Close Menu
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Facebook X (Twitter) Instagram
Sabtu, 29 Agustus 2026
Trending
  • Menikmati Senja Pantai Padang dengan Sepeda, Tren Wisata Murah yang Disukai Warga
  • 10 Gaya Kiyowo Modern untuk Tampil Modis
  • Penggabungan MTEL-TBIG kembali jadi sorotan, siapa untung?
  • Tiga mobil mesin diesel diamankan polisi, diduga terkait mafia solar di Bitung
  • 5 Fakta Menarik Istana Tajhat, Warisan Megah Zamindar Bangladesh
  • Paket Sacred Octagon Telkomsel, membuat belajar matematika lebih menyenangkan
  • Demo 27 Agustus, Chaniago Pastikan Tidak Ada Penyekatan Massa
  • Terjemahan Lirik Lagu Set Fire to the Rain – Adele: Sisi Tersembunyi yang Tak Pernah Kuketahui
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok Threads RSS
Indonesia Discover
Login
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Indonesia Discover
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
  • Olahraga
  • Login
Home»Nasional»Ekonomi»Penggabungan MTEL-TBIG kembali jadi sorotan, siapa untung?
Ekonomi

Penggabungan MTEL-TBIG kembali jadi sorotan, siapa untung?

admin_indonesiadiscoverBy admin_indonesiadiscover29 Agustus 2026Tidak ada komentar4 Mins Read
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
Share
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link

Indonesiadiscover.com.CO.ID – JAKARTA. Isu penggabungan PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (MTEL) dengan PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG) kembali muncul. Jika terwujud, konsolidasi ini berpotensi mengubah pola persaingan di industri menara telekomunikasi nasional.

Diskusi mengenai penggabungan MTEL dan TBIG kembali memicu pembahasan tentang konsolidasi yang sebenarnya sudah muncul sejak 2014, ketika TBIG pernah mencoba memperoleh MTEL dari Telkom melalui mekanisme pertukaran saham.

Lebih dari sepuluh tahun kemudian, isu tersebut kembali muncul setelah Bloomberg melaporkan adanya pembicaraan mengenai penggabungan perusahaan pada Juli 2025, dengan berbagai spekulasi muncul kembali pada Agustus 2026.

Jika terwujud, penggabungan ini diperkirakan akan membentuk sebuah entitas yang memiliki sekitar 65.800 menara dan 106.100 penyewa. Ukuran yang demikian berpotensi membuat entitas gabungan tersebut menjadi pemain terbesar di industri menara Indonesia.

Analis riset Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Daniel Aditya Widjaja, mengatakan bahwa struktur transaksi akan menjadi salah satu aspek penting dalam menentukan posisi Telkom pada entitas hasil penggabungan tersebut.

Menurut Daniel, MTEL memiliki kemungkinan menjadi entitas yang dapat bertahan atausurviving entitymengingat statusnya sebagai perusahaan milik negara serta keterkaitannya dengan Danantara. Telkom kemungkinan besar akan tetap mempertahankan kendali mayoritas.

“Sebagai perusahaan BUMN dengan kaitan erat dengan Danantara, kami memprediksi MTEL akan menjadi entitas yang bertahan, sehingga Telkom tetap menjaga kendali mayoritas,” tulisnya dalam laporan riset yang diterbitkan, Kamis (27/8).

Saat ini, Telkom memiliki sekitar 71,8% saham MTEL. Menurut perhitungan Mirae Asset, mempertahankan kepemilikan mayoritas melalui skema transaksi berbasis saham memerlukan harga MTEL paling rendah Rp 964 per saham.

Selain skema tersebut, Daniel menemukan alternatif berupa pemberian dana tunai melaluiplacementsaham milik Telkom atau Danantara. Dalam skenario ini, sekitar 42,3 miliar saham baru berpotensi dieluarkan.

Dana yang dikumpulkan melalui penerbitan saham diperkirakan mencapai Rp 18,6 triliun berdasarkan harga saham saat ini. Skema ini bisa menjadi pilihan untuk mempertahankan kendali tanpa sepenuhnya bergantung pada pertukaran saham.

Di sisi lain, pengaruh penggabungan terhadap sektor industri diperkirakan sangat signifikan.Head of ResearchKISI Muhammad Wafi menganggap konsolidasi tersebut berpeluang mengubah struktur pasar dan dinamika persaingan secara signifikan.

