Close Menu
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Facebook X (Twitter) Instagram
Senin, 8 Juni 2026
Trending
  • Pajero Sport vs Fortuner 2026: Pertarungan Sengit SUV Premium di Indonesia
  • AION V Luxury 2026: Harga Terbaru Ini!
  • Startup Korea Selatan Raup Rp427 Miliar, Tantang Dominasi AS dan Cina di Industri Antariksa
  • Kejagung Periksa BGN Pasca Pemecatan Dadan, Diduga Terkait Penjualan Dapur MBG
  • Kamera Selfie Honor 100MP Berbentuk Persegi, Apa Keistimewaannya?
  • 5 Kebiasaan Harian untuk Menjaga Kesehatan Digital Anak
  • Kodam XX Tanggung Biaya Pengobatan Korban Peluru Nyasar di UNP
  • Naskah khutbah Jumat besok 5 Juni 2026: Hijrah dari kebiasaan yang membawa kerugian
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok Threads RSS
Indonesia Discover
Login
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Indonesia Discover
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
  • Olahraga
  • Login
Home»Ragam»Teknologi»Startup Korea Selatan Raup Rp427 Miliar, Tantang Dominasi AS dan Cina di Industri Antariksa
Teknologi

Startup Korea Selatan Raup Rp427 Miliar, Tantang Dominasi AS dan Cina di Industri Antariksa

admin_indonesiadiscoverBy admin_indonesiadiscover7 Juni 2026Tidak ada komentar4 Mins Read
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
Share
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link

Perkembangan Industri Peluncuran Roket di Asia

Industri peluncuran roket komersial sedang mengalami pertumbuhan pesat, terutama di kawasan Asia. Dengan meningkatnya permintaan akan layanan antariksa di berbagai negara, persaingan semakin ketat. Di tengah dominasi Amerika Serikat dan Tiongkok, sejumlah startup di Asia mulai menunjukkan kemampuan mereka dalam mengembangkan teknologi peluncuran roket sendiri.

Salah satu perusahaan yang mencuri perhatian adalah Unastella, sebuah startup asal Korea Selatan. Baru-baru ini, perusahaan ini berhasil mengumpulkan pendanaan Seri B senilai US$24 juta atau sekitar Rp427,2 miliar. Total pendanaan yang telah dikumpulkan oleh Unastella mencapai US$44 juta atau sekitar Rp783,2 miliar. Pendanaan ini dipimpin oleh Altos Ventures dengan partisipasi dari beberapa investor lain seperti Korea Development Bank, Strong Ventures, dan Hana Ventures.

Unastella fokus pada pengembangan kendaraan peluncur dan mesin roket secara mandiri. Tujuan utamanya adalah untuk menyediakan layanan peluncuran satelit berukuran kecil. Pada Mei 2025, perusahaan berhasil meluncurkan roket buatannya sendiri yang diberi nama UNA EXPRESS-I, dari wilayah Korea Selatan.

CEO sekaligus pendiri Unastella, Jae Park, menjelaskan bahwa perusahaan saat ini berfokus pada pembuktian kemampuan teknologinya melalui berbagai misi peluncuran. Dalam jangka panjang, Unastella juga menargetkan layanan penerbangan antariksa suborbital berawak.

Teknologi yang Digunakan oleh Unastella

Unastella menggunakan sistem propulsi berbahan bakar minyak tanah (kerosin) dan oksigen cair, kombinasi yang sudah lama digunakan dalam industri roket. Namun, perusahaan juga mengadopsi teknologi pompa motor listrik sebagai pengganti turbo pump konvensional yang umumnya digunakan pada roket.

Teknologi tersebut dinilai lebih sederhana dan lebih murah untuk diproduksi. Namun, penggunaan pompa motor listrik membuat bobot roket bertambah sehingga kapasitas muatan menjadi lebih kecil dibandingkan sistem konvensional. Menurut Park, pilihan tersebut sengaja diambil demi mempercepat komersialisasi produk.

“Kami bukan kelompok penelitian dan pengembangan yang berusaha membangun roket paling mengesankan. Kami adalah perusahaan peluncuran komersial yang ingin masuk ke pasar secepat mungkin,” ujarnya.

Proses Pengembangan dan Kepemimpinan

Seluruh proses pengembangan dilakukan secara internal, mulai dari desain, manufaktur, operasi darat hingga pengolahan data penerbangan. Peluncuran UNA EXPRESS-I menjadi uji coba pertama yang mengintegrasikan seluruh sistem tersebut dalam kondisi operasional sebenarnya.

Park sendiri telah menghabiskan sebagian besar kariernya di bidang pengembangan mesin roket. Sebelum mendirikan Unastella, dia terlibat dalam pengembangan sistem pembakaran untuk roket Nuri, kendaraan peluncur orbital pertama yang dikembangkan Korea Selatan melalui Korea Aerospace Research Institute (KARI). Dia kemudian melanjutkan karier di German Aerospace Center di Berlin untuk mengembangkan mesin kendaraan peluncur Eropa sebelum kembali ke Korea Selatan dan bergabung dengan startup roket lain. Pengalaman tersebut akhirnya mendorongnya mendirikan Unastella.

