Kondisi Menyedihkan di Daycare Little Aresha
Anak-anak yang dititipkan di daycare Little Aresha diduga mengalami kekerasan dan penelantaran. Banyak dari mereka mengalami luka fisik seperti tangan melepuh, lecet di bibir, badan, atau bagian tubuh lainnya. Sejumlah anak hanya diberi popok tanpa baju atau celana dan ditidurkan beralas matras. Mereka juga menderita sakit seperti batuk, pilek, pneumonia, serta trauma.
Total ada 103 anak yang dititipkan di daycare tersebut, dengan sekitar 53 di antaranya diduga mengalami kekerasan dan penelantaran. Polisi telah memeriksa 30 orang pengelola daycare dan menetapkan 13 orang sebagai tersangka. Bangunan kamar berukuran sekitar 3×3 meter persegi menjadi saksi bisu puluhan anak menangis, menjerit, dan ketakutan karena perlakuan diskriminatif yang dialami oleh para pengasuhnya.
Pengalaman Orang Tua
Orang tua terpukul setelah mengetahui tindakan kekerasan yang dilakukan oleh pengasuh di daycare tersebut. Luka yang dialami anak-anak umumnya sama, seperti kulit melepuh, bekas cubitan dan cakaran, luka pada punggung hingga luka di bagian bibir. Mayoritas anak-anak di daycare tersebut juga terkonfirmasi mengalami pneumonia.
Kesaksian para orang tua mengungkap bahwa tindakan kekerasan yang dilakukan oleh pengasuh sangat di luar batas. Seorang orang tua, Noorman, menitipkan dua anak di daycare tersebut sejak 2022 hingga 2025, sejak usia tiga bulan hingga genap dua tahun. Dia kaget ketika mendengar informasi dugaan penganiayaan di daycare tersebut. Dia mulai menyadari jika selama ini anaknya sering mengalami luka bukan tanpa sebab. Melainkan diduga karena mendapat kekerasan oleh pengasuhnya.
Noorman menyampaikan bahwa selama dititipkan di daycare tersebut, anaknya sering sakit. Hampir sebulan sekali dia harus ke rumah sakit dan terakhir dokter memvonis pneumonia juga gangguan paru-paru. “Nah, ternyata yang kena pneumonia tidak hanya anak saya, tapi ternyata ada beberapa anak juga pneumonia,” ungkapnya.
Luka yang Mengkhawatirkan
Noorman memperlihatkan foto anaknya sempat mengalami luka di punggung serta di bibir bagian atas. Luka di punggung terlihat seperti goresan yang terlihat memerah. Sedangkan luka di bibir masih tampak sedikit darah mengering. “Ada goresan. Jadi gini, setiap pagi itu kadang saya memandikan anak saya. Setahu saya tidak ada luka,” ungkapnya.
Ketika sampai di daycare tidak berselang berapa malam kemudian ada pemberitahuan dari daycare melaporkan bahwa ada luka di punggung sama di bibir semenjak kedatangan sang anak, luka itu seolah-olah memang berasal dari rumah. “Jadi mereka bilang ini luka dari rumah, ya, Bun,” ucapnya menirukan penjelasan daycare.
Tangan Melepuh
Orang tua wali lainnya, Choirunisa, merasakan kepedihan yang sama. Ketika ditemui, matanya berkaca-kaca tak kuasa melihat anaknya mengalami luka. Setiap kali menjemput anaknya di daycare, dia selalu menemukan ada beberapa luka di tubuh sang anak. Puncaknya pada Jumat (24/4) sore kemarin ketika dia menjemput anaknya, ternyata ada banyak polisi berjaga-jaga di lokasi. Di saat itulah dia tersadar bahwa anaknya ternyata diperlakukan tidak semestinya hingga mengalami luka-luka.
Anaknya yang berusia 1 tahun 5 bulan itu kini mengalami sakit pilek yang berkepanjangan. Serta ditemukan beberapa bekas luka yang masih terlihat jelas. “Dia pilek sampai sekarang belum sembuh. Terus batuk, biasanya enggak pernah batuk. Batuknya sampai mutah-mutah terus. Berat badannya juga dari hampir sembilan, jadi turun sampai delapan. Lukanya, ini ada fotonya. Ini semalam (Jumat),” ungkapnya.
Wanita 34 tahun itu turut memperlihatkan bekas luka masih terlihat jelas di punggung sang anak yang tampak seperti sebuah pukulan benda. Bahkan pada bagian tangan anaknya juga terlihat jelas ada luka melepuh seperti terkena benda panas. “Kayak gini (melepuh) ini pas hari Jumat juga, dua minggu lalu. Bilangnya kena cacar air atau gimana. Tapi kalau kena cacar air, itu cuma bagian tangan sini sampai ini saja. Itu tangan dua-duanya, seperti melepuh,” ujarnya.
Nisa juga mengetahui sendiri bahwa anaknya ternyata selama di daycare tidur tanpa busana di lantai tanpa alas. Kebiasaan ini akhirnya terbawa ke rumah. Anaknya setiap tidur di rumah selalu menangis dan menolak tidur di kasur. “Dia menangis minta tidur di bawah, kebiasan di daycare ternyata tidurnya di bawah,” tuturnya.
