Close Menu
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Facebook X (Twitter) Instagram
Senin, 29 Juni 2026
Trending
  • Kemendikdasmen Percepat Pembangunan Sekolah di Aceh Bersama TNI
  • Prancis vs Norwegia Live TVRI Pagi, Jadwal Grup I Pildun 2026 dan Nonton Bareng Kalsel
  • Diskon Tiket Jakarta-Surabaya-Makassar: Jadwal Kapal Pelni 8 Kali dengan KM Labobar, Tidar, Ciremai, Nggapulu
  • Bisa Kebanyakan Serat Gangguhi Pencernaan?
  • Taufik Hidayat Akui Tahan Pacar di Bandung, 3 Ucapan Jitu Mantan Bos Bocor
  • 20 Soal PPPK Tendik Terbaru dengan HOTS dan Pembahasan
  • Afrika Selatan Ciptakan Sejarah Lolos ke Babak 32 Besar Piala Dunia 2026 Usai Kalahkan Korsel
  • Daftar Peralatan Wajib di Mobil Saat Liburan Keluarga
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok Threads RSS
Indonesia Discover
Login
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Indonesia Discover
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
  • Olahraga
  • Login
Home»Ragam»Teknologi»Mata Digital Abad Ini
Teknologi

Mata Digital Abad Ini

admin_indonesiadiscoverBy admin_indonesiadiscover17 Mei 2026Tidak ada komentar5 Mins Read
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
Share
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link



Oleh Ahmadie Thaha, Kolumnis

Indonesiadiscover.com.CO.ID, JAKARTA — Nama yang diambil dari dunia fiksi, tapi dampaknya terasa sangat nyata. Palantir, sebuah kata yang dipinjam dari batu pengintai dalam kisah The Lord of the Rings, alat milik Sauron untuk melihat jauh dan mengawasi siapa saja. Ia metafora yang terlalu jujur untuk nama sebuah perusahaan. Tampaknya sejak awal ia memang tidak berniat menyembunyikan ambisinya: melihat segalanya, sebagaimana Anda menyaksikannya digunakan Sauron.

Perusahaan ini lahir tahun 2003, didirikan oleh Peter Thiel —otak di balik PayPal— bersama Alex Karp, Joe Lonsdale, Stephen Cohen, dan Nathan Gettings. Nama “Pal” di Palantir bukan sekadar kebetulan linguistik. Ia adalah jejak genetik. PayPal adalah sekolahnya, tempat mereka belajar satu hal penting: data bisa mengungkap pola tersembunyi. Di PayPal, pola itu digunakan untuk mendeteksi penipuan. Di Palantir, pola itu ditingkatkan skalanya — dari penipu menjadi teroris, dari transaksi mencurigakan menjadi target militer.

Jika PayPal membantu Anda mengirim uang dengan aman, Palantir membantu negara menentukan siapa yang harus diawasi, ditangkap, atau dalam beberapa kasus ekstrem — diserang. Cara kerjanya tidak sesederhana “mengintai”. Ia lebih mirip mesin penggabung realitas. Platform seperti Gotham mengumpulkan potongan-potongan data dari berbagai sumber: intelijen manusia dari agen lapangan, sinyal komunikasi yang disadap, citra satelit, rekaman CCTV, data imigrasi, transaksi finansial, bahkan jejak digital di media sosial.

Semua potongan itu, yang tadinya tercerai-berai di berbagai lembaga —CIA, NSA, FBI, militer— dikumpulkan, disatukan, lalu dirajut menjadi satu narasi utuh. Seorang manusia tidak lagi dilihat sebagai individu, tetapi sebagai jaringan relasi: siapa temannya, ke mana ia pergi, apa kebiasaannya, siapa yang sering ia hubungi. Di titik itu, mesin Palantir mulai “berpikir”. Ia mencari pola. Ia mendeteksi anomali. Ia menyusun kemungkinan. Dari sekadar mengetahui, sistem ini beralih menjadi memprediksi. Dari memprediksi, ia memberi rekomendasi. Dan di ujung rantai itu, manusia bersenjata mengambil keputusan.

Dalam operasi militer modern, proses ini dikenal sebagai kill chain — rantai pembunuhan. Dulu, rantai ini lambat, bergantung pada laporan manual dan intuisi. Kini, dengan perangkat seperti Palantir, rantai itu dipercepat, dipadatkan, dan — ironisnya — dipoles menjadi lebih “rasional”.

Di sinilah kita perlu berhenti sejenak, bukan untuk menolak teknologi, tetapi untuk membandingkan. Dalam khazanah kita, ada kisah tentang seorang nabi yang juga diberi “mata” — bukan mata biasa, tetapi kemampuan melihat yang melampaui batas manusia. Ia adalah Nabi Sulaiman ‘alaihis salam. Namun “mata” Sulaiman bukanlah hasil rekayasa algoritma. Ia adalah anugerah Ilahi. Ia tidak digunakan untuk mengontrol, tetapi untuk menegakkan keadilan.

Ketika burung Hudhud membawa informasi tentang sebuah kerajaan, itu bukan sekadar intelijen, tetapi bagian dari hikmah dan amanah. Informasi tidak berdiri sendiri; ia terikat pada tanggung jawab moral yang langsung kepada Allah SWT. Bandingkan dengan “mata” modern bernama Palantir. Ia mengumpulkan segalanya, tapi tidak memiliki wahyu. Ia memprediksi segalanya, tapi tidak memiliki hikmah. Ia merekomendasikan tindakan, tapi tidak memikul tanggung jawab moral di hadapan Yang Maha Mengetahui.

