Close Menu
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Facebook X (Twitter) Instagram
Rabu, 30 September 2026
Trending
  • Sahabat Jadi Selingkuhan, Pasangan Sendiri Dikhianati!
  • Prediksi superkomputer terkait klasemen akhir fase awal Liga Champions 2026/2027
  • 6 strategi memanfaatkan waktu yang terbuang untuk meningkatkan karier menurut psikologi
  • PSM Makassar vs Arema FC di Super League 2026/2027: Head to head, prediksi skor, daftar pemain
  • PSM Makassar vs Arema FC di Super League 2026/2027: Head to head, prediksi skor, daftar pemain
  • 5 zodiak dengan ramalan keuangan paling cerah September 2026, karier hingga relasi jadi kuncinya!
  • 6 alasan mengapa media sosial membuat anak-anak yang mulai remaja merasa menderita menurut psikologi
  • Nilai pasaran tembus Rp 163 miliar! Persija Jakarta belum puas dan masih buru pemain baru
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok Threads RSS
Indonesia Discover
Login
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Indonesia Discover
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
  • Olahraga
  • Login
Home»Ragam»Teknologi»Dilema Konsumen Internet Rumah: Cepat Pasang atau Stabil?
Teknologi

Dilema Konsumen Internet Rumah: Cepat Pasang atau Stabil?

admin_indonesiadiscoverBy admin_indonesiadiscover25 April 2026Tidak ada komentar4 Mins Read
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
Share
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link



Pengembangan layanan internet rumah dengan harga terjangkau dan kecepatan tinggi semakin menarik perhatian masyarakat. Layanan seperti fixed wireless access (FWA) yang ditawarkan oleh Surge dan MyRepublic dengan harga Rp100.000-an menunjukkan potensi besar dalam memenuhi kebutuhan akses internet. Namun, keberhasilannya tidak hanya bergantung pada harga, tetapi juga pada stabilitas jaringan dan preferensi konsumen.

Ian Joseph Matheus Edward, seorang pengamat dari Institut Teknologi Bandung (ITB), mengatakan bahwa hadirnya layanan internet murah dan cepat akan berdampak signifikan terhadap struktur pasar. Ia menekankan pentingnya pemahaman konsumen terhadap perbedaan teknologi FWA, FTTH, dan seluler. Setiap teknologi memiliki kelebihan dan kekurangan yang saling melengkapi.

Perbedaan Teknologi Internet Rumah

Fiber to the home (FTTH) adalah koneksi internet yang menggunakan kabel serat optik murni hingga ke titik masuk rumah pelanggan. Kelebihannya adalah stabilitas yang sangat baik dan tidak terpengaruh oleh gangguan cuaca atau interferensi frekuensi radio. Namun, proses instalasi memakan waktu lebih lama dibanding teknologi lainnya.

Sementara itu, FWA menggunakan gelombang radio (biasanya melalui jaringan 4G atau 5G) untuk menyediakan akses internet ke perangkat tetap di lokasi pelanggan. Proses instalasi sangat cepat dan biaya penggelaran lebih murah dibanding FTTH. Namun, kekurangannya adalah ketergantungan pada kualitas sinyal dari BTS dan kapasitas jaringan yang harus dibagi dengan pengguna seluler lainnya.

Seluler, sebagai alternatif, dirancang khusus untuk mobilitas melalui perangkat genggam seperti ponsel pintar. Kelebihannya adalah fleksibilitas tinggi, tetapi kekurangannya adalah keterbatasan kuota dan kecepatan yang bisa berfluktuasi tergantung kepadatan pengguna.

“Konsumen akan memilih layanan antara FWA 100 Mbps dengan harga Rp100.000-an atau FTTH yang stabil dan jaminan kualitas layanan (QoS) atau seluler yang fleksibel,” kata Ian.

Menurut survei, meskipun harga bandwidth semakin murah seiring perkembangan teknologi, stabilitas tetap menjadi faktor utama yang diperhitungkan. Hal ini menunjukkan adanya diferensiasi layanan yang saling melengkapi di pasar.

