Keluarga Curiga atas Kematian Anggota TNI AL yang Diklaim Bunuh Diri
Keluarga dari Kelasi Dua Ghofirul Kasyfi, yang dikenal dengan panggilan Ovy, mengungkapkan kecurigaan terhadap kematian putranya di dalam KRI Radjiman Wedyodiningrat. Menurut informasi yang diterima oleh pihak keluarga, korban meninggal pada akhir Maret 2026 dan diklaim sebagai tindakan bunuh diri oleh TNI AL. Namun, kondisi jenazah yang ditemukan menimbulkan banyak pertanyaan.
Banyak Luka Lebam dan Pendarahan di Tubuh Korban
Saat peti jenazah dibuka, pihak keluarga menemukan banyak luka lebam di tubuh Ovy serta pendarahan di bagian selangkangan. Hal ini bertentangan dengan klaim bahwa luka tersebut hanya merupakan tanda lahir. Ayah korban, Mahbub Madani, menyatakan bahwa kondisi tersebut sangat janggal dan memicu keinginan untuk melakukan autopsi.
Menurut pengakuan Mahbub, Ovy baru saja bertugas di KRI Radjiman Wedyodiningrat sekitar dua bulan sebelum meninggal. Ia menjalani masa orientasi selama tiga bulan di kapal bantu rumah sakit tersebut. Selama masa tugasnya, Ovy sering berkomunikasi dengan keluarga, terutama sang ibu.
Penganiayaan Hingga Sering Dipukul Oleh Senior
Dalam komunikasinya, Ovy mengaku sering dipukul oleh senior-seniornya. Penganiayaan itu dilakukan hampir setiap malam dan tidak hanya dari satu orang, melainkan puluhan orang. Ovy juga menyampaikan bahwa jam istirahatnya sangat singkat, hanya satu jam sehari.
“Anak saya mengaku dipukul seniornya. Bukan hanya satu tapi sampai puluhan orang,” ujar Mahbub. “Bahkan dia bilang tidak kuat dan ingin pindah ke kapal di Surabaya. Saat itu kapalnya dia di Jakarta.”
Selain itu, Ovy juga mengeluhkan bahwa ia sering diberi tugas berlebihan dan tidak memiliki waktu istirahat yang cukup. Ia bahkan kerap mengirim pesan minta tolong kepada keluarga.
Kedatangan Orang yang Mengaku Senior
Pada suatu hari, dua orang yang mengaku sebagai senior Ovy datang ke rumah keluarga. Mereka menyatakan bahwa Ovy kabur dari kapal. Namun, beberapa hari kemudian, pihak keluarga mendapatkan kabar bahwa Ovy meninggal dunia di dalam kamar kapal.
“Anak saya ditemukan meninggal dunia di dalam kamar di kapal tersebut. Padahal, kata mereka sebelumnya sudah di geledah di kamar dan anak saya tidak ada,” ujar Mahbub.
Klaim Bunuh Diri yang Diragukan
TNI AL memberikan informasi bahwa Ovy meninggal karena bunuh diri. Namun, keluarga merasa hal tersebut mustahil. Mahbub menyatakan bahwa Ovy adalah orang yang tegar dan pernah belajar bela diri, sehingga mentalnya cukup kuat.
“Bagi kami itu hal yang mustahil dilakukan anak saya. Dia itu orangnya tegar dan dia juga ikut bela diri jadi mentalnya cukup kuat. Pilihan bunuh diri bagi dia rasanya tidak mungkin,” katanya.
Proses Pemulangan Jenazah dan Autopsi
Jenazah Ovy akhirnya dipulangkan ke Bangkalan pada 27 April 2026. Saat peti jenazah dibuka, keluarga melihat wajah Ovy yang lebam-lebam. Di pagi harinya, pihak keluarga memutuskan untuk membuka seluruh peti jenazah.
Di situ, kejanggalan soal kematian Ovy semakin terlihat karena banyak lebam di tubuh korban. Di bagian selangkangan juga mengeluarkan darah. Mahbub menegaskan bahwa luka di leher Ovy tidak sesuai dengan cara bunuh diri yang biasanya terjadi.
“Lebih aneh lagi, luka di leher anak saya itu di sini (leher bawah). Seharusnya, kalau memang bunuh diri, tali ke atas karena tubuhnya merosot ke bawah,” ujarnya.
Keinginan untuk Melakukan Autopsi
Ayah korban juga mengungkapkan bahwa ia sangat marah saat melihat kondisi tubuh Ovy. Ia berkeinginan untuk melakukan autopsi agar penyebab kematian putranya dapat diungkap secara jelas.



