Close Menu
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Facebook X (Twitter) Instagram
Jumat, 15 Mei 2026
Trending
  • CEO NVIDIA: 4 Prinsip Sederhana Hadapi Revolusi AI
  • Klaim Palsu Larangan Dokumentasi di Masjidil Haram Beredar di Media Sosial
  • Mahfud MD Ungkap Ketidakadilan Penegakan Hukum, Terkesan Dipaksakan dan Kencangkan Target: Tidak Profesional
  • Mbappe Mungkin Tinggalkan Madrid, Isu ke Liverpool Muncul Saat Reds Incar Estevao Chelsea
  • Jejak Kain Lukis Nasrafa: Dari Brosur ke Pasar Global
  • Khawatir Ditinggal Amerika, Eropa Cari Perlindungan dari Rusia?
  • PMI Manufaktur Kembali Kontraksi, Ini Saham Paling Terkena Dampak
  • Gempa Bumi Mengguncang Maluku Utara Hari Ini, 11 Mei 2026
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok Threads RSS
Indonesia Discover
Login
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Indonesia Discover
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
  • Olahraga
  • Login
Home»Internasional»Khawatir Ditinggal Amerika, Eropa Cari Perlindungan dari Rusia?
Internasional

Khawatir Ditinggal Amerika, Eropa Cari Perlindungan dari Rusia?

admin_indonesiadiscoverBy admin_indonesiadiscover15 Mei 2026Tidak ada komentar7 Mins Read
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
Share
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link

Kekhawatiran Eropa terhadap Keamanan yang Berubah

Selama puluhan tahun, Eropa merasa aman karena adanya perlindungan dari Amerika Serikat. Namun kini, rasa aman itu mulai goyah, bukan hanya karena ancaman dari Rusia, tetapi juga karena perubahan kebijakan Amerika sendiri. Itulah kegelisahan besar yang kini tengah melanda para pemimpin Eropa.

Sejak Perang Dunia II berakhir hampir 80 tahun lalu, Amerika Serikat menjadi tulang punggung keamanan Eropa melalui NATO, organisasi pertahanan bersama yang berdiri di atas satu keyakinan sederhana: jika salah satu anggota diserang, semua anggota akan membela. Selama puluhan tahun, keyakinan itu tidak pernah diragukan. Namun di bawah Presiden Donald Trump, sesuatu mulai berubah. Washington mengambil langkah yang mengejutkan banyak pihak: menarik sekitar 5.000 tentara Amerika dari Jerman. Bagi sebagian orang, itu mungkin terdengar seperti urusan teknis militer biasa. Namun bagi para pemimpin Eropa, langkah itu adalah sinyal yang jauh lebih dalam, bahwa ‘Paman Sam’ mulai mengurangi keterlibatannya di Eropa.

Analis senior Paul Taylor dalam tulisannya menyebut para pemimpin Eropa kini mulai mempertanyakan sesuatu yang dulu tak pernah terlintas di pikiran mereka: bagaimana jika suatu hari Amerika benar-benar tidak lagi menjadi pelindung utama Eropa.

Terjepit di Antara Dua Ketakutan

Masalahnya, Eropa tidak bisa begitu saja berpaling dari Amerika. Ketergantungan itu sudah sangat dalam. Dalam hal senjata nuklir, jaringan mata-mata, pengiriman logistik militer, hingga teknologi satelit, Eropa masih sangat mengandalkan Amerika. Membangun semua itu sendiri butuh waktu puluhan tahun dan biaya yang luar biasa besar.

Di saat yang sama, ancaman dari Rusia tidak menunggu. Sejak invasi Rusia ke Ukraina pada 2022, negara-negara Eropa yang berbatasan langsung dengan Rusia, seperti Polandia, Estonia, Latvia, dan Lithuania, hidup dalam kecemasan yang nyata. Mereka tahu betul apa artinya punya tetangga yang agresif dan bersenjata lengkap. Hasilnya, Eropa kini terjepit di antara dua ketakutan sekaligus: takut terhadap Rusia di timur, takut kehilangan Amerika di barat.

Jerman Bangkit, Eropa Berubah

Kegelisahan itu mendorong perubahan besar yang bahkan beberapa tahun lalu sulit dibayangkan. Jerman, negara yang selama puluhan tahun sengaja membatasi kekuatan militernya sendiri sebagai bentuk pertanggungjawaban atas tragedi Perang Dunia II, kini justru didorong untuk menjadi kekuatan pertahanan terbesar di Eropa. Taylor mencatat bahwa Berlin menargetkan pembangunan angkatan darat konvensional terkuat di Eropa pada 2039. Sebuah pembalikan arah yang luar biasa dari negara yang selama hampir satu abad berusaha menjauh dari citra militer.

