Jokowi Siap Bermain dalam Film Kolosal Budaya Dayak
Presiden ke-7 Republik Indonesia, Joko Widodo atau Jokowi, mengungkapkan ketertarikannya untuk terlibat dalam film kolosal yang mengangkat tema budaya Dayak. Ia menyatakan kesiapan untuk belajar akting agar dapat tampil maksimal dalam peran utama yang akan diambilnya.
Film tersebut disiapkan oleh Panglima Jilah, pemimpin dari Pasukan Merah Tariu Borneo Bangkule Rajakng (TBBR). Ajakan untuk bermain dalam film ini datang saat Panglima Jilah berkunjung ke kediaman Jokowi di Sumber, Banjarsari, Solo, pada Rabu (20/5/2026).
Film Mengangkat Sejarah dan Budaya Dayak
Panglima Jilah menjelaskan bahwa film ini akan mengangkat kisah sejarah dan budaya Dayak, serta hubungan antara masyarakat Dayak dengan Jawa dan Majapahit. Meski belum banyak informasi tentang proses produksi dan jadwal penggarapan film tersebut, ia menegaskan bahwa film ini akan dibuat dalam format kolosal.
“Ya ngomong dengan saya seperti itu,” ujar Jokowi saat ditemui di kediamannya. “Saya siap berlatih akting dulu. Pemeran utama siap, pemeran pembantu siap, figuran siap.”
Film ini tidak hanya akan memperkenalkan cerita-cerita Dayak di masa lampau, tetapi juga akan menampilkan bagaimana kolaborasi antara Dayak dan Jawa serta Majapahit.
Undangan untuk Hadiri Acara Adat Bulan Agustus
Selain membahas proyek film, Panglima Jilah juga mengundang Jokowi untuk hadir dalam acara adat budaya Dayak yang akan digelar pada bulan Agustus mendatang. Kedatangan Panglima Jilah ke Solo juga bertujuan untuk bersilaturahmi dan membahas isu-isu terkait kebangsaan serta pelestarian budaya Nusantara.
“Kami silaturahmi dengan beliau mengenai adat budaya. Kami mengundang beliau untuk datang di acara adat Dayak bulan delapan,” ujar Panglima Jilah usai pertemuan.
Menurutnya, masyarakat Kalimantan Barat masih memiliki antusiasme besar terhadap Jokowi. Oleh karena itu, ia optimistis kehadiran Jokowi dalam acara adat tersebut akan mendapat sambutan hangat.
Biografi Singkat Presiden Joko Widodo
Joko Widodo lahir di Surakarta, Jawa Tengah, pada 21 Juni 1961 dari pasangan Notomiharjo dan Sujudmiati. Ia dikenal sebagai presiden pertama yang berasal dari luar kalangan militer dan elit politik lama, menjadikannya simbol perubahan dalam sejarah demokrasi Indonesia.
Dengan gaya kepemimpinan yang sederhana, merakyat, dan berorientasi pada kerja nyata, Jokowi berhasil menarik simpati luas dari rakyat. Pemerintahannya menandai era percepatan pembangunan nasional, penguatan ekonomi digital, dan peningkatan daya saing Indonesia di tingkat global.
Melalui visi “Indonesia Maju”, Jokowi menekankan pemerataan pembangunan hingga ke pelosok negeri, termasuk wilayah Indonesia Timur seperti Papua dan Papua Pegunungan. Program strategis seperti Tol Laut, Trans Papua, dan pembangunan Bandara Wamena menjadi simbol komitmennya terhadap keterhubungan dan keadilan sosial.
Perjalanan Karier dan Kiprah Politik
Jokowi memulai karier politiknya dari bawah dengan gaya kepemimpinan yang dikenal sederhana dan dekat dengan rakyat. Sebagai Wali Kota Surakarta, ia berhasil mengubah citra kota menjadi destinasi wisata budaya dan kota perdagangan yang tertib. Ia menata pedagang kaki lima, memperbaiki pasar tradisional, serta membangun ruang publik seperti taman kota dan jalur pedestrian.
Saat menjadi Gubernur DKI Jakarta, Jokowi memperkenalkan program Kartu Jakarta Sehat (KJS) dan Kartu Jakarta Pintar (KJP) yang menjadi cikal bakal kebijakan nasionalnya di bidang kesejahteraan. Ia juga menggagas proyek Mass Rapid Transit (MRT) Jakarta dan menata sistem birokrasi pemerintahan agar lebih efisien dan transparan.
Gaya Kepemimpinan dan Kebijakan Penting
Sebagai Presiden ke-7 Republik Indonesia, Joko Widodo dikenal dengan gaya kepemimpinan yang sederhana, merakyat, dan berbasis kerja nyata. Ia sering turun langsung ke lapangan dalam kegiatan yang dikenal sebagai “blusukan”, untuk memastikan program pemerintah berjalan sesuai kebutuhan masyarakat.
Pendekatan ini membuatnya populer di berbagai kalangan dan dianggap berhasil membangun komunikasi langsung antara pemerintah pusat dan rakyat. Jokowi juga menekankan prinsip transparansi, efisiensi birokrasi, dan percepatan layanan publik, yang menjadi dasar reformasi administrasi selama masa kepemimpinannya.
Di bidang pembangunan infrastruktur, Jokowi menjadikannya prioritas utama sejak awal masa jabatannya. Berdasarkan data Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR, 2023), selama dua periode pemerintahannya, telah dibangun lebih dari 2.000 km jalan tol, 18.000 km jalan nasional, serta 16 bandara baru.
Akhir Masa Jabatan dan Pengaruh Politik
Menjelang akhir masa jabatannya, Jokowi menghadapi tantangan berat seperti pandemi COVID-19, fluktuasi ekonomi global, dan isu lingkungan hidup. Namun, kebijakan cepatnya dalam penanganan pandemi termasuk program vaksinasi massal dan pemulihan ekonomi nasional (PEN) mendapat pengakuan internasional.
Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS, 2023), pertumbuhan ekonomi Indonesia kembali stabil di atas 5%, dan tingkat kemiskinan menurun ke level terendah dalam satu dekade.
Meskipun beberapa kebijakan, seperti pemindahan Ibu Kota Negara (IKN) ke Kalimantan Timur, menuai pro dan kontra, proyek tersebut tetap menjadi warisan besar dari visi jangka panjang Jokowi.
Setelah dua periode menjabat, Jokowi meninggalkan jejak kuat sebagai pemimpin transformasional, yang berhasil membawa Indonesia menuju arah pembangunan yang lebih modern, berdaya saing, dan berkeadilan.



