Pembangunan fasilitas manufaktur vertikal di Subang Smartpolitan, Jawa Barat, resmi dimulai oleh tiga perusahaan tekstil terintegrasi. Proyek ini menjadi langkah strategis dalam memanfaatkan peluang yang ditawarkan oleh Perjanjian Kemitraan Ekonomi Komprehensif Indonesia-Uni Eropa (IEU-CEPA).
Strategi Perusahaan untuk Memperkuat Rantai Pasok Global
Direktur PT Binkova Textiles Indonesia, Sun Jianjun, menjelaskan bahwa pembangunan fasilitas ini bertujuan untuk memperkuat posisi perusahaan dalam rantai pasok global. Dengan menghadirkan teknologi manufaktur modern, perusahaan berkomitmen untuk menjamin efisiensi operasional dan ketelusuran produk sesuai standar keberlanjutan internasional.
Peletakan batu pertama pabrik dilakukan pada 23 April 2026. Investasi sebesar US$60 juta ini tidak hanya menandai awal pembangunan fisik pabrik, tetapi juga pengembangan ekosistem produksi tekstil terintegrasi yang mencakup seluruh tahapan manufaktur dalam satu kawasan.
Potensi Penyerapan Tenaga Kerja dan Segmen Usaha
Secara keseluruhan, proyek ini diperkirakan mampu menyerap tenaga kerja sebanyak 3.000 hingga 3.800 orang. Tiga entitas yang akan beroperasi meliputi:
PT Binkova Textiles Indonesia, yang fokus pada segmen pencelupan dan penyelesaian kain (dyeing & finishing)
PT Dafei Textile Indonesia, yang menghasilkan kain melalui proses tenun dan rajut
* PT Serendipity Fashion Indonesia, sebagai produsen garmen
Langkah ini dilakukan seiring meningkatnya daya tarik Indonesia sebagai tujuan investasi industri tekstil dan pakaian jadi. Ketiga perusahaan tersebut merupakan mitra dari merek fesyen global H&M, sehingga mereka membangun rantai pasok vertikal guna memenuhi ketentuan proses dua tahap (two-stage process) dalam skema tarif nol persen IEU-CEPA.
Target Selesai pada Akhir 2026
Pembangunan fasilitas ini ditargetkan rampung pada akhir 2026, dengan operasional produksi penuh dimulai setelahnya. Produk yang dihasilkan akan menyasar pasar ekspor, termasuk memenuhi permintaan H&M.
Konektivitas dan Dampak Ekonomi
Chief Commercial Officer Subang Smartpolitan, Abednego Purnomo, menilai masuknya investasi ini menunjukkan kesiapan kawasan industri tersebut dalam menyediakan ekosistem manufaktur terintegrasi dari hulu hingga hilir. Konektivitas kawasan ke Tol Cipali dan kedekatannya dengan Pelabuhan Patimban menjadi faktor kunci dalam mendukung efisiensi logistik bagi industri berorientasi ekspor.
Selain itu, kehadiran industri ini tidak hanya menyerap tenaga kerja secara langsung di dalam pabrik, tetapi juga akan menciptakan tiga sampai empat lapangan pekerjaan turunan lainnya di sektor pendukung seperti penyedia jasa logistik, layanan catering, laundry, dan lainnya di sekitar kawasan.
Harapan untuk Pertumbuhan Ekonomi Nasional
Direktur Promosi Investasi ASEAN, Australia, Selandia Baru, dan Pasifik BKPM, Saribua Siahaan, berharap realisasi investasi ini dapat mendorong pertumbuhan ekonomi daerah sekaligus berkontribusi terhadap target pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 8% pada 2029.
Dari sisi industri, Environmental Sustainability & Public Affairs Lead H&M Production Indonesia, Budiasti Wulansari, menilai integrasi proses produksi dalam satu kawasan menjadi peluang bagi peningkatan daya saing industri tekstil nasional di pasar global. Model two-stage process tidak hanya meningkatkan efisiensi biaya, tetapi juga memastikan pemenuhan standar keberlanjutan yang semakin menjadi tuntutan pasar internasional.
Lokasi Strategis dan Masa Depan Industri
Pemilihan Subang Smartpolitan sebagai lokasi investasi didukung oleh infrastruktur terintegrasi dan akses logistik strategis, menjadikannya sebagai hub potensial bagi manufaktur berbasis ekspor. Investasi ini diharapkan dapat memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok global industri fesyen sekaligus meningkatkan nilai tambah sektor tekstil dalam negeri.



