Kembali ke Masa Kecil dengan Mini 4WD
Di tengah hiruk-pikuk dunia modern, ada satu hal yang mampu menghidupkan kembali kenangan masa kecil: suara dinamo yang nyaring dan lintasan plastik yang terdengar seperti mesin waktu. Bagi generasi yang tumbuh di era 1990-an, suara ini sering kali mengingatkan mereka pada masa lalu ketika anime seperti Dash! Yonkuro atau Let’s & Go menjadi tontonan favorit.
Kini, Mini 4WD atau yang lebih dikenal sebagai Tamiya telah berubah dari sekadar mainan anak-anak menjadi hobi teknis yang serius dan penuh dengan nostalgia. Fenomena ini dapat ditemui di Garasi Tamiya dan Hotwheels yang berada di Jalan Karangjati, Gedongan, Bangunjiwo, Kasongan, Kabupaten Bantul. Pemilik toko ini, Nurlan (41), menjadi saksi langsung bagaimana hobi ini kembali populer dengan wajah yang lebih matang.
Perjalanan Nurlan dalam dunia Tamiya dimulai sejak tahun 2014. Awalnya hanya sebagai hobi, ia mulai mengumpulkan beberapa item yang ia sukai. Dari sana, ia memulai aktivitas jual beli melalui marketplace dan Facebook. Seiring waktu, barang-barang yang ia miliki semakin banyak, sehingga akhirnya ia membuka toko di garasi rumahnya.
Sejak setahun terakhir, Nurlan memindahkan usahanya ke sebuah ruko di wilayah Bantul. Ia menjelaskan bahwa tren Tamiya kembali bangkit karena memori masa lalu. Merakit model Tamiya yang detail memberikan kepuasan tersendiri, dan arena balap menjadi pelampiasan bagi mereka yang di masa kecilnya belum memiliki daya beli.
Nurlan juga menyebutkan fenomena unik yang sering ia temui pada pelanggannya, yang mayoritas berusia 30-an ke atas. Banyak dari mereka datang karena “balas dendam” masa kecil. Dulu, harga Tamiya cukup tinggi, sekitar Rp70.000 sampai Rp80.000, sedangkan merek Auldey lebih murah, antara Rp15.000 sampai Rp20.000.
Ia menjelaskan perbedaan mendasar yang membuat para pelanggannya kini memburu barang orisinal. Meskipun secara kasat mata hampir sama, secara build quality dan materialnya jauh berbeda. Tingkat keawetannya pun berbeda antara Tamiya ori dan Auldey.
Saat ini, bermain Tamiya bukan lagi sekadar soal kecepatan, melainkan merangsang otak. Memodifikasi roller, mengatur gear hingga memilih dinamo memerlukan pemahaman teknis dan strategi yang matang. Ekosistem Tamiya saat ini juga sudah jauh lebih profesional dengan kelas-kelas perlombaan yang serius.
“Karena sekarang Tamiya sudah masuk cabang olahraga (cabor) ekshibisi di PON. Regulasi untuk cabang olahraga Tamiya itu mengharuskan pemakaian Tamiya original, termasuk sparepart-nya semua harus ori,” ujar Nurlan.
Garasi Tamiya miliknya fokus pada penyediaan suku cadang resmi. Harga kit Tamiya biasanya sekitar Rp170.000, seperti seri Avante yang stabil dan tidak membutuhkan banyak setting. Namun, bagi kolektor, harganya bisa meroket. Contohnya, seri-seri Dash! Yonkuro yang lama atau Avante lawas keluaran tahun 2000-an bisa mencapai harga Rp1.000.000.
Ajang Komunitas dan Edukasi
Menyadari kompleksitas ekosistem perlombaan, Nurlan turut berperan sebagai edukator di komunitasnya. Garasi Tamiya tidak hanya tempat transaksi, tetapi juga ruang sosialisasi bagi penggemar dewasa, serta jembatan bagi orang tua dan anak untuk bersama-sama menikmati hobi ini.
Nurlan bekerja sama dengan Tamiya Indonesia untuk edukasi dan regenerasi. Ia membantu pemain baru menentukan kelas mana yang cocok, setup-nya seperti apa, hingga mengarahkan mereka ke part berbahan karbon jika sudah masuk kelas Pro.
Pada akhirnya, lintasan Tamiya hari ini adalah ruang bertemunya banyak hal. Di sana ada kenangan masa kecil yang dirawat dengan saksama, gengsi kompetisi teknis tinggi yang diperjuangkan, serta sekelompok orang dewasa yang tak pernah benar-benar menanggalkan jiwa kanak-kanaknya.



