Risiko Kabut Asap Kembali Mengancam Riau
Risiko kabut asap kembali menghantui Provinsi Riau dan sekitarnya. Berdasarkan prakiraan cuaca 10 hari ke depan yang dikeluarkan oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), berbagai wilayah di provinsi tersebut berpotensi menghadapi kabut asap pada April. Hal ini terjadi karena kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di tengah curah hujan yang menurun.
Mayoritas wilayah di Riau diperkirakan akan mengalami hujan ringan atau berawan pada akhir Maret. Namun, cuaca kabur dan kabut/asap diperkirakan akan muncul pada awal April. Cuaca kabur adalah kondisi di mana langit tampak buram akibat partikel aerosol yang menyerap dan menghamburkan cahaya matahari. Partikel-partikel ini bisa berasal dari kebakaran hutan, aktivitas industri, lalu lintas kendaraan, atau bahkan faktor alami.
Sejak awal tahun ini, petugas pemadam kebakaran telah bekerja keras untuk mengatasi kebakaran hutan dan lahan di Riau. Berdasarkan pantauan satelit Terra/Aqua (NASA) terhadap titik panas dengan tingkat keyakinan tinggi, Riau mencatatkan jumlah titik panas terbanyak di seluruh Indonesia. Pada periode 1 Januari hingga 26 Maret 2026, tercatat 625 titik panas di seluruh Indonesia, dengan 42,65 persen atau 266 titik berada di Riau.
Sampai saat ini, ribuan hektare hutan dan lahan telah hangus terbakar. Menurut laporan Kementerian Kehutanan, luasan kebakaran hutan dan lahan mencapai sekitar 4.440,21 hektare di Riau antara Januari dan Februari. Direktur Jenderal Penegakan Hukum Kehutanan Dwi Januanto Nugroho menyatakan bahwa luasan kebakaran masih terus meningkat akibat cuaca kering yang rentan.
Saat ini, seluruh wilayah Riau memiliki status “Sangat Mudah” mengalami kebakaran hutan dan lahan. Sebanyak 387 personel gabungan dari Manggala Agni dikerahkan untuk bersiaga di lapangan. “Hingga saat ini, regu gabungan telah berhasil melakukan pemadaman darat sebanyak 265 operasi di beberapa titik,” ujar Dwi dalam keterangan tertulis, Jumat (27/3).
Kepala Balai Pengendalian Kebakaran Hutan Wilayah Sumatra Ferdian Krisnanto menjelaskan bahwa Manggala Agni sedang melakukan pemadaman api di beberapa lokasi kritis di Riau. Lokasi-lokasi tersebut antara lain di Kelurahan Mundam (Kota Dumai), Suaka Margasatwa Giam Siak Kecil, Desa Merbau dan Pulau Muda (Kabupaten Pelalawan), Desa Talang Jerinjing (Kabupaten Indragiri Hulu), serta wilayah Pulau Rupat (Kabupaten Bengkalis).
“Strategi awal saat ini adalah melakukan penyekatan api agar kebakaran tidak meluas, kemudian memukul dan mematikan kepala api serta mematikan sumber potensi asap utama,” ujar Ferdian.
Namun, tim pemadam menghadapi kendala dengan keterbatasan air untuk pemadaman. Hal ini disebabkan oleh penurunan curah hujan yang membuat tinggi muka air tanah di wilayah gambut semakin rendah. Oleh karena itu, Manggala Agni dan masyarakat menggali embung air untuk dijadikan sumber air pemadaman.
Pemadaman juga dilakukan melalui jalur udara, menggunakan penerbangan 3 unit helikopter untuk misi patroli, waterbombing, dan evakuasi. Kemenhut bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan BMKG melakukan operasi modifikasi cuaca untuk memadamkan api dengan hujan buatan.
Ramalan Cuaca Dua Wajah di Tengah El Nino dan IOD Positif
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memperingatkan adanya potensi cuaca ekstrem yang “terbelah” di Indonesia dalam beberapa bulan ke depan. Sebagian wilayah diperkirakan mengalami kekeringan, sedangkan wilayah lain berisiko menghadapi curah hujan tinggi.
Ada dua fenomena iklim utama yang memengaruhi cuaca Indonesia ke depan. Pertama, El Nino yang menurut sejumlah model iklim global dari Badan Riset Atmosfer dan Laut Jepang (Jamstec) berpotensi berkembang mulai April. El Nino adalah fenomena pemanasan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur, di sepanjang garis khatulistiwa. Pemanasan ini melemahkan pembentukan awan hujan di wilayah Indonesia, sehingga curah hujan cenderung berkurang.
BRIN menyebut adanya kemungkinan super El Nino atau Godzilla El Nino yaitu pemanasan melampaui 2 derajat Celcius di atas normal. Fenomena kedua adalah Indian Ocean Dipole (IOD) positif di Samudra Hindia. Dalam kondisi ini, perairan dekat Afrika menjadi lebih hangat, sedangkan perairan dekat Indonesia justru lebih dingin. Akibatnya, pembentukan awan hujan “bergeser” menjauh dari Indonesia, sehingga wilayah barat Indonesia cenderung lebih kering.
BRIN memprediksi, kedua fenomena ini berpeluang terjadi mulai April hingga Oktober 2026. Dampaknya? Berdasarkan model prediksi musim yang dikembangkan BRIN, pada April-Juli, kemarau yang bersifat kering akan melanda sebagian besar pulau Jawa hingga Nusa Tenggara Timur. Sedangkan Sulawesi, Halmahera, dan Maluku masih akan mengalami curah hujan yang tinggi.
Dengan kondisi cuaca yang berbeda ini, masyarakat Indonesia berisiko menghadapi tantangan bencana yang berbeda. Periset Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN Erma Yulihastin mengatakan, pemerintah perlu mewaspadai dampak kekeringan yang dapat mengancam lumbung pangan nasional di wilayah Pantai Utara Jawa. Selain itu, kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan dan Sumatra.
“Di saat bersamaan, pemerintah juga sebaiknya menyiapkan strategi untuk menangani kelebihan curah hujan di wilayah Sumatra, Halmahera, dan Maluku, serta dampaknya terhadap banjir dan longsor,” kata Erma, dikutip dari akun Instagram BRIN.