“Jika terwujud, entitas bersama akan mengelola 65.800 menara dan 106.100 penyewa, sehingga struktur pasar serta dinamika persaingan industri menara akan mengalami perubahan yang cukup besar,” katanya kepada Indonesiadiscover.com, Jumat (28/8).

Wafi mengatakan kehadiran entitas berskala besar ini juga akan meningkatkan tekanan persaingan terhadap PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR) serta pemain menara lainnya.

Namun, Wafi menganggap konsolidasi MTEL-TBIG bukanlah perubahan yang sepenuhnya mendadak. Hal ini karena hubungan bisnis antara kedua ekosistem tersebut telah berkembang secara alami sebelum terjadi pembicaraan mengenai penggabungan.

Wafi mencatat peningkatan kontribusi TBIG dari ekosistem Telkom dari 33% menjadi 63% dalam jangka satu tahun. Keadaan ini menunjukkan adanya hubungan bisnis yang semakin kuat sebelum dilakukannya penggabungan perusahaan secara resmi.

Oleh karena itu, Wafi melihat penggabungan MTEL dan TBIG lebih sebagai perkembangan alami dari industri daripada perubahan strategi yang terjadi secara tiba-tiba ataudramatic pivot.

Peluang kerja sama kali ini dianggap lebih terbuka dibandingkan upaya penggabungan sebelumnya. Namun, Wafi menekankan bahwa diskusi masih berada pada tahap awal dan belum ada konfirmasi resmi dari pihak yang terkait.

“Kemungkinan merger kali ini terlihat lebih kuat dibandingkan upaya yang gagal pada 2015, namun prosesnya masih dalam tahap awal dan belum ada pengumuman resmi,” katanya.

Di sisi lain, Aqil Triyadi, Research Analyst Panin Sekuritas, memandang penggabungan MTEL dan TBIG berpotensi membawa dampak positif terhadap sektor melalui persaingan yang lebih sehat di masa depan.

Menurutnya, sektor menara telah memasuki tahap berkembang pesat sehingga pertumbuhan jumlah menara serta penyewa cenderung lebih stabil dibandingkan masa sebelumnya.

“Jika MTEL dan TBIG menyatu, entitas hasil penggabungan akan menjadi pemain menara terbesar, sehingga persaingan industri kemungkinan akan menjadi lebih ringan di masa depan,” ujar Aqil.

Aqil juga melihat kesempatan penggabungan bisnis cukup terbuka karena pertumbuhan organik industri menara saat ini cenderung stabil. Pertumbuhan tidak organik melalui penggabungan bisa membuat perusahaan lebih menarik.

Selain faktor industri, penggabungan MTEL-TBIG dianggap sesuai dengan langkah Telkom dalam menyederhanakan struktur dan memaksimalkan portofolio bisnis melalui strategi Telkom30.

Menurut Aqil, langkah tersebut dapat membantu Telkom lebih berkonsentrasi pada bisnis utamanya serta meningkatkan portofolio aset yang dimilikinya melalui tindakan korporasi yang strategis.

“Rencana penggabungan ini sesuai dengan strategi penyederhanaan Telkom, karena Telkom saat ini berupaya lebih fokus pada bisnis utama dan melakukan peningkatan kinerja terhadap portofolio yang dimiliki,” ujar Aqil.

Share. Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
admin_indonesiadiscover
  • Website

Berita Terkait

BATIC 2026: Awal Baru Transformasi Digital Asia Pasifik

29 Agustus 2026

Cek Rekomendasi Saham Emiten Komoditas Setelah DSI Jelas

29 Agustus 2026

Demo 27 Agustus 2026: Jalan yang Harus Dihindari

28 Agustus 2026
Leave A Reply Cancel Reply

Berita Terbaru

Menikmati Senja Pantai Padang dengan Sepeda, Tren Wisata Murah yang Disukai Warga

29 Agustus 2026

10 Gaya Kiyowo Modern untuk Tampil Modis

29 Agustus 2026

Penggabungan MTEL-TBIG kembali jadi sorotan, siapa untung?

29 Agustus 2026

Tiga mobil mesin diesel diamankan polisi, diduga terkait mafia solar di Bitung

29 Agustus 2026
© 2026 IndonesiaDiscover. Designed by Indonesiadiscover.com.
  • Home
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • PT. Indonesia Discover Multimedia
  • Indeks Berita

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

Sign In or Register

Welcome Back!

Login to your account below.

Lost password?