Wali Kota Makassar Kritik Pengelolaan Sampah yang Belum Optimal
Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, menyampaikan kekecewaannya terhadap pengelolaan sampah di kota tersebut yang belum optimal. Hal ini disampaikannya dalam rapat koordinasi pengelolaan sampah di Balaikota Makassar. Dalam kesempatan tersebut, ia menekankan bahwa masalah sampah bukanlah hal baru, melainkan telah menjadi perhatian sejak lama.
Munafri menilai bahwa sistem pengelolaan sampah di Makassar masih memprihatinkan, terutama di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) yang menjadi titik lemah utama. Ia menyebutkan bahwa TPA masih menggunakan sistem open dumping yang tidak efisien dan berdampak buruk pada lingkungan. Selain itu, air lindi dari TPA merembet hingga 17 hektar ke pemukiman masyarakat, yang menurutnya sangat mengkhawatirkan.
Dalam rapat tersebut, hadir beberapa pihak seperti Kepala Pusat Pengendalian Lingkungan Hidup Sulawesi dan Maluku (Pusdal LH-SUMA), Dr. Azri Rasul, Ketua Dewan Lingkungan Hidup Melinda Aksa, serta seluruh camat dan organisasi perangkat daerah Pemkot Makassar. Munafri menyampaikan arahan selama hampir 15 menit dengan nada tegas dan penuh penekanan.
Ia menyatakan bahwa dirinya telah berkomunikasi intens dengan berbagai pihak, termasuk tenaga ahli dan kepala pusat, untuk mencari solusi konkret. Namun, ia tetap merasa malu ketika melihat kondisi TPA dibandingkan dengan daerah lain. “Saya tidak punya apa-apa, saya cuma punya malu dan harga diri. Dan ini saya tidak mau terjadi tahun depan,” katanya.
Munafri secara tegas meminta dukungan penuh dari seluruh jajaran pemerintah daerah. Ia menekankan pentingnya komitmen lintas sektor dalam menyelesaikan persoalan sampah. Ia juga menyinggung peran masing-masing instansi yang dinilai belum maksimal, seperti kawasan pasar, rumah sakit, pendidikan, dan titik lainnya yang menjadi komponen penilaian Adipura.
Ia memastikan bahwa persoalan TPA akan menjadi prioritas utama ke depan. Bahkan, dirinya telah menginstruksikan pengalokasian anggaran maksimal. Targetnya adalah pada 2026 tidak ada lagi persoalan serupa yang berulang. “Saya tidak mau kita terjebak dalam masalah yang sama,” tegas Munafri.
Peran Masyarakat dalam Pengelolaan Sampah
Munafri juga menyoroti rendahnya kesadaran masyarakat dalam memilah sampah dari sumbernya. Ia menanyakan apakah sampah di kantor atau rumah warga sudah dipilah atau belum. Menurutnya, tanpa perubahan dari level paling dasar, upaya besar pemerintah tidak akan membuahkan hasil.
Selain itu, Munafri mengungkapkan bahwa dirinya sampai meminta bantuan berbagai pihak, termasuk akademisi, untuk turun langsung ke lapangan. Ia mengaku lelah menghadapi berbagai hambatan di lapangan, termasuk penolakan masyarakat saat perbaikan TPA. “Yang lebih konyol, saat kita mau perbaiki TPA malah ditutup masyarakat. Capek!” ungkapnya.
Data dan Masalah Angkut Sampah
Dari sisi data, Munafri memaparkan bahwa kemampuan angkut sampah Makassar masih terbatas. Kemampuan angkut hanya mencapai 67 persen dengan menghasilkan 800 ton per hari. Artinya, masih ada sekitar 30 persen sampah yang tercecer dan tidak tertangani dengan baik. “Ini yang jadi persoalan besar kita,” katanya.
Ia juga menyoroti tingginya biaya pengelolaan sampah di Makassar yang tidak sebanding dengan hasilnya. “Makassar lebih satu juta per ton, tapi tidak selesai persoalan sampah,” ujarnya.
Komitmen untuk Capaian Adipura
Munafri pun menegaskan bahwa capaian Adipura bukan sekadar simbol, melainkan target nyata yang harus diraih. Ia mengajak seluruh pihak untuk bergerak lebih masif dalam pengelolaan sampah, termasuk melibatkan komunitas dan aktivis lingkungan. “Ini bukan persoalan main-main, konsekuensinya besar. Gakkum itu tegas, kalau sudah masuk tidak ada obatnya,” pungkasnya.



