Hasil Tes Kemampuan Akademik Siswa Surabaya Lebih Baik Dibanding Rata-Rata Jawa Timur dan Nasional
Hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA) siswa di Kota Surabaya menunjukkan capaian yang cukup menggembirakan. Berdasarkan data sementara yang dikumpulkan oleh Dinas Pendidikan (Dispendik) Surabaya, rata-rata nilai TKA siswa SD maupun SMP berada di atas rata-rata Provinsi Jawa Timur dan nasional. Meski demikian, capaian tersebut belum menjadi jaminan bagi siswa untuk lolos melalui jalur prestasi dalam Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) 2026.
Nilai TKA hanya menjadi salah satu komponen penilaian yang digabungkan dengan nilai rapor. Oleh karena itu, siswa tidak bisa hanya mengandalkan nilai TKA saja. Proses pengumpulan data masih dilakukan secara bertahap, karena masih ada beberapa peserta yang nilainya belum muncul dalam pengumuman hasil TKA.
Kepala Dispendik Surabaya, Febrina Kusumawati, menjelaskan bahwa proses penyisiran data sedang dilakukan. Data dikumpulkan dari masing-masing sekolah, namun pemerintah daerah saat ini belum menerima rekapitulasi lengkap secara langsung. “Kami mengumpulkan data dari sekolah satu per satu. Setelah dicek, masih ada beberapa siswa yang nilainya belum muncul. Karena itu kami melakukan verifikasi dan meminta sekolah melaporkan siswa yang belum masuk dalam pengumuman,” ujarnya.
Meski data belum sepenuhnya final, hasil sementara menunjukkan bahwa capaian siswa Surabaya berada di atas rata-rata Jawa Timur maupun nasional. Untuk jenjang SD, rata-rata nilai Matematika tercatat 53,06 dan Bahasa Indonesia 69,90. Sementara pada jenjang SMP, rata-rata nilai Matematika mencapai 45,85 dan Bahasa Indonesia 71,12.
Sebagai perbandingan, rata-rata nasional untuk Bahasa Indonesia jenjang SD tercatat 60,14 dan SMP 60,83. Adapun rata-rata Matematika nasional berada di angka 43,41 untuk SD dan 40,35 untuk SMP. Sementara itu, rata-rata Provinsi Jawa Timur untuk Bahasa Indonesia mencapai 62,74 pada jenjang SD dan 63,46 pada jenjang SMP. Untuk Matematika, masing-masing 46,77 untuk SD dan 41,36 untuk SMP.
Febrina menegaskan bahwa hasil TKA akan menjadi salah satu komponen dalam seleksi jalur prestasi akademik SPMB. Karena itu, siswa tidak bisa hanya mengandalkan nilai TKA saja. Pada SPMB SMPN di Surabaya, jalur prestasi menjadi salah satu jalur favorit yang dikejar calon siswa. Memiliki kuota sekitar 20 persen dari jumlah siswa yang diterima, jalur prestasi banyak diperebutkan para siswa.
Dalam skema yang ditetapkan Pemkot Surabaya, nilai jalur prestasi akademik merupakan gabungan rata-rata nilai rapor lima semester dengan bobot 60 persen dan nilai TKA dengan bobot 40 persen. Artinya, siswa dengan nilai rapor tinggi tetapi nilai TKA rendah tetap berpotensi kehilangan daya saing. Sebaliknya, nilai TKA tinggi juga belum tentu menjamin kelulusan apabila nilai rapornya kurang kompetitif.
Seleksi dilakukan berdasarkan peringkat gabungan kedua komponen tersebut. Jika terdapat nilai yang sama, penentuan dilakukan berdasarkan nilai Bahasa Indonesia, Matematika, lalu IPA.
Koordinator Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) SMP Swasta Surabaya, Erwin Darmogo, menilai penggunaan TKA dalam SPMB merupakan langkah yang wajar. Selain sebagai indikator kemampuan akademik, kebijakan ini juga mengikuti arahan pusat. “TKA merupakan gambaran kompetensi siswa selama ini. Kalau digunakan untuk SPMB, menurut saya tidak masalah. Namun tetap perlu menjadi bahan evaluasi semua pihak, baik siswa, orang tua, guru, maupun sekolah,” kata Erwin.
Menurut dia, porsi TKA dalam seleksi tidak terlalu besar sehingga tidak perlu menjadi sumber kekhawatiran berlebihan. “Persentase TKA kan tidak besar, hanya 40 persen, sedangkan rapor 60 persen. Ini juga masih tahun pertama pelaksanaan TKA, jadi tentu bisa menjadi bahan evaluasi bersama,” ujarnya.
Dengan skema tersebut, siswa yang akan mendaftar jalur prestasi akademik diimbau memperhatikan seluruh komponen penilaian. Nilai TKA yang baik penting, tetapi hasil akhir tetap ditentukan oleh kombinasi konsistensi prestasi rapor dan hasil asesmen.



