Peristiwa Prajurit TNI Gugur di Lebanon Akibat Serangan Israel
Prajurit TNI yang gugur dalam misi perdamaian di Lebanon tidak hanya menjadi duka bagi keluarga dan institusi militer, tetapi juga bagi seluruh rakyat Indonesia. Kejadian ini mengingatkan bahwa pengabdian kepada bangsa sering kali dilakukan di luar negeri demi menjaga stabilitas dan perdamaian dunia.
Kronologi Kematian Prajurit TNI
Praka Farizal Romadhon (33), anggota TNI dari Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, meninggal dunia saat menjalankan tugas di Lebanon pada Minggu (29/3/2026). Ia gugur akibat serangan Israel ketika sedang menjalani misi perdamaian bersama Pasukan Garuda. Farizal berasal dari Padukuhan Ledok, Kalurahan Sidorejo, Kapanewon Lendah, Kabupaten Kulon Progo.
Farizal tergabung dalam Satuan Tugas (Satgas) TNI Kontingen Garuda (Konga) UNIFIL tahun 2025. Ia merupakan prajurit dari Batalyon Infanteri 113/Jaya Sakti (Yonif 113/JS) yang bermarkas di Bireuen, Aceh. Kepala Penerangan Kodam Iskandar Muda (IM), Kolonel Inf Teuku Mustafa Kamal, menyampaikan bahwa Farizal merupakan bagian dari satuan tugas yang hampir menyelesaikan masa penugasan di Lebanon.
Yonif 113/JS adalah satuan infanteri dengan kualifikasi Raider Khusus yang berada di bawah Brigif 25/Siwah, Kodam IM. Satuan ini sebelumnya diberangkatkan dari Aceh untuk melaksanakan misi perdamaian di bawah naungan United Nations Interim Force in Lebanon.
Situasi Penugasan dan Insiden yang Terjadi
Masa penugasan Praka Farizal bersama Satgas TNI Konga hampir mencapai satu tahun. Satuan tugas tersebut sebenarnya dijadwalkan akan segera kembali ke Indonesia dalam waktu dekat. Namun, takdir berkata lain. Farizal berpulang ke hadapan Sang Pencipta saat masih menjalankan tugas pengabdian tersebut.
Kementerian Pertahanan Republik Indonesia memastikan bahwa satu prajurit TNI gugur akibat serangan Israel di wilayah Lebanon. Peristiwa tersebut terjadi saat berlangsungnya baku tembak artileri antara pihak-pihak yang tengah bertikai. Kepala Biro Informasi Pertahanan Setjen Kemhan, Brigjen TNI Rico Ricardo Sirait, mengungkapkan bahwa insiden itu terjadi dalam situasi serangan yang intens dari kedua belah pihak. Ia juga menegaskan bahwa kejadian tersebut masih dalam tahap penelusuran oleh pihak UNIFIL.
Prajurit yang meninggal dunia diketahui merupakan bagian dari Satuan Tugas Kontingen Garuda (Konga) TNI yang sedang menjalankan misi perdamaian di bawah naungan PBB. Selain korban jiwa, insiden tersebut juga mengakibatkan beberapa prajurit lainnya mengalami luka. Satu orang dilaporkan mengalami luka berat, sementara dua lainnya menderita luka ringan. Seluruh korban luka kini telah mendapatkan penanganan medis.
Respons Pemerintah dan Kementerian Luar Negeri
Indonesia melalui Kementerian Luar Negeri (Kemlu) menyatakan kecaman keras atas serangan Israel di dekat Adchit Al Qusayr pada Minggu (29/3/2026) malam. Insiden tersebut terjadi di tengah laporan adanya aksi saling serang antara militer Israel dan kelompok bersenjata di wilayah Lebanon selatan.
“Indonesia mengecam keras insiden tersebut dan menyerukan dilakukannya penyelidikan yang menyeluruh dan transparan,” kata Kementerian Luar Negeri melalui akun X resmi @Kemlu_RI, Senin (30/3/2026). Kemlu menekankan bahwa keselamatan serta perlindungan personel penjaga perdamaian PBB harus selalu dijaga dan dihormati sesuai ketentuan hukum internasional.
Menurut Kemlu, segala bentuk tindakan yang mengancam keselamatan peacekeeper tidak bisa dibenarkan dan dapat merusak upaya bersama dalam menjaga perdamaian serta stabilitas. Atas dasar itu, Indonesia menyampaikan kecaman keras terhadap peristiwa tersebut.
Duka dan Persiapan Penguburan
Di sisi lain, pemerintah turut menyampaikan belasungkawa yang mendalam atas wafatnya satu prajurit tersebut. Indonesia juga menyampaikan rasa simpati kepada keluarga yang ditinggalkan, serta mendoakan agar para personel yang mengalami luka dapat segera pulih sepenuhnya.
“Indonesia sangat berduka atas kehilangan ini. Kami memberikan penghormatan setinggi-tingginya kepada personel yang gugur atas dedikasi dan pengabdiannya bagi perdamaian dan keamanan internasional,” ucapnya.
Pemerintah akan bekerja sama dengan UNIFIL untuk memastikan repatriasi jenazah segera dilakukan. Begitu pun memberikan perawatan medis terbaik bagi yang terluka. “Indonesia terus berkoordinasi erat dengan PBB dan otoritas terkait, serta akan terus memantau perkembangan situasi secara saksama,” tandas dia.
Profil Prajurit Farizal
Praka Farizal diketahui sudah berumah tangga. Ia meninggalkan seorang istri dan satu anak. Selama berdinas di Aceh, Farizal tercatat sebagai warga Padukuhan Ledok, Kalurahan Sidorejo, Kapanewon Lendah, Kabupaten Kulon Progo.
Pada momen Lebaran 2025, ia sempat kembali ke kampung halamannya di Kulon Progo. Saat itu, ia pulang bersama istri dan anaknya, sebagaimana disampaikan oleh Dukuh Ledok, Wakidi. Wakidi menyebutkan bahwa Farizal merupakan anak kedua dari dua bersaudara. Usai menamatkan pendidikan di SMA Negeri 1 Lendah, Farizal melanjutkan langkahnya untuk bergabung menjadi prajurit TNI.
Di masa mudanya, ia juga terlibat dalam aktivitas Karang Taruna. Bahkan setelah menjalani penugasan di Aceh, Farizal tetap menjaga komunikasi dengan warga Padukuhan Ledok. “Farizal sering bantu-bantu juga meskipun jauh di Aceh, rajin komunikasi ke sini,” ungkap Wakidi.
Rencananya, jenazah Farizal akan dimakamkan di Padukuhan Ledok, di Tempat Pemakaman Umum (TPU) yang tak jauh dari rumahnya. Pemakaman akan dilakukan secara militer sebagai bentuk penghormatan terakhir. Persiapan pun tengah dilakukan untuk menyambut kedatangan jenazah. “Sekarang ini bersih-bersih lahan sekitar rumah dulu untuk persiapan kedatangan jenazah,” kata Wakidi.