Negara-negara Eropa lainnya pun mulai menaikkan anggaran pertahanan mereka. Pabrik senjata beroperasi lebih cepat. Wajib militer yang sempat dihapus di beberapa negara mulai dipertimbangkan kembali. Eropa, kawasan yang selama puluhan tahun bangga dengan pendekatan diplomasi dan perdamaian, kini terpaksa kembali berbicara tentang kekuatan militer.

Polandia Menjadi Benteng Baru Eropa

Jika Jerman adalah kejutan terbesar dalam kebangkitan militer Eropa, maka Polandia adalah yang paling bersemangat. Negara yang pernah dihancurkan habis-habisan dalam Perang Dunia II ini kini justru menjadi salah satu negara dengan pertumbuhan anggaran militer tertinggi di seluruh NATO. Warsawa mengalokasikan hampir empat persen dari total ekonominya untuk pertahanan, jauh melampaui standar minimum NATO yang hanya dua persen. Bagi Polandia, ini bukan sekadar angka. Ini adalah pelajaran pahit dari sejarah: negara yang tidak siap berperang adalah negara yang paling mudah dihancurkan.

Negara-Negara Baltik: Hidup di Bawah Bayang-Bayang Rusia

Tiga negara kecil di tepi Laut Baltik, Estonia, Latvia, dan Lithuania, mungkin adalah negara-negara yang paling memahami arti ancaman Rusia secara langsung. Ketiganya pernah berada di bawah kekuasaan Uni Soviet selama hampir setengah abad. Ketika Rusia menyerbu Ukraina, reaksi mereka bukan terkejut, melainkan merasa bahwa ketakutan lama mereka akhirnya terbukti benar. Estonia kini mewajibkan seluruh warga laki-lakinya menjalani wajib militer. Latvia membangun bunker perlindungan sipil di kota-kota besar. Lithuania secara terbuka meminta NATO menempatkan lebih banyak pasukan permanen di wilayahnya. Bagi negara-negara Baltik, membangun pertahanan bukan pilihan, itu adalah soal kelangsungan hidup.

Prancis: Mimpi Lama tentang Eropa yang Berdiri Sendiri

Di tengah kegalauan itu, Presiden Prancis Emmanuel Macron justru melihat peluang. Sudah sejak lama Macron menyuarakan gagasan yang dulu sering dianggap terlalu ambisius: Eropa harus memiliki kekuatan pertahanan mandiri yang tidak bergantung sepenuhnya pada Amerika. Gagasan itu dulu disambut dingin oleh banyak negara Eropa yang merasa NATO sudah cukup. Namun kini, setelah Washington mulai menunjukkan tanda-tanda ketidakpastian, suara Macron tiba-tiba terdengar jauh lebih relevan. Prancis sendiri memang satu-satunya negara di Eropa yang memiliki senjata nuklir sendiri, sebuah kemandirian strategis yang kini makin diperhitungkan.



Kanselir Jerman Friedrich Merz bersama Bundeswehr yang mengalami transformasi – (tangkapan layar)

Industri Senjata

Kebangkitan militer Eropa bukan hanya soal niat dan anggaran, tetapi juga soal kapasitas produksi. Selama puluhan tahun damai, banyak pabrik senjata Eropa beroperasi jauh di bawah kapasitas penuhnya. Kini mereka dipaksa berpacu dengan waktu. Swedia, yang baru saja resmi bergabung dengan NATO pada 2024 setelah dua abad lebih memilih netralitas, langsung menghidupkan kembali jalur produksi senjatanya. Finlandia, yang berbagi perbatasan sepanjang 1.300 kilometer dengan Rusia, mempercepat pembelian sistem pertahanan udara canggih. Bahkan Denmark dan Belanda, dua negara yang selama ini dikenal lebih fokus pada diplomasi, mulai menaikkan anggaran pertahanan mereka secara signifikan.

Tidak Satu Suara

Namun di balik semangat membangun pertahanan bersama, Eropa menyimpan tantangan yang tidak kalah rumit: perpecahan internal. Tidak semua negara anggota Uni Eropa memiliki pandangan yang sama. Hungaria di bawah Perdana Menteri Viktor Orban justru memilih jalan berbeda, mempertahankan hubungan hangat dengan Moskow dan kerap memblokir kesepakatan bersama Uni Eropa terkait sanksi terhadap Rusia. Slovakia pun menunjukkan keraguan serupa. Kenyataan ini mengingatkan bahwa Eropa bukan satu negara dengan satu keputusan, melainkan 27 negara dengan sejarah, kepentingan, dan ketakutan yang berbeda-beda. Membangun pertahanan bersama di atas fondasi yang retak di dalam bukanlah pekerjaan mudah.

