Close Menu
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Facebook X (Twitter) Instagram
Kamis, 23 April 2026
Trending
  • Laga Dewa United vs Persib Bandung, Andrew Jung Siap Beraksi Lagi
  • Ramalan keuangan shio besok Selasa 21 April 2026: Karier, Bisnis, dan Keberuntungan
  • 5 Kapal Iran Disita AS, Harga Minyak Kembali Naik
  • Jejak Karier Ubedilah Badrun, Dosen UNJ yang Dilaporkan ke Polisi Akibat Kritik Prabowo-Gibran
  • Wajah Dua Pelaku Penikaman Nus Kei di Bandara
  • Cara jadi perencana keuangan CFP, profesi berbayar!
  • Strategi Hemat BBM TNI AL: Drone dan KSOT Patroli Laut
  • Kenyamanan Naik Maxus Mifa9, Seperti Jadi CEO
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok Threads RSS
Indonesia Discover
Login
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Indonesia Discover
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
  • Olahraga
  • Login
Home»Nasional»5 Kapal Iran Disita AS, Harga Minyak Kembali Naik
Nasional

5 Kapal Iran Disita AS, Harga Minyak Kembali Naik

admin_indonesiadiscoverBy admin_indonesiadiscover23 April 2026Tidak ada komentar5 Mins Read
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
Share
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link

Serangan AS terhadap Kapal Iran di Selat Hormuz Memicu Kekacauan Global

Amerika Serikat (AS) menyerang dan menyita sebuah kapal kargo berbendera Iran, Minggu (19/4/2026), yang disebut mencoba menghindari blokade angkatan laut di dekat Selat Hormuz. Menurut pihak AS, kapal tersebut telah melakukan tindakan ilegal dengan mencoba melewati perbatasan yang ditetapkan. Serangan ini memicu reaksi keras dari Iran, yang menuduh AS melanggar gencatan senjata.

Komando militer gabungan Iran bersumpah untuk membalas serangan tersebut, sementara para mediator sedang berupaya memperpanjang gencatan senjata yang akan berakhir pada Rabu (22/4/2026). Presiden AS Donald Trump melalui media sosial menyatakan bahwa kapal perusak rudal berpemandu Angkatan Laut AS di Teluk Oman memperingatkan kapal berbendera Iran, Touska, untuk berhenti dan kemudian “menghentikan mereka tepat di tempatnya dengan membuat lubang di ruang mesin.”

Marinir AS telah menahan kapal yang dikenai sanksi AS tersebut dan sedang memeriksa apa yang ada di dalamnya, kata Trump. Sementara itu, Komando Pusat AS mengatakan bahwa kapal perusak tersebut telah mengeluarkan “peringatan berulang kali selama periode enam jam.”

Iran Tuduh AS Langgar Gencatan Senjata

Komando militer gabungan tertinggi Iran, Khatam al-Anbiya, menuduh AS melanggar gencatan senjata dengan menembaki salah satu kapal dagang Iran di Teluk Oman, dan bersumpah akan membalas. Media pemerintah mengutip juru bicara Khatam Al-Anbiya yang mengatakan pada Senin (20/4/2026) pagi bahwa kapal tersebut sedang dalam perjalanan dari China ke Iran.

“Kami memperingatkan bahwa angkatan bersenjata Republik Islam Iran akan segera menanggapi dan membalas pembajakan bersenjata oleh militer AS ini,” kata juru bicara tersebut. Insiden ini terjadi di tengah ketegangan yang tinggi di Selat Hormuz, jalur vital untuk minyak dan gas alam cair dunia, yang praktis tertutup sejak dimulainya perang AS-Israel dengan Iran tujuh minggu lalu.

Iran sempat membuka kembali selat tersebut pada Jumat (17/4/2026) sebagai pengakuan atas gencatan senjata Israel-Hizbullah di Lebanon, tetapi menutupnya kembali pada hari berikutnya sebagai tanggapan atas blokade yang dipertahankan AS terhadap kapal-kapal yang berlayar ke dan dari pelabuhan Iran. Trump mengatakan Touska berada di bawah sanksi Departemen Keuangan AS “karena riwayat aktivitas ilegal sebelumnya.”

Iran Tolak Negosiasi di Bawah Tekanan AS

Iran menegaskan sikap kerasnya terhadap Amerika Serikat (AS)-Israel dengan menolak segala bentuk negosiasi yang berlangsung di bawah tekanan. Pernyataan ini disampaikan anggota parlemen Iran, Rouhollah Izadkhah, yang merujuk pada arahan Pemimpin Revolusi dan Republik Iran Sayyed Motjaba Khamenei.

“Jika negosiasi terjadi, kita akan memasukinya dari posisi yang kuat dan dengan keyakinan penuh pada angkatan bersenjata kita,” ujar Izadkhah, mengutip Al Mayadeen, Senin (20/4/2026). Ia juga menyampaikan bahwa Iran siap menghadapi Presiden AS, Donald Trump, beserta sekutunya di kawasan. Menurutnya, tujuan negosiasi bukan untuk mengalah, melainkan agar Washington memahami posisi Teheran.

Lebih lanjut, Izadkhah menegaskan sikap tegas negaranya terkait kepentingan strategis. “Kami tidak akan berkompromi dengan siapa pun, dan kami bersikeras pada hak-hak kami di Selat Hormuz.” “Kami akan menetapkan kerangka kerja khusus untuk mengaturnya sesuai dengan hukum internasional,” ujarnya. Ia juga mengejek kebijakan blokade yang diberlakukan Trump di Selat Hormuz sebagai pertunjukan yang gagal, dan menilai bahwa AS tidak berani melakukan serangan langsung terhadap Iran.

