Close Menu
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Facebook X (Twitter) Instagram
Kamis, 1 Oktober 2026
Trending
  • Sahabat Jadi Selingkuhan, Pasangan Sendiri Dikhianati!
  • Prediksi superkomputer terkait klasemen akhir fase awal Liga Champions 2026/2027
  • 6 strategi memanfaatkan waktu yang terbuang untuk meningkatkan karier menurut psikologi
  • PSM Makassar vs Arema FC di Super League 2026/2027: Head to head, prediksi skor, daftar pemain
  • PSM Makassar vs Arema FC di Super League 2026/2027: Head to head, prediksi skor, daftar pemain
  • 5 zodiak dengan ramalan keuangan paling cerah September 2026, karier hingga relasi jadi kuncinya!
  • 6 alasan mengapa media sosial membuat anak-anak yang mulai remaja merasa menderita menurut psikologi
  • Nilai pasaran tembus Rp 163 miliar! Persija Jakarta belum puas dan masih buru pemain baru
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok Threads RSS
Indonesia Discover
Login
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Indonesia Discover
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
  • Olahraga
  • Login
Home»Ragam»Teknologi»Prancis tinggalkan Palantir, percepat kemandirian AI di intelijen
Teknologi

Prancis tinggalkan Palantir, percepat kemandirian AI di intelijen

admin_indonesiadiscoverBy admin_indonesiadiscover23 Juni 2026Tidak ada komentar3 Mins Read
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
Share
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link

Perubahan Strategis di Sektor Kecerdasan Buatan Prancis



Prancis mengambil langkah strategis dengan menghentikan penggunaan perangkat kecerdasan buatan (AI) yang disediakan oleh Palantir dan beralih ke penyedia teknologi lokal, ChapsVision. Langkah ini dilakukan sebagai bagian dari upaya memperkuat kendali nasional atas infrastruktur data sensitif di sektor intelijen. Perubahan ini juga mencerminkan dorongan lebih luas di Eropa untuk mengurangi ketergantungan pada sistem digital yang selama ini didominasi oleh perusahaan teknologi asal Amerika Serikat (AS).

Pergantian vendor teknologi ini tidak hanya sekadar perubahan biasa, tetapi menunjukkan meningkatnya ketegangan geopolitik di sektor data dan AI. Di tengah dominasi perusahaan teknologi AS yang terhubung dengan tokoh-tokoh seperti Elon Musk, Jeff Bezos, dan Mark Zuckerberg, isu kedaulatan digital kini menjadi agenda utama negara-negara Eropa yang khawatir akan kontrol eksternal atas sistem keamanan mereka.

Perdana Menteri Prancis Sébastien Lecornu menegaskan bahwa negaranya tidak bisa lagi bergantung pada teknologi asing untuk urusan sensitif negara. Ia menyatakan, “Kami harus menggunakan model AI kami sendiri; kami tidak dapat menerima ketergantungan strategis baru di ruang digital dan kami tidak bisa bergantung pada alat yang dikembangkan oleh kekuatan asing. Prancis harus memiliki alatnya sendiri.”

Penggantian Sistem Intelijen DGSI

Keputusan tersebut berdampak langsung pada badan intelijen domestik DGSI yang akan mengganti sistem Palantir dengan teknologi ChapsVision. Namun, pemerintah mengakui bahwa transisi ini tidak akan berlangsung cepat karena kontrak jangka panjang dengan Palantir baru diperbarui pada 2025, sehingga proses migrasi diperkirakan memakan waktu beberapa tahun.

Lecornu menekankan bahwa ketergantungan pada teknologi asing membawa risiko strategis jangka panjang. Menurutnya, “Prancis harus membangun kemandirian yang nyata dan tidak bergantung pada itikad baik sejumlah mitra yang sewaktu-waktu dapat menutup akses terhadap kecerdasan buatan,” sebagai peringatan terhadap potensi kontrol akses teknologi oleh pihak luar.

