Close Menu
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Facebook X (Twitter) Instagram
Jumat, 14 Agustus 2026
Trending
  • Mentan Amran Gandeng KNPI Untuk Kawal Ketahanan Pangan
  • Dua SBU Tercatat Dicabut Sebelum Pemilihan, Surat Rektor UIN SATU Tulungagung Klaim Masih Berlaku hingga 2026
  • 10 Merek Sepatu Wanita Lokal Berkualitas dan Nyaman
  • 5 film superhero flop yang debutnya masih mengalahkan Supergirl
  • Kunjungan ke Pabrik Yamaha, Komunitas XMAX Bali Jelajahi Standar Produksi Global
  • Video Call dengan Bayi: Termasuk Screen Time? Ini Jawabannya
  • Penawaran Umum RANS Ditutup Besok, Jutaan Investor Antre Daftar di Bursa
  • Terdakwa Korupsi Rp 300 M Soroti Bukti Kerugian dan Validitas Audit
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok Threads RSS
Indonesia Discover
Login
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Indonesia Discover
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
  • Olahraga
  • Login
Home»Nasional»Ekonomi»PGEO raih pinjaman besar untuk panas bumi, ini analisis ahli
Ekonomi

PGEO raih pinjaman besar untuk panas bumi, ini analisis ahli

admin_indonesiadiscoverBy admin_indonesiadiscover10 Juni 2026Tidak ada komentar4 Mins Read
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
Share
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link

Proyek PGEO Dukungan Pendanaan Internasional

PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) menunjukkan prospek yang semakin menjanjikan setelah mendapatkan dukungan pendanaan internasional senilai US$ 477,87 juta. Dukungan ini diperoleh setelah tiga proyek PGEO masuk ke dalam Green Book 2026 yang diterbitkan oleh Kementerian Perencanaan Pembangunan/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Kementerian PPN/Bappenas).

Green Book 2026, yang secara resmi dikenal sebagai Daftar Rencana Prioritas Pinjaman Luar Negeri Tahun 2026, memuat proyek-proyek nasional yang telah mendapatkan komitmen pendanaan luar negeri. Daftar ini disusun berdasarkan Keputusan Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional Nomor Kep. 52/M.PPN/IIK/06/2026.

Sebelumnya, proyek-proyek tersebut telah tercantum dalam Daftar Rencana Pinjaman Luar Negeri Jangka Menengah Tahun 2025–2029 (Blue Book) Bappenas. Masuknya proyek ke dalam Green Book menjadi langkah penting menuju implementasi dan pengembangan lanjutan.

Skema Pembiayaan Concessional Loan

Ketiga proyek PGEO tercantum dalam skema on-lending melalui pembiayaan concessional loan yang menawarkan suku bunga lebih atraktif serta tenor yang lebih panjang dibandingkan pembiayaan komersial. Nilai total pinjaman yang tercantum dalam Green Book 2026 mencapai US$ 477,87 juta dengan rincian:

  • PLTP Lumut Balai Unit 3 (target COD 2030) senilai US$ 158,86 juta dari JICA
  • PLTP Lumut Balai Unit 4 (target COD 2032) senilai US$ 148,97 juta dari JICA
  • PLTP Lahendong Unit 7–8 (target COD 2030) senilai US$ 170,04 juta dari World Bank

Proyek-proyek ini merupakan bagian dari roadmap PGEO untuk mengembangkan potensi panas bumi hingga 3 gigawatt (GW). Setelah beroperasi, proyek-proyek ini akan menambah pasokan listrik rendah emisi dan memperkuat peran panas bumi dalam bauran energi nasional.

Lokasi dan Manfaat Proyek

PLTP Lumut Balai Unit 3 dan PLTP Lumut Balai Unit 4 yang berlokasi di Kabupaten Muara Enim dan Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU), Provinsi Sumatra Selatan, akan memperluas pengembangan panas bumi PGEO di wilayah Sumatra. Kedua proyek tersebut juga telah memiliki Power Purchase Agreement (PPA) yang mendukung prospek pengembangannya pada masa depan.

Sementara itu, penambahan kapasitas produksi melalui PLTP Lahendong Unit 7–8 serta Binary Unit di Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara, akan meningkatkan kontribusi PGEO terhadap pemenuhan kebutuhan listrik Sulawesi Utara dari 30% menjadi 35%–40% dari total kebutuhan listrik.