Pergerakan Militer AS di Yordania Terungkap

Pergerakan militer Amerika Serikat di Timur Tengah kembali menjadi sorotan global setelah sistem pertahanan rudal canggihnya terungkap oleh citra satelit komersial China. Di tengah gencatan senjata rapuh antara Washington dan Teheran, Pentagon diam-diam memindahkan baterai THAAD dan Patriot di wilayah Yordania.

Namun, langkah senyap tersebut justru terbongkar, menandai babak baru persaingan antara Amerika Serikat, Iran, dan China dalam perang modern berbasis rudal dan intelijen luar angkasa. Citra satelit resolusi tinggi yang dirilis pada 19 April memperlihatkan secara detail lokasi baru peluncur, radar, serta kendaraan pendukung militer AS. Temuan ini memperkuat fakta bahwa bahkan dalam kondisi gencatan senjata, pergerakan militer skala besar tetap sulit disembunyikan di era pengawasan satelit canggih.

Pemindahan sistem pertahanan ini bukan tanpa alasan. Serangan balasan Iran pada Maret lalu dilaporkan merusak instalasi THAAD di sekitar Pangkalan Udara Muwaffaq Salti, Yordania. Radar utama AN/TPY-2 yang menjadi “mata” sistem tersebut mengalami kerusakan signifikan, sehingga memaksa Amerika Serikat mengevaluasi ulang strategi pertahanannya di kawasan.

Harga Minyak Dunia Naik Akibat Kebuntuan AS-Iran

Harga minyak dunia naik pada perdagangan awal, Minggu (19/4/2026), karena kebuntuan antara Iran dan Amerika Serikat (AS) mencegah kapal tanker menggunakan Selat Hormuz, jalur air Teluk Persia yang sangat penting bagi pasokan energi global. Harga minyak mentah AS naik 6,4 persen menjadi $87,90 per barel satu jam setelah perdagangan dilanjutkan di Chicago Mercantile Exchange.

Lalu, harga minyak mentah Brent, standar internasional, naik 5,8 persen menjadi $95,64 per barel. Reaksi pasar tersebut menyusul lebih dari dua hari harapan yang meningkat dan kekecewaan terkait Selat Hormuz. Harga minyak mentah anjlok lebih dari 9 persen pada Jumat (17/4/2026) setelah Iran mengatakan akan sepenuhnya membuka kembali Selat Hormuz, yang secara efektif dikuasainya, untuk lalu lintas komersial.

Teheran membatalkan keputusan itu dan menembaki beberapa kapal pada Sabtu (18/4/2026) setelah Presiden AS Donald Trump mengatakan blokade Angkatan Laut AS terhadap pelabuhan Iran akan tetap berlaku. Pada Minggu, Trump mengatakan AS menyerang dan secara paksa menyita kapal kargo berbendera Iran yang diduga mencoba menghindari blokade tersebut. Selanjutnya, komando militer gabungan Iran bersumpah akan membalas.

Tragedi Keluarga di Louisiana

Seorang pria sekaligus ayah di Louisiana, Amerika Serikat (AS), bernama Shamar Elkins (31), menembak mati delapan bocah, termasuk tujuh anak kandungnya, pada Minggu (19/4/2026) waktu setempat. Dilansir CNN, korban teridentifikasi berinisal JE (3), SE (5), KP (6), LP (7), MP (10), SS (11), KS (6), dan BS (15). Dia mengatakan pelaku juga tewas setelah dirinya ditembak oleh polisi saat berusaha melarikan diri.

Menurut penyelidikan sementara, diduga motif aksi brutal Elkins adalah karena masalah keluarga. Juru bicara Kepolisian Shreveport, Chris Bordelon, mengungkapkan seluruh korban anak yang tewas berada dalam rentang usia 3-11 tahun. Dalam konferensi pers, anggota DPR AS dari Louisiana, Tammy Phelps, menyebut beberapa anak sempat berusaha melarikan diri melalui pintu belakang rumah sebelum ditembak secara brutal oleh Elkins.

Share. Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
admin_indonesiadiscover
  • Website

Berita Terkait

Cara jadi perencana keuangan CFP, profesi berbayar!

23 April 2026

Jejak Karier Ubedilah Badrun, Dosen UNJ yang Dilaporkan ke Polisi Akibat Kritik Prabowo-Gibran

23 April 2026

Wajah Dua Pelaku Penikaman Nus Kei di Bandara

23 April 2026
Leave A Reply Cancel Reply

Berita Terbaru

Laga Dewa United vs Persib Bandung, Andrew Jung Siap Beraksi Lagi

23 April 2026

Ramalan keuangan shio besok Selasa 21 April 2026: Karier, Bisnis, dan Keberuntungan

23 April 2026

5 Kapal Iran Disita AS, Harga Minyak Kembali Naik

23 April 2026

Jejak Karier Ubedilah Badrun, Dosen UNJ yang Dilaporkan ke Polisi Akibat Kritik Prabowo-Gibran

23 April 2026
© 2026 IndonesiaDiscover. Designed by Indonesiadiscover.com.
  • Home
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • PT. Indonesia Discover Multimedia
  • Indeks Berita

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

Sign In or Register

Welcome Back!

Login to your account below.

Lost password?