Close Menu
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Facebook X (Twitter) Instagram
Monday, 26 October 2026
Trending
  • Klasemen Persebaya Surabaya melorot! Tavares bongkar 2 kesalahan jelang lawan PSM Makassar
  • Dua tahun Prabowo-Gibran, Kemenpora percepat transformasi dan ukir prestasi olahraga
  • DPRD NTT sebut ekonomi warga picu menjamurnya pengecer BBM
  • Bahaya Air Sabun untuk Wiper: Awas Kaca Mobil Rusak!
  • Kisah Awal Buya Hamka: Pencarian Jati Diri Sang Ulama Besar
  • Jadwal Pelni KM Tilongkabila hingga 26 November: Rute Bitung-Benoa & Singgahannya
  • Minta dipeluk permintaan terakhir Kamaruddin Simanjuntak sebelum meninggal, 2 tahun cuci darah
  • Gledson Paixao siap unjuk gigi bersama Persebaya Surabaya, waspadai ledakan PSM Makassar!
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok Threads RSS
Indonesia Discover
Login
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Indonesia Discover
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
  • Olahraga
  • Login
Home»Nasional»Pariwisata»Menemukan Diri Melalui Langkah Kaki
Pariwisata

Menemukan Diri Melalui Langkah Kaki

admin_indonesiadiscoverBy admin_indonesiadiscover3 June 2026No Comments5 Mins Read
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
Share
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link



Setiap orang memiliki caranya masing-masing untuk kembali pada diri sendiri, dan sebagian dari mereka memilih untuk berjalan kaki. Dalam setiap langkah yang diambil, mereka menemukan kepingan-kepingan diri yang pernah mereka rindukan dan pertanyakan. Sayangnya, tidak semua perjalanan selalu mulus. Ada saja hambatan yang muncul dalam proses ini. Terkadang jalanan sempit membuat mereka harus berbagi dengan orang lain, hewan, atau bahkan kendaraan. Suara klakson sering kali mengganggu dan menciptakan ketidaknyamanan. Namun, meskipun begitu, mereka tetap mencintai proses penemuan itu.

Aktivitas berjalan kaki terdengar sangat sederhana, bahkan sering dianggap hal biasa. Di era hidup yang serba cepat dan bergantung pada kendaraan, pilihan untuk jalan kaki di Indonesia menjadi sesuatu yang tidak umum. Berbeda dengan Hong Kong yang dikenal sebagai kota dengan pejalan kaki paling aktif di dunia, di Jepang, jalan kaki sudah menjadi bagian dari budaya transportasi umum. Di tengah kesibukan pekerjaan, percakapan tentang jalan kaki justru berkembang. Aroma masakan menguar di seluruh dapur kafe, beriringan suara percikan minyak dari deep fryer. Di situ, obrolan mengenai jalan kaki justru berkembang. Ofa (22) dan Naufal (21) sama-sama memilih berjalan kaki sebagai waktu untuk diri sendiri, meski dengan cara yang berbeda.

Menemukan Diri dalam Langkah Kaki

Ofa mengaku sering berjalan kaki dalam jarak dekat untuk sekadar keluar dari rutinitas dan mencari suasana baru. Berbeda dengan Naufal, dia lebih bersemangat menceritakan kebiasaannya berjalan kaki dalam jarak yang lebih jauh. Dia bisa mencapai belasan kilometer. Baginya, aktivitas tersebut bukan hanya tentang bergerak, tetapi cara memindahkan kelelahan dari pikiran ke tubuh. Ia merasa memiliki kendali penuh atas dirinya sendiri. Menurutnya, lelah fisik lebih mudah dipahami daripada lelah pikiran.

Percakapan itu terhenti sejenak. Kesibukan kuliah dan pekerjaan membuat komunikasi lebih sering berlanjut secara daring. Ofa sibuk dengan penyusunan skripsi, Naufal menghabiskan waktu di laboratorium bersama tikus-tikusnya, tetap menyempatkan berbagi cerita tentang langkah kaki dan cara masing-masing untuk kembali pada diri sendiri.

Ofa kembali bercerita, bahwa berjalan kaki tidak selalu menghadirkan ketenangan. Ada kalanya rasa sepi justru muncul, terutama saat dia melihat kendaraan melaju cepat meninggalkan langkahnya. “Kadang merasa kasihan sama diri sendiri, kok aku jalan, yang lain naik motor,” ujarnya. Namun di sisi lain, dia tetap memilih berjalan, seakan ada kebutuhan yang tidak bisa digantikan oleh kendaraan. Bagi Ofa, langkah kaki justru menjadi ruang untuk tetap merasa hadir dalam dirinya sendiri, meski dunia di sekitar bergerak lebih cepat.

Pengalaman Lain dari Raisa

Pengalaman yang lain datang dari Raisa (25). Baginya, berjalan kaki menjadi ruang untuk menemukan kebebasan. Ia terbiasa berjalan sambil mendengar musik, membiarkan pikirannya mengembara, mengikuti langkah kakinya. Dalam perjalanannya, dia sering memperhatikan orang-orang di sekitar, seringkali memposisikan diri sebagai mereka. Dari situ, muncul beragam perasaan, bersyukur, termotivasi, hingga sedih yang datang tiba-tiba. Raisa seorang ibu rumah tangga yang kini telah memiliki seorang putri mengaku dirinya seperti merasa kehilangan sesuatu. Kadang-kadang dia rindu pada masa aktif jalan kaki sendirian. Sekarang dia lebih sering menghabiskan waktu bersama keluarganya.

