serta potensi SAR lainnya.
Ia mengatakan seluruh upaya terbaik terus dilakukan untuk menemukan korban yang masih belum ditemukan.
“Kami mengoptimalkan seluruh sumber daya yang ada dalam operasi ini. Keselamatan korban menjadi prioritas utama dalam setiap pelaksanaan operasi SAR,” kata I I Putu Sudayana.
(Indonesiadiscover.com/ Gita/ Banjarmasinpost.co.id/ Rifki Soelaiman/ Saifurrahman/ Mariana)