Suara dari Kanada

Di tengah kegalauan itu, muncul suara yang cukup mengejutkan dari Mark Carney, ekonom kawakan yang pernah memimpin bank sentral Kanada dan kini menjabat Perdana Menteri Kanada. Carney menilai dunia yang dibangun setelah Perang Dunia II, dunia yang mengutamakan kerja sama antarnegara, menghormati aturan bersama, dan membangun lembaga internasional seperti PBB dan NATO, kini sedang berada di titik yang sangat rapuh. Menurutnya, Amerika Serikat mulai menarik diri dari peran lamanya sebagai pemimpin dunia yang menjaga ketertiban global.

“Amerika sedang berbalik ke dalam dirinya sendiri,” kata Carney. Ia menilai dunia kini semakin bergerak ke arah persaingan keras antarkekuatan besar, di mana setiap negara lebih mengutamakan kepentingannya sendiri dibanding kepentingan bersama. Situasi seperti ini, kata Carney, justru berbahaya bagi semua pihak, termasuk Amerika sendiri. Namun Carney juga menegaskan bahwa Eropa tidak boleh menyerah begitu saja. “Eropa tidak akan tunduk pada dunia yang sempit dan brutal,” ujarnya.



Tiga pesawat jet tempur Rafale berada di atas Kapal Induk Charles de Gaulle (R91) yang bersandar di Pelabuhan Gili Mas, Desa Labuan Tereng, Kecamatan Lembar, Lombok Barat, NTB, Sabtu (1/2/2025). – (ANTARA FOTO/Ahmad Subaidi)

Pelajaran dari Sejarah yang Terlupakan

Ada ironi besar dalam semua ini. Eropa adalah benua yang paling tahu betapa mahalnya harga perang. Dua perang dunia lahir dari tanah Eropa. Puluhan juta nyawa melayang. Kota-kota besar rata dengan tanah. Itulah mengapa setelah 1945, Eropa bersumpah untuk membangun dunia yang berbeda, dunia yang menyelesaikan masalah lewat meja perundingan, bukan medan perang. Selama hampir delapan dekade, sumpah itu berhasil dijaga. Namun kini, sumpah itu sedang diuji oleh kenyataan yang tidak mereka pilih.

Eropa di Persimpangan Jalan

Para pengamat geopolitik melihat Eropa kini sedang berdiri di persimpangan sejarah. Pilihan yang ada di depan mereka tidak ada yang mudah. Jika terus bergantung pada Amerika, mereka mempertaruhkan keamanan mereka pada kebijakan Washington yang semakin tidak bisa diprediksi. Jika membangun pertahanan mandiri sepenuhnya, mereka butuh waktu, uang, dan kesatuan politik yang belum tentu dimiliki 27 negara anggota Uni Eropa yang sering berbeda pendapat. Satu hal yang tampaknya sudah pasti: tatanan lama Eropa, yang nyaman, stabil, dan terlindungi, sedang berakhir. Eropa harus memutuskan sendiri seperti apa wajah barunya.

Share. Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
admin_indonesiadiscover
  • Website

Berita Terkait

Iran Tanggapi Usulan Damai AS, Fokus Awal Berhentikan Perang

15 Mei 2026

Kopi Indonesia Melangkah ke Dunia di World of Coffee 2026

15 Mei 2026

Timnas Indonesia Terjebak Grup Berat Piala Asia 2027, Hadapi Jepang, Thailand, dan Qatar

15 Mei 2026
Leave A Reply Cancel Reply

Berita Terbaru

CEO NVIDIA: 4 Prinsip Sederhana Hadapi Revolusi AI

15 Mei 2026

Klaim Palsu Larangan Dokumentasi di Masjidil Haram Beredar di Media Sosial

15 Mei 2026

Mahfud MD Ungkap Ketidakadilan Penegakan Hukum, Terkesan Dipaksakan dan Kencangkan Target: Tidak Profesional

15 Mei 2026

Mbappe Mungkin Tinggalkan Madrid, Isu ke Liverpool Muncul Saat Reds Incar Estevao Chelsea

15 Mei 2026
© 2026 IndonesiaDiscover. Designed by Indonesiadiscover.com.
  • Home
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • PT. Indonesia Discover Multimedia
  • Indeks Berita

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

Sign In or Register

Welcome Back!

Login to your account below.

Lost password?