Peristiwa Perekaman Video Budi Arie Setiadi dalam Forum Projo
Sekretaris Jenderal Pro Jokowi (Projo), Freddy Alex Damanik, mengungkapkan bahwa pihaknya telah memberikan sanksi kepada relawan yang menyebarluaskan video pernyataan Ketua Umum Projo, Budi Arie Setiadi, terkait potensi percepatan Pemilu 2029. Menurut Freddy, video tersebut sebenarnya dimaksudkan sebagai dokumentasi internal Projo.
Freddy juga mengaku bahwa dirinya sendiri yang merekam saat Budi Arie berbicara dalam forum silaturahmi internal Projo yang diadakan pada Senin (24/8/2026) di Jakarta. Acara ini turut dihadiri oleh Presiden ke-7 RI, Joko Widodo (Jokowi). Namun, ia menegaskan bahwa perekaman dilakukan hanya untuk keperluan dokumentasi internal Projo dan bukan untuk tujuan publik.
“Tujuan saya melakukannya (merekam Budi Arie) sebagai Sekjen Projo juga untuk dokumentasi internal,” ujar Freddy. Ia menyayangkan adanya relawan yang membagikan video tersebut ke publik, sehingga menimbulkan spekulasi dan penafsiran yang tidak sesuai dengan maksud awal.
Aturan Perekaman dalam Forum Internal Projo
Freddy menjelaskan aturan perekaman dalam forum internal Projo. Ia menegaskan bahwa relawan hanya diperbolehkan merekam ketika sesama relawan Projo menyampaikan pendapatnya. Namun, ketika Jokowi berbicara, maka relawan dilarang untuk merekam.
“Sebetulnya yang saya pahami yang tidak boleh itu merekam Pak Jokowi ketika berbicara. Kalau merekam sesama relawan ketika berbicara, hanya untuk dokumentasi internal setau saya ada yang beberapa yang melakukannya,” jelasnya.
Namun, dalam kasus ini, video yang direkam oleh Freddy justru disebar luas oleh anggota Projo, sehingga menimbulkan reaksi dari berbagai pihak.
Tanggapan Budi Arie Setiadi
Budi Arie Setiadi mengungkapkan bahwa sosok yang merekam pernyataannya adalah Freddy. Meskipun demikian, ia menegaskan bahwa dirinya tidak pernah memerintahkan Freddy untuk merekamnya.
“Saya nggak pernah punya rencana untuk memviralkan. Memerintahkan Freddy untuk merekam saya bicara juga nggak,” katanya dalam wawancara di program Gaspol di YouTube Kompas.com, Kamis (27/8/2026).
Ia juga menyatakan bahwa pernyataannya tersebut bukanlah sikap resmi dari Projo, melainkan analisis pribadinya. “Pernyataan dan analisa tersebut merupakan pernyataan dan analisa pribadi saya. Lalu pernyataan tersebut tidak ada hubungan dan mengkaitnya dengan Bapak Joko Widodo,” tegasnya.
Permintaan Maaf dan Konsekuensi
Budi Arie meminta maaf atas pernyataannya yang menimbulkan spekulasi dan membuat pihak tertentu merasa tidak nyaman. Ia menyatakan bahwa pernyataannya tersebut tidak bertujuan untuk menciptakan kekacauan atau menimbulkan kesalahpahaman.
“Sehubungan dengan viralnya pernyataan dan analisa saya dalam sebuah pertemuan di Jakarta baru-baru ini, yang menimbulkan spekulasi dan berbagai salah penafsiran, saya Budi Arie Setiadi memohon maaf bagi pihak-pihak yang kurang berkenan dan nyaman dengan pernyataan saya tersebut,” ujarnya dalam sebuah video.
Ia juga mengungkapkan bahwa dirinya siap menerima konsekuensi apapun yang muncul dari pernyataannya tersebut.
Konteks Pernyataan Budi Arie
Dalam forum Bulan Kemerdekaan RI yang digelar di Jakarta, Budi Arie mengajak para relawan untuk tidak terpaku pada skenario politik konvensional menuju Pemilu 2029. Dengan nada serius, ia menyampaikan insting politiknya tentang kemungkinan adanya percepatan pemilu.
“Saya ingin sampaikan, tadi saya udah bisik ke Pak Jokowi, ‘Pak, kok insting saya ini lebih cepat dari 2029?’. Apakah kita mau? Belum tentu kita mau. Kita masih ngomong ke Pemilu 2029. Kalau terjadi percepatan gimana? Kita siap, enggak?” ucap Budi Arie yang langsung dijawab seruan “Siap!” dari audiens.
Lebih lanjut, Budi Arie mendeskripsikan kondisi masyarakat saat ini sebagai sebuah anomali. Ia membandingkan dinamika sosial dan ekonomi saat ini dengan patahan sejarah pada masa transisi Orde Baru ke Reformasi tahun 1997-1999.
“Ini terjadi yang namanya kalau menurut pendapat saya terjadi yang namanya patahan sejarah, bagaimana tahun 97 itu tiba-tiba pemilu berikutnya 99. Dan potensi ini bukan tak ada, sangat besar dengan keresahan masyarakat dan kondisi ekonomi saat ini yang betul-betul tidak membuat masyarakat happy,” ucap mantan Menteri Koperasi tersebut.



