Close Menu
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Facebook X (Twitter) Instagram
Kamis, 4 Juni 2026
Trending
  • Penurunan harga solar tekanan ke industri berkurang
  • Istri Tewas Dianiaya, Ditemukan Penuh Luka di Samping Anaknya
  • Pancasila: Benteng Bangsa di Era Digital
  • Persebaya Pertahankan Rivera dan Silva, Nilai Pasar Capai Rp11,73 Miliar
  • Menggali Pesona Danau Sebedang Sambas: Wisata Legendaris untuk Pemandian Sultan
  • 5 Premis Menarik Joon Hyun Sebelum Bertukar Jiwa di Reborn Rookie
  • Mengenal Tren Kencan Coding, Hindari Burnout Saat Berkencan
  • Menguji Mitos Kegagalan Bisnis Aplikator Pasca Perpres Ojol
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok Threads RSS
Indonesia Discover
Login
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Indonesia Discover
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
  • Olahraga
  • Login
Home»Nasional»Ekonomi»Penurunan harga solar tekanan ke industri berkurang
Ekonomi

Penurunan harga solar tekanan ke industri berkurang

admin_indonesiadiscoverBy admin_indonesiadiscover4 Juni 2026Tidak ada komentar6 Mins Read
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
Share
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link



Indonesiadiscover.com,

JAKARTA — Penurunan harga diesel non-subsidi secara serentak oleh Pertamina dan sejumlah operator SPBU swasta membuka ruang pemulihan bagi aktivitas industri dan transportasi.

Namun, manfaat ekonomi yang muncul dari pelemahan harga diesel itu masih dibayangi ketidakpastian pasar minyak global yang membuat tren penurunan kemungkinan hanya berlangsung sementara.

PT Pertamina Patra Niaga resmi memangkas harga produk Dex Series mulai 1 Juni 2026. Harga Dexlite turun Rp3.000 per liter menjadi Rp23.000 per liter dari sebelumnya Rp26.000 per liter. Adapun, Pertamina Dex turun Rp3.100 per liter menjadi Rp24.800 per liter dari sebelumnya Rp27.900 per liter.

Penyesuaian itu diikuti sejumlah operator swasta. Shell menurunkan harga Shell V-Power Diesel menjadi Rp24.490 per liter, turun Rp6.400 dari sebelumnya Rp30.890 per liter. Sementara itu, BP-AKR memangkas harga BP Ultimate Diesel menjadi Rp25.060 per liter dari sebelumnya Rp29.890 per liter.

Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga Roberth MV Dumatubun mengatakan, penyesuaian harga dilakukan secara berkala dengan mempertimbangkan dinamika harga energi global dan formula harga sesuai ketentuan pemerintah.

“Untuk sektor diesel, dengan harga yang lebih kompetitif, kami berharap dapat memberikan manfaat yang lebih luas terhadap stabilitas ekonomi nasional,” katanya dikutip dari keterangan resmi, Selasa (2/6/2026).

Menurut Roberth, kebijakan tersebut tetap mempertimbangkan kebutuhan masyarakat, daya beli, serta upaya menjaga daya saing produk BBM non-subsidi di pasar.

Ke depan, Pertamina Patra Niaga akan terus memantau perkembangan pasar energi global dan berkoordinasi dengan pemerintah guna memastikan layanan energi yang andal, kompetitif, dan berkelanjutan bagi masyarakat serta mendukung pertumbuhan ekonomi nasional.

Pertamina Patra Niaga memastikan ketersediaan pasokan BBM di seluruh jaringan SPBU Pertamina di seluruh wilayah Indonesia guna memenuhi kebutuhan energi masyarakat dan sektor usaha secara optimal.

BP-AKR melalui pernyataan tertulisnya kepada Bisnis menjelaskan, perusahaan melakukan penyesuaian harga bahan bakar secara berkala dengan mempertimbangkan berbagai faktor, antara lain fluktuasi harga minyak dunia, kondisi pasar, serta ketentuan yang berlaku di sektor energi.

Perusahaan menjelaskan, penyesuaian harga dilakukan sebagai bagian dari mekanisme industri dan menjaga keberlanjutan pasokan energi, serta memastikan layanan kepada masyarakat dapat tetap berjalan baik.

