Close Menu
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Facebook X (Twitter) Instagram
Senin, 8 Juni 2026
Trending
  • Produsen Tiongkok Percepat Pengembangan Baterai Sasis Padat, Siap Masuk Pasar 2027
  • 5 Berita Terpopuler: Gaji ke-13 PPPK Sudah Cair, Kapan Alih Status P3K Jadi PNS? Ada Sinyal Positif!
  • Vespa GTS Super Tech 250 Resmi Hadir: Skuter Premium dengan Teknologi Canggih dan Performa Hebat
  • Rupiah Tembus Rp18.000, Perbankan Kencangkan Penyaluran Kredit Valas
  • Pencuri Mobil Dokter Diamankan Warga Setelah Korban Berteriak
  • Raih WTP 13 kali berturut-turut, Muhammad Safri minta Pemprov kejar potensi pajak hilang
  • Salam perpisahan Persib untuk Layvin Kurzawa, dari Andrew Jung hingga Adam Alis
  • Libur Panjang Tingkatkan Kunjungan Mal, APPBI Percaya Ritel Tetap Dinamis
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok Threads RSS
Indonesia Discover
Login
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Indonesia Discover
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
  • Olahraga
  • Login
Home»Nasional»Ekonomi»Rupiah Tembus Rp18.000, Perbankan Kencangkan Penyaluran Kredit Valas
Ekonomi

Rupiah Tembus Rp18.000, Perbankan Kencangkan Penyaluran Kredit Valas

admin_indonesiadiscoverBy admin_indonesiadiscover8 Juni 2026Tidak ada komentar4 Mins Read
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
Share
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link

Perbankan Memperketat Penyaluran Kredit Valas Akibat Pelemahan Rupiah



Pelemahan nilai tukar rupiah yang telah menembus level Rp 18.000 per dolar Amerika Serikat (AS) mulai memengaruhi kebijakan perbankan dalam penyaluran kredit valuta asing (valas). Kondisi ini menimbulkan kehati-hatian lebih tinggi di kalangan bank, terutama karena meningkatnya risiko nilai tukar, khususnya bagi debitur yang tidak memiliki pendapatan dalam mata uang asing.

Kepala Pusat Makroekonomi Institute for Development of Economics and Finance (Indef), M Rizal Taufikurahman, menyatakan bahwa depresiasi rupiah berpotensi memperlambat pertumbuhan kredit valas, khususnya pada sektor usaha yang berorientasi domestik. Meskipun kredit perbankan secara umum masih tumbuh sekitar 7%–8% secara tahunan, bank cenderung lebih selektif terhadap debitur yang tidak memiliki pendapatan valas karena risiko nilai tukar semakin tinggi.

Menurut Rizal, pelemahan rupiah juga meningkatkan risiko kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) pada portofolio kredit valas, terutama bagi debitur yang mengalami currency mismatch, yakni memiliki pendapatan dalam rupiah tetapi kewajiban pembayaran dalam dolar AS. Namun, ia menilai risiko sistemik industri perbankan masih relatif terkendali. Hal itu didukung oleh kondisi permodalan dan likuiditas perbankan yang dinilai masih cukup kuat untuk menghadapi tekanan eksternal.

Sektor Berbasis Impor Dinilai Paling Rentan

Rizal menjelaskan, industri yang memiliki ketergantungan tinggi terhadap impor namun tidak didukung penerimaan valas menjadi kelompok yang paling rentan terdampak pelemahan rupiah. Beberapa sektor yang masuk dalam kategori tersebut antara lain manufaktur domestik, farmasi, perdagangan impor, serta sebagian sektor konstruksi dan properti.

Sebaliknya, sektor-sektor berbasis ekspor seperti batu bara, crude palm oil (CPO), minyak dan gas, serta mineral dinilai memiliki daya tahan yang lebih baik karena memperoleh pendapatan dalam dolar AS sehingga memiliki natural hedging terhadap fluktuasi kurs. Ia juga memproyeksikan pertumbuhan kredit valas sepanjang tahun ini berpotensi melambat akibat kombinasi penguatan dolar AS, tingginya ketidakpastian ekonomi global, dan perlambatan ekonomi domestik.