Pandangan Syifa tentang Kesehatan

Pembahasan ini berlanjut bersama seorang mahasiswa akhir yang tengah sibuk dalam kegiatan lapangan, Syifa (22). Ia melihat berjalan kaki dari sudut pandang kesehatan. Menurutnya, aktivitas fisik sederhana ini dapat membantu menurunkan kadar kortisol, yaitu hormon yang berkaitan dengan stres. Secara ilmiah, berjalan kaki memang membantu meningkatkan sirkulasi oksigen dan aliran darah dalam tubuh. Dalam durasi tertentu, aktivitas ini dapat merangsang pelepasan yang menimbulkan rasa nyaman, serta membantu menurunkan ketegangan mental yang menumpuk. Bahkan durasi lebih panjang, tubuh menjadi lebih stabil secara emosional karena adanya keseimbangan.

Jalan yang Tidak Selalu Ramah

Kadang, berjalan kaki menghadirkan hal-hal kecil yang luput dari pengamatan sehari-hari. Ada momen ketika tanpa sengaja menemukan tempat baru di sudut jalan yang sebelumnya tidak pernah diperhatikan, atau bertemu kucing yang lewat dengan santai. Hal-hal sederhana ikut memberikan suasana yang ringan. Di balik pengalaman yang terasa menyenangkan itu, ada realitas yang tidak bisa diabaikan. Syifa menyoroti fasilitas pejalan kaki di Indonesia masih jauh dari ideal. Menurutnya, berjalan kaki di ruang publik sering kali tidak sepenuhnya aman.

“Jujur, fasilitas jalan kaki di Indonesia masih jelek. Kadang mepet sedikit saja bisa terserempet motor. Kurang safety pokoknya,” ujar Syifa. Kondisi ini diperkuat oleh Ofa, ia sering merasakan ketidaknyamanan saat berjalan kaki di area perkotaan. Trotoar yang tidak memadai membuat pejalan kaki harus berbagi jalanan dengan kendaraan. Ofa menambahkan suara klakson terdengar di jalan justru sering disalahartikan sebagai teguran pejalan kaki yang terlalu ke pinggir jalan. Padahal menurutnya dalam banyak kasus, tidak ada pilihan lain selain berjalan di sisi jalan karena ketiadaan trotoar yang layak.



Berbeda dengan Risya (25), seorang pekerja di kota seberang, yang kembali mengingat masa kuliah di Yogyakarta. Ia menceritakan bahwa dirinya sering berjalan kaki di sekitar kampus untuk mengurus berbagai keperluan kuliahnya. Salah satu kebiasaannya adalah mengunjungi Wisdom Park UGM, yang saat itu menjadi salah satu ruang terbuka favoritnya karena fasilitas jalan kaki yang memadai.

Berjalan kaki di area tersebut membuatnya berolahraga sekaligus mengambil jarak sejenak dari keramaian dan aktivitas sosial yang mengurangi energi. Suasana yang terbuka dan hijau membuat langkah kaki terasa lebih ringan, sekaligus menenangkan pikiran setelah berinteraksi. Sepanjang perjalanan, Risya sering menemukan berbagai potongan kehidupan yang berjalan berdampingan. Ada pasangan yang duduk berdua menikmati suasana, sekumpulan anak muda yang membaca buku, orang memancing. Hal itu menjadikan Risya yang sering kesepian di kamar kos, terobati.

Di antara Ofa yang mencari jeda rutinitas, Naufal yang memindahkan lelah pikiran ke tubuh. Raisa yang menjadikan jalan kaki sebagai kebebasan, Syifa yang melihatnya dari sisi kesehatan, hingga Risya yang menemukan kembali ruang tenang di tengah keramaian, berjalan kaki perlahan membentuk maknanya sendiri. Jalan kaki bukan soal jarak, bukan soal tujuan. Jalan kaki bukan tempat orang-orang lari dari kehidupannya, tetapi sebagai wadah untuk menemukan diri mereka sendiri. Tidak semua langkah adalah pelarian, sebagian hanyalah cara untuk kembali.

Share. Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
admin_indonesiadiscover
  • Website

Berita Terkait

Jadwal Pelni KM Tilongkabila hingga 26 November: Rute Bitung-Benoa & Singgahannya

26 October 2026

5 Destinasi Sejuk di Karanganyar, Pelarian Sempurna Saat Cuaca Panas

25 October 2026

20 Spot Gratis di Bangkok: Berlatar Estetik Big Buddha Paknam

25 October 2026
Leave A Reply Cancel Reply

Berita Terbaru

Klasemen Persebaya Surabaya melorot! Tavares bongkar 2 kesalahan jelang lawan PSM Makassar

26 October 2026

Dua tahun Prabowo-Gibran, Kemenpora percepat transformasi dan ukir prestasi olahraga

26 October 2026

DPRD NTT sebut ekonomi warga picu menjamurnya pengecer BBM

26 October 2026

Bahaya Air Sabun untuk Wiper: Awas Kaca Mobil Rusak!

26 October 2026
TAGS
akan Ampat Berita Bisnis Budaya Bukan dalam dan dari dengan diskon DPR Dunia Ekonomi Hiburan Horoskop Indonesia ini insiden Iran Jadi Kasus kasus kriminal Kejahatan Kesehatan Kontroversi KPK Laporan Polisi media berita Olahraga Pemerintah perbintangan perusahaan Politik Politik dan Hukum politik dan pemerintahan presiden Raja Selebriti Soal Tambang TNI untuk warga yang
© 2026 IndonesiaDiscover. Designed by Indonesiadiscover.com.
  • Home
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • PT. Indonesia Discover Multimedia
  • Indeks Berita

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

Sign In or Register

Welcome Back!

Login to your account below.

Lost password?