Close Menu
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Facebook X (Twitter) Instagram
Kamis, 14 Mei 2026
Trending
  • Busi Balap: Meningkatkan Performa atau Hanya Ilusi?
  • Mengapa Alam Semesta Ada? Ilmuwan Temukan Petunjuknya di Sini
  • Jalur Marathon Menuju MJM 2026, Bank Mandiri Dorong Dampak Sosial Berkelanjutan
  • Mereka yang Berjuang Melawan Kekerasan Neo-Nazi di Ibu Kota
  • Daftar 55 Pemain Timnas Argentina untuk Piala Dunia 2026: Messi Masuk, Dybala Absen
  • Markas Judul di Indonesia Terus Berkembang, Said Didu Bocorkan Sosok di Baliknya
  • Di Manakah Mojtaba Khamenei Saat Trump Berbicara? Rahasia Intelijen AS Terungkap
  • Perubahan iklim dan ancaman hantavirus lama
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok Threads RSS
Indonesia Discover
Login
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Indonesia Discover
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
  • Olahraga
  • Login
Home»Nasional»Hukum»Mereka yang Berjuang Melawan Kekerasan Neo-Nazi di Ibu Kota
Hukum

Mereka yang Berjuang Melawan Kekerasan Neo-Nazi di Ibu Kota

admin_indonesiadiscoverBy admin_indonesiadiscover14 Mei 2026Tidak ada komentar4 Mins Read
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
Share
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link

Kelompok Ekstrem Kanan di Berlin: Anak Muda yang Melawan Kekerasan dan Rasisme

Di tengah kota Berlin, terdapat distrik Marzahn-Hellersdorf yang penuh kontras. Di sini, perumahan bertipe panel beton yang luas berdampingan dengan ruang hijau yang menarik bagi keluarga-keluarga. Namun, di balik kesan tenang dan bersih ini, ada ancaman yang tersembunyi dari kelompok ekstrem kanan yang terus berkembang.

Anne, seorang aktivis muda berusia 30 tahun, telah menghabiskan waktu untuk mengamati dan mencatat kekerasan serta rasisme yang dilakukan oleh kelompok ekstrem kanan di distrik tersebut. Ia tidak takut melawan, meskipun sering menjadi target kebencian neo-Nazi. “Di sini ada neo-Nazi yang ingin menunjukkan hegemoni di jalan,” katanya. Mereka menggunakan stiker atau grafiti untuk menunjukkan dominasi mereka di lingkungan tersebut.

Di berbagai distrik di Berlin, banyak pemuda seperti Anne yang melakukan hal serupa. Mereka mencatat insiden-insiden yang terjadi dan berupaya memperlihatkan seberapa besar bahaya yang ditimbulkan oleh kelompok ekstrem kanan. Tujuan mereka adalah memberi ruang bagi mereka yang terdampak.

Marzahn-Hellersdorf: Distrik yang Penuh Kontras

Marzahn-Hellersdorf seperti dunia tersendiri di ibu kota Jerman. Meski memiliki perumahan bertipe panel beton terbesar di Eropa dan ruang hijau yang indah, distrik ini juga memiliki masalah sosial yang kompleks. Dalam laporan polisi, dua dari anggota kelompok neo-Nazi tercatat berusia di bawah 14 tahun. Ini menunjukkan bahwa anak-anak muda semakin terlibat dalam kegiatan ekstrem kanan.

Dua kelompok yang paling menonjol di kawasan ini adalah “Deutsche Jugend voran” dan “Jung und Stark”. Mereka biasanya menyebarkan kebencian terhadap kaum queer, migran, atau lawan politik di media sosial. Namun, di Marzahn-Hellersdorf, mereka juga melakukan penyerangan pada komunitas LGBTQ saat acara Christopher Street Day.

Kekerasan dan kebencian di kawasan ini tidak selalu tampak secara langsung. Banyak jalanan yang terlihat indah dan bersih, tetapi di balik itu, ada tanda-tanda kebencian yang tersebar. Contohnya, stiker yang menempel di tiang lampu dengan tulisan “Deutschland den Deutschen” (Jerman untuk orang Jerman) dan logo Kleinstpartei, partai neo-Nazi.

