Kelompok Ekstrem Kanan di Berlin: Anak Muda yang Melawan Kekerasan dan Rasisme
Di tengah kota Berlin, terdapat distrik Marzahn-Hellersdorf yang penuh kontras. Di sini, perumahan bertipe panel beton yang luas berdampingan dengan ruang hijau yang menarik bagi keluarga-keluarga. Namun, di balik kesan tenang dan bersih ini, ada ancaman yang tersembunyi dari kelompok ekstrem kanan yang terus berkembang.
Anne, seorang aktivis muda berusia 30 tahun, telah menghabiskan waktu untuk mengamati dan mencatat kekerasan serta rasisme yang dilakukan oleh kelompok ekstrem kanan di distrik tersebut. Ia tidak takut melawan, meskipun sering menjadi target kebencian neo-Nazi. “Di sini ada neo-Nazi yang ingin menunjukkan hegemoni di jalan,” katanya. Mereka menggunakan stiker atau grafiti untuk menunjukkan dominasi mereka di lingkungan tersebut.
Di berbagai distrik di Berlin, banyak pemuda seperti Anne yang melakukan hal serupa. Mereka mencatat insiden-insiden yang terjadi dan berupaya memperlihatkan seberapa besar bahaya yang ditimbulkan oleh kelompok ekstrem kanan. Tujuan mereka adalah memberi ruang bagi mereka yang terdampak.
Marzahn-Hellersdorf: Distrik yang Penuh Kontras
Marzahn-Hellersdorf seperti dunia tersendiri di ibu kota Jerman. Meski memiliki perumahan bertipe panel beton terbesar di Eropa dan ruang hijau yang indah, distrik ini juga memiliki masalah sosial yang kompleks. Dalam laporan polisi, dua dari anggota kelompok neo-Nazi tercatat berusia di bawah 14 tahun. Ini menunjukkan bahwa anak-anak muda semakin terlibat dalam kegiatan ekstrem kanan.
Dua kelompok yang paling menonjol di kawasan ini adalah “Deutsche Jugend voran” dan “Jung und Stark”. Mereka biasanya menyebarkan kebencian terhadap kaum queer, migran, atau lawan politik di media sosial. Namun, di Marzahn-Hellersdorf, mereka juga melakukan penyerangan pada komunitas LGBTQ saat acara Christopher Street Day.

Kekerasan dan kebencian di kawasan ini tidak selalu tampak secara langsung. Banyak jalanan yang terlihat indah dan bersih, tetapi di balik itu, ada tanda-tanda kebencian yang tersebar. Contohnya, stiker yang menempel di tiang lampu dengan tulisan “Deutschland den Deutschen” (Jerman untuk orang Jerman) dan logo Kleinstpartei, partai neo-Nazi.
Perubahan Nilai-nilai di Kalangan Anak Muda
Gordon Lemm, Wakil Walikota distrik Marzahn-Hellersdorf, mengamati penyebaran kekerasan dan kebencian ini. Ia menyebutkan bahwa kaum queer menjadi sasaran utama. “Di distrik ini, kami memiliki lebih sedikit tempat yang aman,” katanya. Ia juga melihat adanya perubahan nilai-nilai di kalangan anak muda. “Perempuan seharusnya kembali mengambil peran tradisional dan laki-laki harus menjadi pencari nafkah.”
Perubahan ini diperparah oleh meningkatnya ketidakpastian sosial. Lemm merasakan bahwa banyak orang yang mementingkan diri sendiri dan tidak ingin menonjol. Ada semacam tembok pelindung yang ditunjukkan lewat penampilan luar: rambut pendek, menggunakan pakaian tertentu, karena tidak ingin menjadi korban.
Perlakuan Rasisme Terhadap Para Migran
Farzaneh, seorang perempuan berusia 30 tahun yang tinggal di Hellersdorf, pertama kali merasakan kerasnya perlakuan kelompok ekstrem kanan. Ia mengenakan jilbab dan berasal dari keluarga yang lahir di Afganistan. “Di tempat kami tinggal, ibu saya dihina oleh seorang perempuan tua,” katanya. Dia melawan rasisme dengan cara yang kuat. “Saya tidak lemah hanya karena saya perempuan. Saya bisa melindungi diri.”
Farzaneh mencintai Berlin dan ingin menjadi warga negara Jerman setelah lulus SMA dan kuliah. “Hal baik di Jerman: Setidaknya kita bisa melapor ke lembaga anti-diskriminasi. Di Iran tidak ada lembaga seperti itu.”

Barbara Jungnickel juga ingin turut melawan. Setiap minggu, ia membuka ‘gerobak’ khusus yang direnovasi dan diletakkannya di tengah-tengah Hellersdorf. ‘Gerobak’ itu menjadi tempat pertemuan bernama ‘Café auf Rädern’ (Kafe Beroda). Ia mengundang para tetangga untuk menikmati kopi dan kue. Tujuannya adalah untuk berdialog dengan semua orang dan melawan kebencian.
Perlawanan yang Tak Pernah Berhenti
Barbara Jungnickel, Anne, Farzaneh, Wakil Wali Kota Gordon Lemm – mereka tidak ingin menyerahkan kota ini kepada minoritas agresif yang membenci sesama manusia. Mereka terus melawan tren yang mengkhawatirkan di Jerman ini. Dengan keberanian dan tekad, mereka berusaha menciptakan kerukunan dan keamanan bagi semua warga.



