Kecak, Seni yang Mengalir dari Tradisi ke Dunia
Di tengah derasnya arus digitalisasi yang mengubah gaya hidup generasi muda, Maestro Tari Kecak Bali, I Ketut Rina atau yang lebih dikenal sebagai Cak Rina, menyimpan kegelisahan besar terhadap masa depan salah satu ikon budaya Pulau Dewata. Kekhawatiran itu disampaikannya saat menerima kunjungan tim Toyota dan PRMN di sanggarnya di Banjar Teges Kanginan, Peliatan, Ubud Kamis 28 Mei 2026 lalu. Kunjungan tersebut menjadi momen istimewa karena dalam waktu dekat maestro yang telah membawa Tari Kecak ke berbagai negara itu akan berangkat ke Taiwan sebagai pakar tari untuk memperkenalkan seni dan budaya Bali kepada dunia internasional.
Di usia yang telah mendedikasikan puluhan tahun hidupnya untuk seni pertunjukan, Ketut Rina melihat perubahan zaman menghadirkan tantangan baru yang tidak ringan bagi keberlangsungan Tari Kecak. “Saya akui saat ini di tengah era digitalisasi yang sangat masif, tak banyak generasi muda yang menyenangi dan mempelajari Tari Kecak. Sementara budaya termasuk Tari Kecak ini menurut saya adalah salah satu Ikon Bali yang mendunia yang butuh generasi muda untuk terus melestarikannya,” ujar Ketut Rina.
Menurutnya, generasi muda Bali memiliki tanggung jawab besar untuk menjaga warisan budaya yang telah dikenal dunia tersebut. “Saya harapkan para generasi muda harus mempertahankan dan mengembangkan Tari Kecak yang sudah terkenal di seluruh dunia. Saya bisa katakan Tari Kecak ini maskotnya Bali,” tegasnya.
Dari Desa Kecil di Ubud Menuju Panggung Dunia
Perjalanan Ketut Rina menjadi salah satu tokoh paling berpengaruh dalam perkembangan Tari Kecak berawal dari Banjar Teges Kanginan, Peliatan, Ubud. Lahir pada tahun 1966 dari keluarga petani, ia mulai mengenal dunia tari sejak usia sekitar delapan tahun. Ketertarikannya muncul ketika koreografer ternama Indonesia, Sardono W. Kusumo, datang ke desanya pada awal 1970-an untuk menggarap karya legendaris “Dongeng dari Dirah”.
Saat itu Sardono mengembangkan konsep baru Tari Kecak yang lebih teatrikal dengan melibatkan unsur kehidupan sehari-hari masyarakat Bali. Pengalaman tersebut menjadi titik balik yang membuka wawasan Ketut Rina mengenai potensi besar Tari Kecak sebagai seni pertunjukan modern tanpa meninggalkan akar tradisinya. Perjalanan internasional pertamanya dimulai pada 1974 ketika ikut dalam tur pertunjukan ke berbagai negara Eropa seperti Perancis, Swiss, Inggris, Italia, dan Jerman.
Pengalaman tersebut membuatnya menyadari bahwa Tari Kecak memiliki kekuatan luar biasa sebagai duta budaya Bali. “Sejak kecil saya melihat bagaimana Tari Kecak bisa menjadi identitas Bali di mata dunia. Dari sana saya semakin yakin bahwa budaya ini harus terus dijaga dan dikembangkan,” katanya. Perjalanan itu berlanjut dengan tampil dalam Festival Shiraz di Iran pada 1976, pentas di India pada 1978, hingga berbagai kolaborasi internasional di Asia, Amerika Serikat, Brasil, Perancis, dan Jepang.
Kini, setelah puluhan tahun berkarya, Ketut Rina kembali mendapat kepercayaan untuk menjadi dosen tamu di Taiwan, memperkenalkan filosofi, teknik, dan perkembangan Tari Kecak kepada generasi muda di luar negeri. Ironisnya, di saat dunia internasional semakin tertarik mempelajari Tari Kecak, minat generasi muda di tanah kelahirannya justru mulai berkurang.
Kecak Tidak Bisa Dipelajari Setengah Hati
Menurut Ketut Rina, Tari Kecak merupakan salah satu bentuk seni pertunjukan yang membutuhkan keseriusan tinggi. Berbeda dengan anggapan sebagian orang yang melihat Kecak hanya sebagai tarian massal dengan teriakan “cak-cak-cak”, di baliknya terdapat disiplin, konsentrasi, serta penghayatan mendalam. “Tak mudah tampil Tari Kecak, harus serius,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa selama pertunjukan berlangsung terjadi dialog antarpenari melalui ritme vokal yang harus dijaga secara konsisten. “Di dalam Kecak terjadi dialog meski hanya vokal Cak, cak, cak, cak. Harus serius dan totalitas. Dalam Kecak yang penting juga adalah totalitas gerakan, ekspresi muka, dan vokal.” Ketut Rina menilai tantangan terbesar saat ini adalah bagaimana membuat generasi muda memahami kedalaman filosofi di balik Tari Kecak, bukan hanya melihatnya sebagai atraksi wisata.
