Close Menu
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Facebook X (Twitter) Instagram
Rabu, 1 April 2026
Trending
  • Pulau Sunyi di Belitung Jadi Jalur Narkoba, 46 Kg Sabu Ditemukan dalam Sebulan
  • Bursa Transfer Liga Italia: AC Milan Incar Bintang Club Brugge Nicolo Tresoldi
  • Link Pendaftaran Beasiswa UB 2026 untuk Warga IKN, Syarat Lengkap
  • Keluarga Sopiah Pecah Tangis, Minta Polisi Selidiki Kematian Ibu Hamil di Liku 9 Kepahiang
  • Pendaftaran Bintara Polri 2026 Dibuka Sampai 30 Maret, Ini Cara dan Persyaratannya
  • Daftar Harga HP Samsung Rp3 Jutaan Terbaru 2026
  • Zodiak Senin 30 Maret 2026: Gemini Balas Budi, Scorpio Untung Besar
  • 6 Pola Hias Geometris untuk Interior Mewah dan Modern
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok Threads RSS
Indonesia Discover
Login
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Indonesia Discover
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
  • Olahraga
  • Login
Home»Nasional»Politik»Tiga Analis Arab-Turki: Mengapa Program Nuklir Iran Lebih Menakutkan Daripada Irak dan Libya
Politik

Tiga Analis Arab-Turki: Mengapa Program Nuklir Iran Lebih Menakutkan Daripada Irak dan Libya

admin_indonesiadiscoverBy admin_indonesiadiscover1 April 2026Tidak ada komentar7 Mins Read
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
Share
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link

Perubahan Pola Proksi dalam Konflik Timur Tengah

Pada Maret 2026, dinas-dinas keamanan di empat ibu kota Teluk, Manama, Kota Kuwait, Abu Dhabi, dan Doha, secara hampir bersamaan membongkar jaringan sel tidur yang terkait dengan Korps Garda Revolusi Iran. Yang membuat pembongkaran itu mengejutkan bukan hanya faktanya, melainkan apa yang ditemukan di dalamnya: bukan gudang senjata konvensional, bukan bom rakitan yang disembunyikan di balik tembok rumah. Yang ditemukan adalah perangkat lunak pengintai, drone berpeledak jarak pendek, dan individu-individu yang terlatih untuk melakukan operasi siber dan pengumpulan intelijen terhadap fasilitas energi vital.

Dalam banyak hal, perubahan pola proksi ini menunjukkan banyak kawasan belum sepenuhnya siap membaca evolusi itu. Di saat yang sama, ribuan kilometer dari ruang-ruang interogasi di Teluk, para analis di Kairo dan Istanbul sedang bergulat dengan dua pertanyaan yang sama fundamentalnya: mungkinkah kemampuan nuklir Iran benar-benar dilenyapkan? Dan di ujung semua konflik ini, seperti apa bentuk tatanan politik kawasan yang akan datang?

Tiga suara dari tiga sudut yang berbeda menawarkan pembacaan yang, ketika diletakkan berdampingan, membentuk satu argumen yang lebih besar dari bagian-bagiannya masing-masing.

Evolusi Ancaman Garda Revolusi

Hassan al-Mustafa, kolumnis Al Arabiya dan Asharq al-Awsat, memulai analisanya begini, pada 2015, aparat keamanan Kuwait membongkar apa yang dikenal sebagai “sel Abdali,” sebuah jaringan yang mengandalkan penimbunan persenjataan fisik dalam jumlah besar. Sebelas tahun kemudian, sel-sel yang ditemukan di empat kota Teluk itu bekerja dengan pola yang sama sekali berbeda: lebih murah, lebih klandestin, dan dalam banyak hal lebih efektif dan efisien.

“Pergeseran dari ‘konfrontasi keras’ ke ‘perang hibrida’ ini membuat tantangan keamanan bagi negara-negara Teluk Arab semakin besar,” tulis al-Mustafa. Teknologi yang lebih murah dan lebih akurat memungkinkan kerusakan langsung tanpa memerlukan persiapan operasional yang panjang atau pelatihan militer intensif. Seorang operator drone yang terlatih dengan baik, dengan perangkat yang bisa dibeli secara komersial dan dimodifikasi, bisa mengganggu fasilitas energi senilai miliaran dolar.