Di sinilah perbedaan itu menjadi sangat tajam: antara penglihatan yang diberi untuk membimbing, dan penglihatan yang dibangun untuk menguasai. Dalam konteks konflik seperti ketegangan Amerika Serikat, Israel, dan Iran, sistem semacam ini memainkan peran yang tidak selalu terlihat di layar televisi. Ketika sebuah serangan presisi terjadi, sering kali di belakangnya ada analitik data yang menyaring ribuan kemungkinan target menjadi satu titik koordinat.

Dalam operasi Israel di Gaza, penggunaan sistem berbasis data untuk identifikasi target telah menjadi bagian dari strategi militer modern. Amerika Serikat sendiri mengakui penggunaan perangkat lunak analitik untuk mendukung penentuan target dalam operasi luar negeri. Namun Palantir tidak berhenti di medan perang. Ia juga masuk ke ruang kota. Di tangan aparat penegak hukum, sistem ini digunakan untuk predictive policing — memprediksi kejahatan sebelum terjadi.

Di Los Angeles, data warga — alamat, hubungan sosial, aktivitas digital — dikumpulkan untuk memetakan siapa yang berpotensi menjadi pelaku atau korban. Sebuah kota berubah menjadi papan catur, dan warganya menjadi bidak yang dianalisis. Pembeli mesin itu? Daftarnya panjang seperti katalog negara modern. Departemen Pertahanan Amerika Serikat, CIA, NSA, FBI, hingga Immigration and Customs Enforcement telah lama memakai Palantir. Di luar negeri, ada militer Inggris, pasukan Israel, Ukraina, serta berbagai kepolisian di Eropa. Palantir tidak menjual aplikasi. Ia menjual kesadaran situasional — kemampuan melihat lebih cepat, lebih luas, dan lebih dalam daripada lawan.

Dan di sinilah kita kembali ke Alex Karp dan manifestonya. Ketika ia menyerukan agar Silicon Valley berhenti membuat aplikasi dan mulai membangun kekuatan militer berbasis perangkat lunak, ia tidak sedang membuka jalan baru. Ia sedang memperluas jalan tol yang sudah dibangunnya sendiri. Ia berbicara tentang republik, tentang tanggung jawab moral, tentang pertahanan peradaban Barat. Tapi di balik semua itu, ada logika yang lebih sederhana: dunia yang penuh konflik adalah dunia yang membutuhkan produknya.

Kita hidup di zaman ketika mata-mata tidak lagi harus menyamar di kedutaan. Ia bisa berupa server di ruang dingin, memproses miliaran data setiap detik. Penyusupan tidak lagi selalu melalui agen manusia, tetapi melalui integrasi sistem. Intelijen tidak lagi hanya laporan rahasia, tetapi dashboard interaktif dengan grafik dan peta. Dan di tengah semua itu, Palantir berdiri sebagai simbol zaman: ketika kekuasaan tidak hanya dipegang oleh negara, tetapi juga oleh perusahaan yang tahu lebih banyak daripada negara itu sendiri.

Maka pertanyaannya bukan lagi apakah teknologi ini akan digunakan. Itu sudah terjadi. Pertanyaannya adalah: ketika dunia bisa dilihat seperti peta digital yang rapi, apakah kita masih melihat manusia sebagai manusia — atau hanya sebagai titik yang bisa dipilih, disorot, dan jika perlu, dihapus?

Peristiwa ini memberi kita satu pelajaran yang sunyi tapi dalam. Bahwa setiap zaman punya “mata”-nya sendiri. Dulu, mata itu adalah amanah. Hari ini, ia berisiko menjadi alat. Dan di antara keduanya, kita diuji: apakah kita masih ingat untuk siapa sebenarnya kita melihat?

Ma’had Tadabbur al-Qur’an, 14/5/2026

Share. Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
admin_indonesiadiscover
  • Website

Berita Terkait

HP Xiaomi Murah di Bawah Rp1 Juta Bulan Juni 2026: Redmi dan POCO Hadir

25 Juni 2026

Alasan ASUS TUF Gaming F16 Jadi Laptop Gaming Terbaik 2026

25 Juni 2026

Harga HP Realme Juni 2026: Seri C100 Dimulai dari Rp 2.499.000

25 Juni 2026
Leave A Reply Cancel Reply

Berita Terbaru

Kemendikdasmen Percepat Pembangunan Sekolah di Aceh Bersama TNI

29 Juni 2026

Prancis vs Norwegia Live TVRI Pagi, Jadwal Grup I Pildun 2026 dan Nonton Bareng Kalsel

29 Juni 2026

Diskon Tiket Jakarta-Surabaya-Makassar: Jadwal Kapal Pelni 8 Kali dengan KM Labobar, Tidar, Ciremai, Nggapulu

29 Juni 2026

Bisa Kebanyakan Serat Gangguhi Pencernaan?

29 Juni 2026
© 2026 IndonesiaDiscover. Designed by Indonesiadiscover.com.
  • Home
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • PT. Indonesia Discover Multimedia
  • Indeks Berita

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

Sign In or Register

Welcome Back!

Login to your account below.

Lost password?