Evolusi Tari Kecak dari Ritual hingga Seni Pertunjukan Dunia
Ketut Rina menjelaskan bahwa akar Tari Kecak berasal dari ritual Sanghyang yang digunakan masyarakat Bali untuk mengusir roh-roh jahat yang diyakini membawa wabah penyakit atau gangguan bagi desa. “Teriakan cak-cak-cak yang dikeluarkan penari secara terus-menerus dipercaya bisa menakuti roh jahat,” jelasnya.
Pada dekade 1930-an, Tari Kecak mulai mengalami transformasi besar melalui kolaborasi I Wayan Limbak dan seniman Jerman Walter Spies. Unsur cerita Ramayana kemudian dimasukkan sehingga menjadikan Kecak sebagai seni pertunjukan yang lebih mudah dipahami masyarakat luas. “Awalnya Kecak untuk upacara pengusir roh jahat. Tahun 1930 baru dikembangkan dan diperkenalkan dengan memasukkan unsur cerita Ramayana dalam Kecak.”
Ia menjelaskan bahwa sebelum berkembangnya sektor pariwisata, pertunjukan Kecak jarang disaksikan masyarakat umum. “Dulu jarang Kecak ditonton masyarakat. Biasanya hanya saat ada upacara odalan. Semenjak pariwisata berkembang, Kecak juga ikut berkembang.” Menurutnya, perkembangan berikutnya terjadi ketika Sardono W. Kusumo menghadirkan pendekatan baru melalui konsep “Cak Rina”. “Kalau dulu Kecak sebagai ilustrasi musik mengikuti alur cerita. Cerita apa yang ditampilkan itulah yang diiringi. Tidak ada alat musik lain, khusus vokal. Sedangkan karya Sardono dengan nama Cak Rina lebih mengangkat kehidupan masyarakat.”
Kecak Jadi Terapi
Bagi Ketut Rina, Tari Kecak tidak hanya memiliki nilai artistik dan budaya, tetapi juga menyimpan manfaat yang lebih dalam bagi kesehatan fisik maupun mental. “Buat saya Tari Kecak tak hanya sekadar tari kolosal, tapi bisa jadi terapi jika dilakukan dengan fokus dan serius. Energi-energi negatif kita bisa keluar, stres hilang, melepaskan masalah-masalah kita,” katanya.
Ia bahkan memiliki pemahaman filosofis tersendiri mengenai kata “cak”. “Pemahaman saya, cak itu titik. Titik itu apa pun yang kita lakukan berdasarkan titik. Menulis lewat titik, membangun rumah mencari titik dulu. Cak itu titik. Berawal dari titik sebagai penanda.” Ketut Rina mengaku banyak mengikuti penelitian dan diskusi yang mengangkat kemungkinan Tari Kecak sebagai media terapi. “Banyak murid saya yang juga yoga mengatakan setelah menonton saya menari Kecak jadi terinspirasi menjadikan tari ini terapi.”
Menurutnya, gerakan dan konsentrasi yang dilakukan selama pertunjukan dapat memberikan dampak positif terhadap tubuh. “Mungkin dari Tari Kecak yang dilakukan fokus dan serius, dari segi gerakan Kecak berfungsi membuka cakra.” Ia bahkan menceritakan pengalaman sejumlah murid yang merasakan manfaat kesehatan setelah rutin berlatih. “Ada murid yang mengalami penyakit seperti kencing batu dan sinus. Setelah latihan secara rutin, keluhannya berkurang.”
Regenerasi Melalui Anak-Anak dan Perempuan
Kesadaran akan pentingnya regenerasi membuat Ketut Rina melibatkan banyak anak-anak dalam kelompok Kecaknya. “Saya melibatkan anak-anak dan perempuan untuk proses regenerasi,” ujarnya. Di sanggarnya, puluhan anak secara rutin berlatih Tari Kecak dan berbagai tari Bali lainnya dengan disiplin tinggi.
Bagi Ketut Rina, langkah tersebut menjadi investasi budaya yang sangat penting agar Tari Kecak tidak kehilangan penerus di masa depan. Melalui perjalanan panjang dari Ubud menuju panggung-panggung dunia hingga kini dipercaya menjadi dosen tamu di Taiwan, Ketut Rina membuktikan bahwa budaya lokal mampu menembus batas negara. Namun di balik berbagai pencapaian internasional itu, ia menyimpan harapan sederhana: agar generasi muda Bali tidak melupakan warisan yang telah mengharumkan nama Pulau Dewata selama puluhan tahun.
“Kalau dunia saja tertarik belajar Tari Kecak, saya berharap generasi muda Bali juga bangga dan mau terus melestarikannya. Tari Kecak adalah identitas Bali yang harus dijaga bersama,” pungkasnya.