Karakteristik Pasar Fixed Broadband

Agung Harsoyo, pengamat ITB lainnya, menilai karakteristik pasar fixed broadband tidak sedinamis pasar seluler. Ia memperkirakan sekitar 10% pelanggan bersifat fleksibel dan berpotensi beralih operator. Jika diasumsikan sama untuk fixed broadband, maka ada sekitar 2 juta pelanggan potensial yang bisa beralih ke layanan internet murah.

Saat ini, terdapat sekitar 20 juta pelanggan FTTH, sementara jumlah rumah tangga yang telah teraliri listrik mencapai sekitar 80 juta. Ini menunjukkan bahwa peluang ekspansi pelanggan baru masih sangat besar.

Pelanggan FTTH umumnya tidak terlalu sensitif terhadap harga, melainkan lebih mengutamakan kualitas layanan (QoS). Oleh karena itu, operator perlu terus meningkatkan kualitas untuk mempertahankan loyalitas pelanggan. Di sisi lain, biaya penggelaran jaringan relatif seragam antaroperator, sehingga mekanisme pasar akan menjaga harga pada level tertentu.

Perkembangan Pasar dan Persaingan

Masyarakat Telematika Indonesia (Mastel) menilai struktur pasar saat ini terdiri dari fixed broadband (FBB), mobile broadband (MBB), dan fixed mobile convergence (FMC). FBB dan MBB disebut telah matang, sehingga sensitif terhadap harga dan kualitas, termasuk kecepatan dan latensi.

Ketua Umum Mastel, Sarwoto Atmosutarno, menyatakan bahwa jika internet Rp100.000 masuk dalam kategori FBB, persaingan akan fokus pada konsistensi kualitas layanan. “Kualitas layanan yang konsisten menjadi kunci di FBB. Konsumen mudah berpindah,” katanya.

Dia menambahkan bahwa tiga operator besar (Telkomsel, XLSMART, dan Indosat) telah mengonsolidasikan bisnisnya dan akan lebih fokus pada FMC, sehingga ruang kompetisi juga akan bergeser ke segmen tersebut. Dalam kondisi ini, pelaku FBB skala kecil diperkirakan menghadapi tekanan dan berpotensi melakukan merger atau akuisisi untuk mencapai skala ekonomi.

“Kita setuju Komdigi mulai kampanye perlunya konsep infrastruktur sharing dilaksanakan,” katanya.

Tantangan dan Peluang Masa Depan

Ke depan, Sarwoto menilai konsumen tidak hanya mempertimbangkan harga bandwidth murah, tetapi juga kualitas dan kenyamanan, terutama dengan semakin berkembangnya penggunaan teknologi berbasis AI. Dia juga menilai batas antara layanan fixed dan mobile akan semakin kabur, sementara nilai tambah akan bergeser ke aplikasi yang mendukung aktivitas ekonomi dan sosial.

“Jasa nilai tambahnya adalah aplikasi yang mendorong aktifitas ekonomi dan sosial para pelanggannya. Fixed atau mobile sudah tidak ada bedanya,” ungkapnya.

Share. Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
admin_indonesiadiscover
  • Website

Berita Terkait

Huawei Klaim Xinghe Tingkatkan Kecepatan AI 20 Persen

25 Agustus 2026

30 Soal UH IPS Kelas 9 SMP Tema 2 Ekonomi Digital Kurikulum Merdeka 2026

25 Agustus 2026

Rekomendasi laptop 2026 untuk mahasiswa, harga Rp5-10 jutaan

25 Agustus 2026
Leave A Reply Cancel Reply

Berita Terbaru

Sahabat Jadi Selingkuhan, Pasangan Sendiri Dikhianati!

27 September 2026

Prediksi superkomputer terkait klasemen akhir fase awal Liga Champions 2026/2027

16 September 2026

6 strategi memanfaatkan waktu yang terbuang untuk meningkatkan karier menurut psikologi

16 September 2026

PSM Makassar vs Arema FC di Super League 2026/2027: Head to head, prediksi skor, daftar pemain

16 September 2026
© 2026 IndonesiaDiscover. Designed by Indonesiadiscover.com.
  • Home
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • PT. Indonesia Discover Multimedia
  • Indeks Berita

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

Sign In or Register

Welcome Back!

Login to your account below.

Lost password?