Perkembangan Keuangan PGEO

Direktur Utama PGEO Ahmad Yani menyatakan bahwa masuknya proyek-proyek PGEO ke dalam Green Book 2026 Bappenas menjadi pengakuan atas kesiapan proyek untuk memasuki tahap pengembangan berikutnya. Selain membuka peluang akses terhadap berbagai sumber pendanaan internasional, pencapaian ini juga meningkatkan visibilitas dan daya tarik proyek-proyek perusahaan di mata calon mitra strategis maupun lembaga pendanaan global.

Dengan masuknya ketiga proyek tersebut ke dalam Green Book, pendanaan yang didapatkan diharapkan dapat membantu PGEO mempertahankan cost of debt yang kompetitif sekaligus meningkatkan keekonomian proyek dalam jangka panjang.

Kinerja Finansial dan Produksi

Dari sisi keuangan, PGEO mencatatkan peningkatan laba bersih sebesar 40% year on year (yoy) menjadi US$ 43,90 juta pada kuartal I-2026. Emiten ini juga membukukan pendapatan sebesar US$ 116,56 juta atau meningkat 14,8% yoy. Pertumbuhan tersebut didorong oleh efektivitas strategi bisnis berkelanjutan yang dijalankan perusahaan.

Pertumbuhan produksi yang konsisten juga memberikan kontribusi positif. Pada 2025, PGEO mencatatkan produksi tertinggi sepanjang sejarah (all-time high) dengan total produksi mencapai 5.095 gigawatt hour (GWh), meningkat 5,55% yoy dibandingkan tahun sebelumnya. Tren positif tersebut berlanjut pada kuartal I-2026, ketika produksi listrik meningkat 15,22% yoy menjadi 1.370 GWh.

Perspektif Analis Pasar

Senior Market Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta menyatakan bahwa dengan adanya dukungan pendanaan internasional yang memadai, PGEO diharapkan mampu mempercepat pengembangan bisnis sekaligus meningkatkan kapasitas terpasang pembangkit panas bumi. Namun, dampak pemberian pinjaman tersebut tentu akan sangat bergantung pada kemampuan PGEO dalam mengeksekusi tiga proyek PLTP strategis secara tepat waktu.

Dari sisi neraca keuangan, tambahan pinjaman tentu akan meningkatkan rasio utang PGEO. Namun, kondisi tersebut masih cukup wajar selama dana hasil pinjaman internasional digunakan untuk membiayai aset produktif dan proyek-proyek yang mampu menciptakan nilai tambah. Lagi pula PGEO memiliki keunggulan berupa kemampuan menghasilkan margin EBITDA yang tinggi di sektornya, sehingga emiten ini dinilai punya kekuatan lebih dari cukup untuk memenuhi kewajiban keuangannya.

Perusahaan perlu menerapkan strategi lindung nilai (hedging) untuk mengantisipasi risiko fluktuasi nilai tukar karena pinjaman dalam denominasi dolar Amerika Serikat (AS).

Nafan sendiri merekomendasikan wait and see untuk saham PGEO. Secara terpisah, Analis MNC Sekuritas Herditya Wicaksana menyebut, secara teknikal pergerakan saham PGEO berada di fase downtrend dan didominasi oleh peningkatan tekanan jual. Indikator MACD dan Stochastic masih terkoreksi di area negatif. Dia pun menyarankan wait and see saham PGEO dengan support di level Rp 755 per saham dan resistance di level Rp 825 per saham.

Share. Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
admin_indonesiadiscover
  • Website

Berita Terkait

Penawaran Umum RANS Ditutup Besok, Jutaan Investor Antre Daftar di Bursa

11 Juli 2026

BEI Evaluasi Aturan Papan Pemantauan Khusus

11 Juli 2026

Bursa Asia Tertekan Selasa (7/7) Akibat Kenaikan Laba Samsung dan Pelemahan Yen

11 Juli 2026
Leave A Reply Cancel Reply

Berita Terbaru

Mentan Amran Gandeng KNPI Untuk Kawal Ketahanan Pangan

2 Agustus 2026

Dua SBU Tercatat Dicabut Sebelum Pemilihan, Surat Rektor UIN SATU Tulungagung Klaim Masih Berlaku hingga 2026

14 Juli 2026

10 Merek Sepatu Wanita Lokal Berkualitas dan Nyaman

11 Juli 2026

5 film superhero flop yang debutnya masih mengalahkan Supergirl

11 Juli 2026
© 2026 IndonesiaDiscover. Designed by Indonesiadiscover.com.
  • Home
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • PT. Indonesia Discover Multimedia
  • Indeks Berita

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

Sign In or Register

Welcome Back!

Login to your account below.

Lost password?