Perubahan Nilai-nilai di Kalangan Anak Muda

Gordon Lemm, Wakil Walikota distrik Marzahn-Hellersdorf, mengamati penyebaran kekerasan dan kebencian ini. Ia menyebutkan bahwa kaum queer menjadi sasaran utama. “Di distrik ini, kami memiliki lebih sedikit tempat yang aman,” katanya. Ia juga melihat adanya perubahan nilai-nilai di kalangan anak muda. “Perempuan seharusnya kembali mengambil peran tradisional dan laki-laki harus menjadi pencari nafkah.”

Perubahan ini diperparah oleh meningkatnya ketidakpastian sosial. Lemm merasakan bahwa banyak orang yang mementingkan diri sendiri dan tidak ingin menonjol. Ada semacam tembok pelindung yang ditunjukkan lewat penampilan luar: rambut pendek, menggunakan pakaian tertentu, karena tidak ingin menjadi korban.

Perlakuan Rasisme Terhadap Para Migran

Farzaneh, seorang perempuan berusia 30 tahun yang tinggal di Hellersdorf, pertama kali merasakan kerasnya perlakuan kelompok ekstrem kanan. Ia mengenakan jilbab dan berasal dari keluarga yang lahir di Afganistan. “Di tempat kami tinggal, ibu saya dihina oleh seorang perempuan tua,” katanya. Dia melawan rasisme dengan cara yang kuat. “Saya tidak lemah hanya karena saya perempuan. Saya bisa melindungi diri.”

Farzaneh mencintai Berlin dan ingin menjadi warga negara Jerman setelah lulus SMA dan kuliah. “Hal baik di Jerman: Setidaknya kita bisa melapor ke lembaga anti-diskriminasi. Di Iran tidak ada lembaga seperti itu.”

Barbara Jungnickel juga ingin turut melawan. Setiap minggu, ia membuka ‘gerobak’ khusus yang direnovasi dan diletakkannya di tengah-tengah Hellersdorf. ‘Gerobak’ itu menjadi tempat pertemuan bernama ‘Café auf Rädern’ (Kafe Beroda). Ia mengundang para tetangga untuk menikmati kopi dan kue. Tujuannya adalah untuk berdialog dengan semua orang dan melawan kebencian.

Perlawanan yang Tak Pernah Berhenti

Barbara Jungnickel, Anne, Farzaneh, Wakil Wali Kota Gordon Lemm – mereka tidak ingin menyerahkan kota ini kepada minoritas agresif yang membenci sesama manusia. Mereka terus melawan tren yang mengkhawatirkan di Jerman ini. Dengan keberanian dan tekad, mereka berusaha menciptakan kerukunan dan keamanan bagi semua warga.

Share. Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
admin_indonesiadiscover
  • Website

Berita Terkait

Eks Kasat Narkoba dan Mantan Istri Koh Erwin Diperiksa Terkait TPPU

14 Mei 2026

Tragedi KKA 1999: Ratusan Warga Tewas Ditembak Tentara di Aceh

14 Mei 2026

Arik Cs Divonis Seumur Hidup Atas Pembunuhan Mandor Proyek di Gianyar

14 Mei 2026
Leave A Reply Cancel Reply

Berita Terbaru

Busi Balap: Meningkatkan Performa atau Hanya Ilusi?

14 Mei 2026

Mengapa Alam Semesta Ada? Ilmuwan Temukan Petunjuknya di Sini

14 Mei 2026

Jalur Marathon Menuju MJM 2026, Bank Mandiri Dorong Dampak Sosial Berkelanjutan

14 Mei 2026

Mereka yang Berjuang Melawan Kekerasan Neo-Nazi di Ibu Kota

14 Mei 2026
© 2026 IndonesiaDiscover. Designed by Indonesiadiscover.com.
  • Home
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • PT. Indonesia Discover Multimedia
  • Indeks Berita

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

Sign In or Register

Welcome Back!

Login to your account below.

Lost password?