“BP-AKR terus memonitor perkembangan harga minyak dunia, nilai tukar rupiah, serta berbagai faktor operasional lainnya yang memengaruhi bisnis distribusi BBM. Kami juga akan terus berupaya mengelola operasional secara efisien serta menjaga kesinambungan layanan bagi para pelanggan,” jelas manajemen BP-AKR.

Aktivitas Industri Berpeluang Meningkat

Anggota Dewan Energi Nasional (DEN) Saleh Abdurrahman mengatakan, harga solar non-subsidi yang sempat naik tinggi sebelumnya berpotensi menekan permintaan. Oleh karena itu, ketika harga kembali turun dan relatif stabil, aktivitas kendaraan maupun mesin-mesin produksi memiliki peluang untuk meningkat.

Menurutnya, penurunan harga diesel dapat memberikan ruang bagi pelaku usaha untuk meningkatkan utilisasi armada dan kegiatan produksi, terutama pada sektor-sektor yang sangat bergantung pada konsumsi solar.

“Ketika harga turun kembali dan stabil, aktivitas kendaraan dan juga mesin-mesin produksi berpotensi meningkat,” ujarnya kepada Bisnis, Selasa (2/6/2026).

Saleh menilai sektor industri dan transportasi umum menjadi kelompok yang paling responsif terhadap penurunan harga solar non-subsidi. Kedua sektor tersebut selama ini menjadi pengguna utama BBM diesel dengan tingkat sensitivitas yang tinggi terhadap perubahan harga energi.

Dengan biaya operasional yang lebih rendah, pelaku industri berpotensi meningkatkan aktivitas produksi, sementara operator transportasi umum memiliki ruang yang lebih besar untuk menjaga efisiensi usaha.

Di sisi lain, penurunan harga Dexlite dan diesel non-subsidi lainnya juga berpotensi memengaruhi pola konsumsi BBM nasional. Saleh menjelaskan, semakin kecil selisih harga antara Biosolar bersubsidi dengan solar non-subsidi, maka kecenderungan konsumen beralih ke BBM bersubsidi akan semakin berkurang.

Kondisi tersebut membuka peluang meningkatnya konsumsi Dexlite dan produk solar non-subsidi lainnya, terutama di kalangan pengguna yang sebelumnya mempertimbangkan faktor harga.

Apabila terjadi pergeseran konsumsi dari Biosolar ke Dexlite, Saleh menilai kondisi itu justru dapat membantu pemerintah dalam mengendalikan beban subsidi energi. Penurunan volume penyaluran Biosolar akan berdampak langsung terhadap kebutuhan anggaran subsidi solar.

“Jika permintaan Biosolar turun diimbangi kenaikan Dexlite maka subsidi solar juga akan turun karena volume penyaluran turun,” katanya.

Gejolak Pasar Minyak Dunia

Sementara itu, Praktisi Migas Hadi Ismoyo mengatakan, harga BBM non-subsidi pada dasarnya mengikuti mekanisme pasar global. Oleh karena itu, ketika harga minyak mentah turun, harga BBM non-subsidi seharusnya turut mengalami penyesuaian.

Menurutnya, harga minyak mentah dunia telah turun sekitar 14% dari rata-rata US$110 per barel menjadi US$95 per barel. Sementara itu, harga BBM non-subsidi turun sekitar 10%.

“Untuk BBM non-subsidi, mekanisme harga diserahkan kepada mekanisme pasar global sehingga manakala crude mengalami penurunan, maka BBM non-subsidi seharusnya harus turun juga,” katanya.

Hadi menilai selisih antara penurunan harga minyak mentah dan BBM non-subsidi terjadi karena pelaku usaha turut mengantisipasi pergerakan nilai tukar dolar AS yang masih berfluktuasi.

Meski demikian, dia memperkirakan tren pelemahan harga minyak dunia saat ini belum akan berlangsung permanen. Pergerakan harga masih sangat dipengaruhi perkembangan negosiasi antara Iran dan Amerika Serikat yang berpotensi menentukan tambahan pasokan minyak global.

