Banyak penyintas banjir dan longsor di Dataran Tinggi Gayo, Aceh, berusaha untuk melupakan kesedihan mereka dengan menggeluti kesenian tradisional yang disebut Didong. Kesenian ini memadukan gerakan, suara, dan tepukan sebagai cara untuk menyembuhkan luka hati.
Pada akhir November 2025, banjir dan longsor meluluhlantakkan wilayah Dataran Tinggi Gayo, Aceh. Banyak warga kehilangan sanak keluarga, rumah, tanah, kebun, hingga sawah. Di tengah situasi sulit itu, para penyintas mencoba bertahan hidup sekaligus mencari cara untuk menghibur diri. Salah satu caranya adalah dengan menggelar kesenian Didong Gayo atau Didong Tepok—sebuah warisan turun-temurun dari leluhur mereka.
BBC News Indonesia menemui sejumlah seniman Didong di Dataran Tinggi Gayo, Aceh. Berikut kisah mereka:
“Didong itu pelampiasan hati yang luka”
Desa Kalasegi, Kecamatan Bintang, Aceh Tengah, porak-poranda akibat banjir-longsor pada akhir November 2026. Setidaknya 34 unit rumah rusak berat dan tidak bisa lagi ditempati. Desa ini berada dekat Danau Laut Tawar—danau kebanggaan masyarakat Tanah Gayo.
Tidak lama setelah bencana, jalan yang menghubungkan desa itu dengan ibu kota Aceh Tengah, Takengon, tertutup material longsor. Penyintas banjir di Aceh Tengah dan Pidie Jaya merayakan Idulfitri dalam keprihatinan.
Di ruas jalan tersebut, ada sepetak tanah kosong yang didirikan empat tenda untuk ditempati warga Desa Kalasegi yang kehilangan rumah. Di salah-satu tenda itulah Aji Muda Aman Santi tinggal sementara. Ia dikenal sebagai seniman Didong.
Saat ditemui, Aji Muda berusaha menunjukkan bahwa dirinya tidak mau larut dalam duka. Rumahnya hanyut akibat banjir-longsor. Ia ingat betul, 26 November 2025 sore, usai salat magrib, ia bersama keluarga dan masyarakat Kalasegi menyelamatkan diri. Mereka meninggalkan rumah masing-masing setelah bah dan material mulai datang.
Saat itu hujan tidak berhenti sejak sehari sebelumnya. Kepanikan Aji Muda semakin menjadi ketika air mulai datang dari lereng gunung, ada pula kayu dan bebatuan besar yang mulai menggelinding, bumi seolah bergetar.
“Jadi bencana yang sangat dasyat itu jam 02.00 dini hari, bumi ini seperti bergetar, bergetar, betul-betul bergetar,” kenangnya.
Kesenian sebagai terapi
Petaka itu membuatnya kehilangan satu unit mobil, dua sepeda motor, serta SK PNS sang istri, bersama ijazah keluarganya. “Semua dibawa arus, jadi tidak ada lagi yang tersisa,” ujarnya.
Sekitar lima bulan kemudian, sisa-sisa reruntuhan rumahnya masih tertimbun lumpur yang sudah mengering sedalam tiga hingga lima meter.
Sore itu, Aji Muda baru saja mementaskan klub Didong anak-anak. Mereka rencananya akan tampil di hadapan jurnalis televisi. Anak-anak itu dilatih bedidong—istilah untuk penampilan Didong—tidak lama setelah kampungnya luluh lantak.
Kondisi anak-anak saat itu sangat memprihatinkan. Mereka harus berhenti sekolah, dan sebagian mereka menyaksikan langsung kengerian bencana. Melihat keadaan itu, Aji Muda—didukung sejumlah warga—berniat menciptakan syair Didong tentang peristiwa bencana.
Aji Muda dan warga lalu melatih ceh kucak (ceh kecil), untuk melantunkan syair Didong tersebut. Sementara penepuk (gerakan tangan memukul bantal kecil atau tepuk tangan), dilatih oleh orang berbeda.
Di Desa Merodot, yang bersebelahan dengan Desa Kalasegi, Aji Muda menciptakan syair Didong. Syair itulah lantas dilantunkan para pedidong anak-anak.
