Perkembangan Pasar Mobil Premium di Indonesia
Pasar mobil premium di Indonesia diperkirakan menghadapi berbagai tantangan pada tahun 2026. Hal ini dipengaruhi oleh ketidakpastian geopolitik global, terutama konflik di kawasan Timur Tengah yang berpotensi memengaruhi perekonomian nasional. Menurut Yannes Martinus Pasaribu dari Institut Teknologi Bandung (ITB), pasar mobil premium asal Eropa dan Jepang akan menghadapi tantangan lebih besar dibandingkan tahun sebelumnya.
Konflik antara Iran dengan AS dan Israel berpotensi memicu tekanan ekonomi global. Diantaranya adalah kenaikan harga minyak Brent yang menembus US$100 per barel, pelemahan rupiah hingga mencapai Rp17.000 per dolar AS, serta meningkatnya biaya logistik. Kurs rupiah yang menyentuh angka tersebut membuat harga unit CBU atau CKD kelas atas terkerek naik secara signifikan.
Dari sisi domestik, daya beli konsumen kelas atas relatif tetap kuat. Namun, terdapat kecenderungan pembeli di segmen premium menjadi lebih selektif dalam melakukan pembelian. Selain itu, pasar mobil premium juga mengalami dinamika baru dengan masuknya merek-merek asal China seperti Denza, XPeng, dan Zeekr dengan harga kompetitif.
Yannes menilai konsumen premium mulai mempertimbangkan merek China sebagai alternatif, terutama karena dinilai menawarkan teknologi canggih dengan harga yang lebih rasional. Merek-merek premium Eropa, Jepang, dan Korea Selatan mulai dipandang overpriced. Risiko penurunan penjualan mereka sangat terbuka, jika tidak ada peluncuran model baru yang lebih revolusioner dibandingkan produk premium China dengan desain, fitur, dan spesifikasi yang jauh lebih canggih, tetapi harganya tidak berlebihan.
Dengan kondisi tersebut, Yannes memperkirakan pasar mobil premium asal Eropa, Jepang, dan Korea Selatan pada tahun ini berpotensi terkoreksi tipis atau stagnan dibandingkan tahun sebelumnya. Kecuali jika pabrikan mampu menghadirkan produk yang lebih unggul dengan harga kompetitif terhadap merek premium China.
Optimisme Pabrikan
Dari sisi pabrikan, Mercedes Benz tetap memandang peluang pertumbuhan di segmen premium masih terbuka. Perseroan pun menyiapkan sejumlah strategi guna menjaga performa penjualan tetap stabil.
CEO Inchcape Mercedes Benz Indonesia Donald Rachmat menyampaikan bahwa peluang pasar mobil premium tetap positif, sejalan dengan proyeksi Gaikindo yang memperkirakan pasar otomotif 2026 akan lebih baik dibandingkan tahun sebelumnya. Ia mengatakan bahwa meskipun terdapat banyak faktor eksternal yang saat ini agak mengganggu, hal tersebut merupakan sesuatu yang berada di luar kendali mereka.
Strategi yang ditempuh Mercedes Benz saat ini antara lain memperkuat pelayanan kepada pelanggan, mendorong pertumbuhan jaringan dealer, serta meningkatkan fasilitas kenyamanan baik pada layanan penjualan maupun purnajual. Selain itu, mereka juga menyiapkan produk-produk baru yang akan mereka hadirkan dalam beberapa tahun ke depan. Meraka juga berupaya mengamankan pasokan agar dapat memenuhi kebutuhan pasar dari para pelanggan mereka.
Donald menambahkan bahwa konsumen pada segmen premium memiliki karakteristik berbeda dibandingkan segmen non-premium. Pembelian di kelas ini tidak hanya didorong kebutuhan fungsional, tetapi juga faktor emosional. Ketika emotional buyer ingin membeli, mereka akan tetap melakukan pembelian tanpa terlalu mempertimbangkan kondisi yang ada.
Tantangan Pasar Mobil Premium
Di sisi lain, PT Eurokars Prima Utama (EPU) selaku agen pemegang merek Ferrari di Indonesia mengungkapkan sejumlah tantangan yang membayangi pasar mobil mewah pada 2026. General Manager PT Eurokars Prima Utama Nini Chiandra mengatakan tekanan terbesar berasal dari kondisi global, terutama gejolak geopolitik di Timur Tengah antara Iran dengan Israel dan sekutunya, Amerika Serikat, yang berpotensi memengaruhi berbagai sektor, mulai dari energi hingga industri otomotif.
Ketidakpastian global tersebut berpotensi berdampak pada perekonomian domestik, mengingat mayoritas konsumen Ferrari berasal dari kalangan pelaku usaha yang sensitif terhadap kondisi ekonomi. Meski belum merasakan dampak langsung, pihaknya berharap situasi tidak berkembang lebih jauh. Apalagi kalau melihat dampaknya terhadap minyak dan kondisi dunia secara umum.
Menurutnya, masih terlalu dini untuk menilai adanya penurunan penjualan dibandingkan tahun sebelumnya karena tahun ini baru berjalan sekitar tiga bulan. Meski demikian, pihaknya berharap kinerja 2026 dapat lebih baik. Ferrari juga tetap optimistis produknya masih memiliki permintaan di pasar Indonesia, mengingat segmentasi konsumen yang berada di kelas premium.

Potensi dampak konflik di Timur Tengah juga tidak hanya terkait aktivitas perdagangan regional. Eskalasi konflik berisiko mengganggu rantai pasok global. Selain berpotensi mendorong kenaikan harga minyak dan menghambat jalur logistik, konflik tersebut juga dapat memicu gangguan pasokan chip semikonduktor yang berdampak pada industri otomotif global, termasuk Indonesia.
Terlebih, penjualan mobil nasional menunjukkan tren penurunan dalam tiga tahun terakhir setelah periode pascapandemi Covid-19, yang turut memberi tekanan terhadap kinerja para pabrikan otomotif.
Tren Penjualan Mobil Wholesales Indonesia 2021–2025
- 2021: 887.202 unit
- 2022: 1.048.040 unit (+18,1%)
- 2023: 1.005.802 unit (-4,0%)
- 2024: 865.723 unit (-13,9%)
- 2025: 803.687 unit (-7,2%)