Menurutnya, harga minyak mentah diperkirakan bergerak pada kisaran US$90-US$110 per barel hingga semester II/2026.

Bahkan, jika kedua negara mencapai kesepakatan, pasokan minyak tambahan tidak akan langsung membanjiri pasar. Hadi menilai dibutuhkan waktu sekitar 6 hingga 12 bulan untuk memulihkan fasilitas migas yang terdampak konflik sehingga proses peningkatan produksi berlangsung bertahap.

Selain itu, kondisi keamanan di kawasan Timur Tengah masih menjadi faktor risiko yang dapat memicu lonjakan harga sewaktu-waktu. Pelanggaran gencatan senjata yang masih terjadi membuat ketegangan geopolitik belum sepenuhnya mereda.

Atas dasar itu, Hadi menilai penurunan harga BBM non-subsidi, termasuk jenis solar, saat ini lebih bersifat sementara. Jika perundingan gagal, harga minyak berpotensi kembali naik.

“Jika berhasil, kemungkinan harga tersebut akan turun sedikit kemudian melandai mencapai kesetimbangan baru pada angka crude sekitar rata-rata US$90 per barel,” katanya.

Sementara itu, Ekonom Universitas Paramadina Wijayanto Samirin memprediksi harga solar non-subsidi sepanjang semester II/2026 akan bertahan di kisaran saat ini dengan peluang penurunan yang relatif terbatas.

“Saya rasa harga minyak bumi akan stabil di level US$85-US$90 per barel untuk beberapa saat. Jadi, harga solar non-subsidi akan bertahan di level saat ini, dengan peluang sedikit penurunan,” katanya.

Meski ruang penurunan tidak besar, Wijayanto melihat tren pelemahan harga diesel masih dapat berlanjut pada semester II/2026 mendatang. Salah satu faktor pendorongnya berasal dari kebijakan Amerika Serikat yang berkepentingan menjaga harga energi tetap rendah menjelang pemilu sela pada November 2026.

Menurutnya, pemerintahan Presiden AS Donald Trump memiliki insentif politik untuk menjaga harga BBM domestik tetap terkendali karena dapat memengaruhi tingkat dukungan terhadap Partai Republik.

Di sisi lain, penurunan harga solar non-subsidi diperkirakan belum akan mengubah pola konsumsi BBM nasional secara signifikan. Selain besaran penurunannya relatif terbatas, permintaan energi masih dibayangi lemahnya daya beli masyarakat.

“Saya rasa tidak akan terlalu berubah. Selain penurunannya tidak signifikan, daya beli masyarakat sedang lemah akibat pelambatan ekonomi,” katanya.

Wijayanto juga menilai penurunan harga BBM tetap memberikan dampak positif terhadap inflasi energi dan daya beli masyarakat. Namun, hingga saat ini, pengaruhnya belum cukup besar untuk mengubah arah inflasi secara keseluruhan.

Menurut dia, masih terdapat sejumlah faktor lain yang berpotensi menahan penurunan inflasi, antara lain pelemahan nilai tukar rupiah dan risiko gangguan cuaca akibat fenomena El Nino.

Share. Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
admin_indonesiadiscover
  • Website

Berita Terkait

Menguji Mitos Kegagalan Bisnis Aplikator Pasca Perpres Ojol

4 Juni 2026

Di Balik Perubahan Bappenas, Upaya Prabowo Revisi Mesin MBG

4 Juni 2026

Peluang Rupiah Semester II-2026 Dipengaruhi Tiga Faktor Ini

4 Juni 2026
Leave A Reply Cancel Reply

Berita Terbaru

Penurunan harga solar tekanan ke industri berkurang

4 Juni 2026

Istri Tewas Dianiaya, Ditemukan Penuh Luka di Samping Anaknya

4 Juni 2026

Pancasila: Benteng Bangsa di Era Digital

4 Juni 2026

Persebaya Pertahankan Rivera dan Silva, Nilai Pasar Capai Rp11,73 Miliar

4 Juni 2026
© 2026 IndonesiaDiscover. Designed by Indonesiadiscover.com.
  • Home
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • PT. Indonesia Discover Multimedia
  • Indeks Berita

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

Sign In or Register

Welcome Back!

Login to your account below.

Lost password?