Gabungan seni tepuk, suara dan gerak
Didong adalah kesenian tradisional masyarakat Gayo, Aceh—secara geografis meliputi Aceh Tengah, Bener Meriah dan Gayo Lues. Kesenian Didong, yang biasanya dimainkan oleh sejumlah pria, menggabungkan seni tepuk, suara (vokal) dan gerak.
Pelantun syair dalam kesenian Didong disebut ceh. Dan di setiap kelompok Didong ada ceh satu, ceh dua dan ceh tiga. Adapun penepuk terdiri dari penepok tingkah masing-masing dua orang, dan penepok bantal yang juga terdiri dari dua orang.
Para penepuk bantal dan tangan inilah yang mengiringi lantunan syair dari para ceh Didong. Didong biasanya dimainkan 15 orang hingga 25 orang—tergantung kebutuhan. Mereka inilah secara keseluruhan disebut klub Didong.
Awalnya, syair Didong sebagai media penyebar agama islam, kemudian berkembang menjadi media penyebaran informasi, kisah, dan sebagai media silaturahmi.
“Air mata mengalir ke pipi, melihat rumah sudah remuk redam”
Klub pedidong cilik sedang duduk dan membentuk setengah lingkaran, mereka akan menampilkan Didong sebagai pelipur lara. Dimulai dengan syair yang dilantunkan sang ceh kucak, Khairullah, yang mengenalkan Didong sebagai kesenian dan budaya orang Gayo, sesi ini milik ceh kucak, tanpa tepukan.
Klub Didong Cilik Arbika, itulah nama klub tersebut, singkatan Ari (dari) Bintang Kalasegi, yang juga nama klub Didong senior yang ada di desa tersebut.
Selesai syair yang terdiri dari beberapa bait pembuka, baru lah tepukan dari anak-anak lain bergema, mengantar menuju syair selanjutnya.
Assalamualaikum ayah, kami berseni…
Arbika [nama klub Didong mereka] cilik ini, mendendangkan lagu Gayo. Ini adalah seni Gayo, ini adalah adat Gayo…
Lirik dari syair yang dinyanyikan Khairullah sebagai Didong pembuka dalam bahasa Gayo, yang bermakna perkenalan terhadap tradisi Didong. Pada bagian berikutnya, Khairullah dibantu tepukan anak-anak yang lain, menceritakan bagaimana banjir dan longsor terjadi pada akhir November lalu, termasuk bagaimana kayu-kayu beserta lumpur hanyut.
“Sejak kecil dilatih nenek bernyanyi”
Usai berDidong, Khairullah kemudian berlarian, bermain bersama rekan-rekannya yang masih duduk di bangku sekolah dasar. Bagi Khairullah, Didong adalah pelipur lara, karena kondisi bencana mereka harus tetap berkumpul bermain bersama.
“Saya senang berDidong, karena bisa berkumpul dan ada kegiatan,” kata Khairullah, pertengahan Februari lalu. Dia mengaku sudah membaca dan menghapal lirik sejak hari kedua bencana, yakni 27 November 2025.
“Hari kedua bencana, kami jumpain Pak Aji, kami minta tolong kepada pak haji untuk ajarkan kami bedidong,” jelas Khairullah. Dia hanya mengetahui Didong itu bercerita tentang bencana.
Didong bagi siswa kelas 5 SD Negeri 7 Bintang itu, bukan sesuatu yang asing, sebab dari kecil, dia sempat diajarkan oleh neneknya untuk mengolah vokal.
“Karena dari kecil, saya sudah dilatih nenek saya untuk bernyanyi,” ucapnya.
Bagi anak-anak penyintas bencana seperti Khairullah, mendapatkan uang setelah tampil merupakan kesenangan tersendiri. “Saya senang karena mendapatkan bantuan dan apa gitu. Sudah 30 kali saya tampil,” katanya.
Dia merasa syair Didong—yang diciptakan Aji Muda—sangat mengena di hati. “Saya suka lagunya, karena sangat cantik dibuat Pak Aji,” ungkap Khairullah.
Proses latihan tidaklah mudah, dia bersama rekannya memakan waktu dua minggu untuk menyatukan vokal, tepok dan gerakan.