Persaingan di Pasar Peluncuran Antariksa

Meski belum membukukan pendapatan, peta jalan bisnis perusahaan dinilai cukup menjanjikan bagi investor. Ke depan, Unastella tengah mempersiapkan peluncuran UNA EXPRESS-II yang ditargetkan berlangsung pada akhir tahun ini. Park menilai keberhasilan mencapai ketinggian 100 kilometer akan menjadi tonggak penting yang berpotensi membuka kerja sama dengan perusahaan-perusahaan besar di sektor dirgantara dan pertahanan Korea Selatan.

Saat ini, Unastella memiliki 22 karyawan dan telah menjalin sejumlah kerja sama dengan lembaga pemerintah. Badan antariksa nasional Korea Selatan telah menerbangkan beberapa komponen dalam misi UNA EXPRESS-I, sementara KARI telah mentransfer teknologi pompa motor listrik kepada perusahaan tersebut.

Pertumbuhan Pasar Peluncuran Antariksa

Unastella bukan satu-satunya perusahaan yang berupaya memanfaatkan pertumbuhan pasar peluncuran antariksa global. Berdasarkan proyeksi Grand View Research, nilai pasar peluncuran antariksa dunia mencapai sekitar US$15 miliar atau sekitar Rp267 triliun pada 2023 dan diperkirakan meningkat hampir tiga kali lipat menjadi US$41 miliar atau sekitar Rp729,8 triliun pada 2030.

Di Korea Selatan, industri peluncuran komersial masih berada pada tahap awal, tetapi mulai menunjukkan perkembangan yang signifikan. Perusahaan pertahanan terbesar negara tersebut, Hanwha Aerospace, mengambil alih pengelolaan roket Nuri pada tahun lalu setelah memperoleh hak teknologi penuh dari KARI. Selain itu, terdapat dua startup lain yang turut bersaing, yakni Innospace yang telah melantai di bursa saham Korea Selatan dan berhasil melakukan peluncuran suborbital, serta Perigee Aerospace yang sedang mengembangkan roket Blue Whale.

Meskipun demikian, belum ada perusahaan swasta Korea Selatan yang berhasil melakukan peluncuran orbital komersial. Pemerintah Korea Selatan juga menunjukkan dukungan terhadap sektor ini. Badan antariksa nasional Korea Selatan, Korea AeroSpace Administration (KASA), yang dibentuk pada 2024, telah menyiapkan anggaran US$266 juta atau sekitar Rp4,73 triliun selama tujuh tahun untuk membangun infrastruktur peluncuran antariksa.

Persaingan juga berlangsung di tingkat regional. China masih menjadi pemain terdepan dengan sejumlah perusahaan seperti Galactic Energy, LandSpace, dan iSpace yang telah melaksanakan berbagai peluncuran. Di Jepang, roket H3 yang dikembangkan oleh Japan Aerospace Exploration Agency (JAXA) bersama Mitsubishi Heavy Industries berhasil menjalankan peluncuran pertamanya pada 2024. Sementara itu, startup Interstellar Technologies juga tengah mengembangkan kendaraan peluncur satelit berukuran kecil.

Di Australia, Gilmour Space Technologies melakukan upaya peluncuran orbital perdananya pada tahun ini. Adapun Rocket Lab yang didirikan di Selandia Baru dan kini tercatat di Nasdaq masih menjadi satu-satunya perusahaan yang berasal dari Asia-Pasifik yang berhasil membangun bisnis peluncuran roket komersial yang berkelanjutan.

Share. Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
admin_indonesiadiscover
  • Website

Berita Terkait

Kamera Selfie Honor 100MP Berbentuk Persegi, Apa Keistimewaannya?

7 Juni 2026

80 Soal Fikih Kelas 3 SD 2026 Lengkap Kunci Jawaban

7 Juni 2026

MPV Mewah 7 Penumpang, Harga Toyota Voxy 2025 Bekas Terjangkau

7 Juni 2026
Leave A Reply Cancel Reply

Berita Terbaru

Pajero Sport vs Fortuner 2026: Pertarungan Sengit SUV Premium di Indonesia

7 Juni 2026

AION V Luxury 2026: Harga Terbaru Ini!

7 Juni 2026

Startup Korea Selatan Raup Rp427 Miliar, Tantang Dominasi AS dan Cina di Industri Antariksa

7 Juni 2026

Kejagung Periksa BGN Pasca Pemecatan Dadan, Diduga Terkait Penjualan Dapur MBG

7 Juni 2026
© 2026 IndonesiaDiscover. Designed by Indonesiadiscover.com.
  • Home
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • PT. Indonesia Discover Multimedia
  • Indeks Berita

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

Sign In or Register

Welcome Back!

Login to your account below.

Lost password?