Dalam kondisi tersebut, perbankan diperkirakan lebih memprioritaskan kualitas aset dibandingkan mengejar pertumbuhan kredit valas secara agresif. Fokus pembiayaan diperkirakan akan diarahkan kepada sektor berorientasi ekspor serta debitur yang memiliki perlindungan alami terhadap risiko nilai tukar. Selain itu, Rizal menilai bank perlu memperketat asesmen terhadap calon debitur, memperluas penggunaan instrumen lindung nilai (hedging), serta meningkatkan pencadangan risiko kredit guna menjaga kualitas portofolio.

KB Bank Perketat Seleksi Debitur Kredit Valas

Dari sisi industri perbankan, Direktur Utama KB Bank Kunardy Lie mengakui bahwa pelemahan rupiah turut meningkatkan tekanan terhadap ketahanan bank melalui berbagai aspek, mulai dari risiko kredit, potensi kenaikan NPL, kecukupan modal (capital adequacy ratio atau CAR), hingga eksposur kredit valas. Sebagai respons, KB Bank menerapkan prinsip selektivitas yang lebih ketat dalam menyalurkan kredit valas dengan memprioritaskan debitur yang memiliki profil risiko yang kuat serta prospek profitabilitas yang jelas.

Menurut Kunardy, depresiasi rupiah juga meningkatkan kebutuhan likuiditas valas dan berpotensi memunculkan risiko liquidity mismatch di sektor perbankan. Untuk mengantisipasi kondisi tersebut, KB Bank secara aktif memanfaatkan pinjaman valas dari bank lain sekaligus mempertimbangkan penerbitan instrumen pendanaan dalam valuta asing, termasuk obligasi valas. “Dalam tren simpanan valas yang melambat, ruang ekspansi kredit valas menjadi lebih terbatas,” ujar Kunardy.

BCA dan CIMB Niaga Pilih Strategi Prudent

Sementara itu, Executive Vice President Corporate Communication & Social Responsibility PT Bank Central Asia Tbk (BCA) Hera F. Haryn mengatakan BCA terus mencermati dinamika pergerakan nilai tukar serta perkembangan ekonomi global dan domestik dalam menyalurkan kredit valas. Hingga Maret 2026, kredit valas BCA tercatat mencapai Rp 48,9 triliun atau tumbuh 2,9% secara tahunan. Meski demikian, komposisi pembiayaan perseroan masih didominasi oleh kredit dalam denominasi rupiah.

“BCA terus melakukan pemantauan terhadap kualitas kredit guna menjaga kualitas aset tetap terjaga dengan baik,” ujar Hera. Di sisi lain, Presiden Direktur CIMB Niaga Lani Darmawan menyampaikan bahwa perseroan masih lebih memfokuskan ekspansi pada kredit dan dana pihak ketiga (DPK) dalam denominasi rupiah. Menurutnya, rasio loan to deposit ratio (LDR) valas CIMB Niaga saat ini juga masih berada di bawah 70%.

“Kami lebih prudent terutama dalam balance sheet valas,” ujar Lani.

Share. Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
admin_indonesiadiscover
  • Website

Berita Terkait

Apa Itu PMI? Indikator Ekonomi yang Menggerakkan Pasar Keuangan

8 Juni 2026

5 Kebiasaan Harian untuk Menjaga Kesehatan Digital Anak

7 Juni 2026

BPS: Harga Beras Naik Merata dari Penggilingan ke Pasar

7 Juni 2026
Leave A Reply Cancel Reply

Berita Terbaru

Produsen Tiongkok Percepat Pengembangan Baterai Sasis Padat, Siap Masuk Pasar 2027

8 Juni 2026

5 Berita Terpopuler: Gaji ke-13 PPPK Sudah Cair, Kapan Alih Status P3K Jadi PNS? Ada Sinyal Positif!

8 Juni 2026

Vespa GTS Super Tech 250 Resmi Hadir: Skuter Premium dengan Teknologi Canggih dan Performa Hebat

8 Juni 2026

Rupiah Tembus Rp18.000, Perbankan Kencangkan Penyaluran Kredit Valas

8 Juni 2026
© 2026 IndonesiaDiscover. Designed by Indonesiadiscover.com.
  • Home
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • PT. Indonesia Discover Multimedia
  • Indeks Berita

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

Sign In or Register

Welcome Back!

Login to your account below.

Lost password?