Trauma yang Mendalam
Salah satu wali murid berinisial HF, tak menyangka bahwa para pengasuh daycare tersebut bertindak keji kepada anak-anak. Dia sempat menitipkan keponakannya yang berusia 3,5 tahun. Sejak awal HF telah menaruh curiga bahwa ada hal yang tidak biasa muncul pada diri keponakannya. Anak tersebut menunjukkan gelagat ketakutan setiap mau berangkat ke penitipan. “Baru masuk satu hari, di hari kedua anak sudah ketakutan. Setiap mau berangkat selalu bilang enggak mau, enggak mau. Intinya dia takut sekali untuk masuk ke sana,” jelasnya, saat ditemui Jumat malam (24/4).
Karena anak merasa ketakutan, kemudian pihak keluarga sampai harus melakukan berbagai cara untuk membujuknya termasuk membelikannya mainan atau makanan kesukaan supaya bersedia dititipkan. Meski sudah diajak berkeliling dan dibelikan mainan, HF menyebut keponakannya tetap tidak mau dititipkan ke Little Aresha. Belakangan diketahui bahwa alasan keponakannya ketakutan lantaran beberapa oknum pengasuhnya galak dan menjurus pada dugaan tindakan kriminal. “Katanya miss-nya (guru) galak-galak. Awalnya kami pikir karena belum penyesuaian saja, tapi ketakutannya tidak wajar,” urainya.
Kecurigaan keluarga semakin memuncak setelah mendengar kabar yang beredar mengenai adanya kekerasan fisik yang dialami oleh anak-anak lain di tempat tersebut. HF mendapatkan informasi bahwa ada anak yang diduga sempat diikat tangannya di penitipan anak tersebut. “Saya langsung konfirmasi ke kakak saya yang di Jayapura, ternyata memang ada kabar medsos seperti itu. Pantas saja dulu keponakan saya traumanya luar biasa,” lanjutnya.
Meski pada keponakannya sendiri tidak ditemukan luka lebam secara fisik, namun HF menyebut jika secara psikis anak tersebut mengalami trauma mendalam. Alasan keamanan dan kemudahan pantauan keluarga akhirnya membuat pihak keluarga memindahkan sang keponakan ke sekolah lain di daerah Rejowinangun.
Penindakan Polisi
Daycare Little Aresha digerebek aparat kepolisian pada Jumat sore (24/4). Kasatreskrim Polresta Yogyakarta, Kompol Rizki Adrian menjelaskan, diduga kuat beberapa oknum di dalamnya melakukan tindak pidana kekerasan terhadap anak. Polisi mulanya mendapat laporan masyarakat terkait dugaan kekerasan dan diskriminatif yang dialami para anak-anak di sana. Ada pula anak-anak selalu menangis setiap hendak diantar ke lokasi penitipan.
Hasil pendalaman pihak kepolisian, di antaranya total yang dititipkan di daycare tersebut ada 103 anak, namun yang benar-benar mendapat tindakan kekerasan sekitar 53 anak dengan rentang usia di bawah 2 tahun. Polisi menemukan fakta bahwa terjadi perlakuan tidak manusiawi, mulai dari tindakan diskriminatif hingga kekerasan terhadap anak-anak. Tindakan-tindakan itu di antaranya ada anak-anak yang diikat kakinya, tangannya diikat, dan beberapa dari anak mengalami luka-luka.
Adrian menuturkan berdasarkan lama kerja para pengasuh yang lebih dari satu tahun, diperkirakan tindakan kekerasan yang dialami anak-anak di sana berlangsung lebih dari satu tahun lamanya. “Untuk informasi detailnya nanti hari Senin (besok) kami rilis,” ucapnya.
Kondisi Kamar yang Memprihatinkan
Saat ini pihak kepolisian masih terus mendalami kasus tersebut. Para terlapor yang diamankan sebanyak 30 orang terpantau masih berada di Polresta Yogyakarta menunggu diperiksa secara maraton. Dari total yang diperiksa, 25 di antaranya merupakan para pengasuh anak. Sedangkan lima lainnya terdiri dari ketua yayasan serta pejabat struktural di daycare tersebut.
Selain dugaan kekerasan, Adrian menyebut kondisi tempat penitipan anak di daycare Little Aresha memprihatinkan. Ada tiga kamar masing-masing berukuran sekitar 3×3 meter persegi yang diisi sebanyak 20 anak per kamar. Tindakan ini menurutnya sudah mengarah pada memperlakukan anak dengan tidak manusiawi. Menurut Adrian, para anak-anak ditelantarkan begitu saja. Bahkan dari mereka ada yang muntah namun tidak ada upaya atau tindakan membersihkan.
Kapolresta Yogyakarta, Kombes Pol Eva Guna Pandia mengatakan, kasus itu terungkap seusai salah satu karyawan melihat bahwa perlakuan terhadap anak yang dititipkan kurang manusiawi. “Sehingga kurang sesuai dengan hati nuraninya karena mungkin ada yang dianiaya, ditelantarkan,” ungkapnya, Sabtu (25/4). Hingga semalam, polisi telah menetapkan 13 tersangka, terdiri dari kepala yayasan, kepala sekolah, dan 11 pengasuh.