ChapsVision Sebagai Fondasi Baru

ChapsVision, perusahaan teknologi Prancis yang berdiri pada 2019, kini diposisikan sebagai fondasi baru sistem analitik data sektor publik. Perusahaan ini mencatat pendapatan sekitar 200 juta euro (sekitar Rp 4,106 triliun dengan kurs Rp 20.530 per euro) pada 2025, jauh di bawah Palantir yang membukukan sekitar USD 4,5 miliar (sekitar Rp 80,235 triliun dengan kurs Rp 17.830 per dolar AS), namun dianggap lebih strategis dalam konteks kedaulatan nasional.

Dalam pernyataan resminya, ChapsVision menyebut bahwa perusahaan tersebut akan menjadi “fondasi teknologi” bagi berbagai lembaga publik dalam kebutuhan pemrosesan data yang bersifat kritis. Teknologi yang dikembangkan, mencakup pengumpulan dan analisis data, juga disebut telah menarik perhatian badan keamanan dalam negeri Jerman, BfV, yang dikabarkan mulai mengadopsinya dalam skala terbatas.

Peninjauan Terhadap Palantir di Eropa

Gelombang peninjauan terhadap Palantir tidak hanya terjadi di Prancis. Jerman dilaporkan telah menghentikan penggunaan sistem perusahaan tersebut di sektor militer, sementara Inggris tengah mengevaluasi kontrak data senilai £330 juta (sekitar Rp 7,831 triliun) untuk National Health Service di tengah tekanan politik.

Di London, Wali Kota Sadiq Khan bahkan memblokir kontrak potensial senilai £50 juta (sekitar Rp 1,187 triliun) dengan Metropolitan Police, memicu respons hukum dari Palantir. Situasi ini memperlihatkan meningkatnya resistensi Eropa terhadap dominasi teknologi data asal AS dalam sektor publik.

Investasi untuk Ekosistem AI Nasional

Sejalan dengan kebijakan tersebut, pemerintah Prancis juga menyiapkan investasi €655 juta (sekitar Rp 13,44 triliun) untuk memperkuat ekosistem AI nasional, termasuk pengembangan chatbot layanan publik terpadu serta sistem kesehatan digital melalui Ameli (portal layanan asuransi kesehatan publik Prancis). Langkah ini diperkuat dengan penggunaan model dari startup lokal seperti Mistral AI untuk mendukung layanan administratif negara.

Dengan keputusan ini, Prancis tidak hanya mengganti penyedia teknologi, tetapi sedang membangun ulang arsitektur kekuasaan digitalnya sendiri. Pergeseran ini menandai babak baru dalam kompetisi global AI, di mana isu utama bukan lagi inovasi semata, tetapi siapa yang mengendalikan infrastruktur data yang menopang negara modern.

Share. Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
admin_indonesiadiscover
  • Website

Berita Terkait

Huawei Klaim Xinghe Tingkatkan Kecepatan AI 20 Persen

25 Agustus 2026

30 Soal UH IPS Kelas 9 SMP Tema 2 Ekonomi Digital Kurikulum Merdeka 2026

25 Agustus 2026

Rekomendasi laptop 2026 untuk mahasiswa, harga Rp5-10 jutaan

25 Agustus 2026
Leave A Reply Cancel Reply

Berita Terbaru

Sahabat Jadi Selingkuhan, Pasangan Sendiri Dikhianati!

27 September 2026

Prediksi superkomputer terkait klasemen akhir fase awal Liga Champions 2026/2027

16 September 2026

6 strategi memanfaatkan waktu yang terbuang untuk meningkatkan karier menurut psikologi

16 September 2026

PSM Makassar vs Arema FC di Super League 2026/2027: Head to head, prediksi skor, daftar pemain

16 September 2026
TAGS
akan Ampat Berita Bisnis Budaya Bukan dalam dan dari dengan diskon DPR Dunia Ekonomi Hiburan Horoskop Indonesia ini insiden Iran Jadi Kasus kasus kriminal Kejahatan Kesehatan Kontroversi KPK Laporan Polisi media berita Olahraga Pemerintah perbintangan perusahaan Politik Politik dan Hukum politik dan pemerintahan presiden Raja Selebriti Soal Tambang TNI untuk warga yang
© 2026 IndonesiaDiscover. Designed by Indonesiadiscover.com.
  • Home
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • PT. Indonesia Discover Multimedia
  • Indeks Berita

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

Sign In or Register

Welcome Back!

Login to your account below.

Lost password?