Namun al-Mustafa melihat dimensi yang lebih dalam dari sekadar perubahan taktis ini. Yang paling ia khawatirkan adalah tujuan jangka panjang dari operasi-operasi semacam itu: bukan menghancurkan infrastruktur fisik, melainkan menggerogoti kohesi sosial dari dalam. “Sel-sel ini sangat mungkin diarahkan untuk memicu konflik identitas berbagai komponen di negara-negara Teluk Arab, yang menghasilkan bias sektarian dan regional yang tajam,” tulisnya. Dengan menciptakan kecurigaan antarsuku, antargolongan, dan antarsekte, Iran berupaya mengubah masyarakat yang relatif kohesif menjadi fragmen-fragmen yang mudah dimanipulasi dan direkrut.

Menteri Luar Negeri Saudi, Pangeran Faisal bin Farhan, mengungkapkan diagnosis yang sama dengan bahasa diplomatik yang lebih lugas, yang dikutip al-Mustafa sebagai pijakan analisisnya: “Iran telah merencanakan sebelumnya apa yang kita saksikan hari ini dalam hal serangan. Perilaku ini bukanlah kebetulan, melainkan kelanjutan dari catatan sejarah yang didasarkan pada pendekatan pemerasan, menyokong dan mendukung milisi untuk menargetkan negara-negara tetangga dan menggoyahkan stabilitas mereka.”

Bagi al-Mustafa, jawaban terhadap ancaman ini tidak cukup hanya bersifat teknis atau militer. “Kesadaran masyarakat sangatlah penting, oleh karena itu warga dan penduduk harus menjadi penggerak utama pertahanan semesta, agar mereka tidak terjebak dalam perangkap retorika menyesatkan yang terutama bertujuan untuk memecah belah,” tegasnya. Negara harus hadir bukan hanya sebagai kekuatan koersif, tetapi sebagai sumber identitas nasional yang cukup kuat untuk menangkal identitas sektarian transnasional yang ditawarkan oleh jaringan Iran.

Nuklir yang Tak Bisa Dibom Habis

Jika al-Mustafa berbicara tentang ancaman yang sudah hadir di jalanan dan gedung-gedung Teluk, Ahmed Abdel Tawab di Al-Ahram mengajukan pertanyaan yang menyentuh akar dari seluruh konflik ini: apakah program nuklir Iran sesungguhnya bisa dihancurkan? Jawabannya, yang ia uraikan dengan logika yang sulit dibantah, adalah tidak.

Alasan fundamentalnya bukan soal seberapa dalam bunker Iran dibangun, meski faktor itu juga penting. Alasannya adalah sesuatu yang lebih mendasar: Iran telah berhasil menginternalisasi pengetahuan nuklirnya ke dalam sumber daya manusia yang tidak bisa dibom. “Jumlah personel nasional Iran yang bekerja di bidang nuklir melebihi 25.000 orang,” tulis Abdel Tawab, mengutip data yang beredar luas di kalangan analis. “Individu-individu ini, dari berbagai generasi, bekerja di berbagai tingkatan dan dipilih sejak kecil melalui proses yang teliti di seluruh negeri, dan dikirim ke luar negeri untuk melanjutkan studi mereka.”

Ini adalah perbedaan mendasar antara Iran dan negara-negara yang program nuklirnya berhasil dihentikan sebelumnya. Irak di bawah Saddam Hussein dan Libya di bawah Gaddafi mengandalkan peralatan impor dan keahlian asing. Hentikan impornya, usir para ahli asingnya, maka programnya berhenti. Iran telah memilih jalur yang berbeda sejak awal: membangun kapasitas dari dalam, mendidik generasi demi generasi ilmuwan nuklir yang merupakan warga negara Iran sendiri.

Abdel Tawab menawarkan dua penjelasan yang mungkin atas tindakan Israel yang terus menyerang fasilitas nuklir meski mengetahui ketidakmungkinan itu. Pertama, Israel mungkin menggunakan argumen “kemustahilan” sebagai dalih untuk menghancurkan sebanyak mungkin pencapaian sipil Iran, “sehingga menghambat kemajuan Iran selama beberapa dekade dan dengan demikian mengalihkan energinya untuk rekonstruksi.” Kedua, dan ini yang lebih provokatif, Israel mungkin sedang berupaya menyeret Amerika ke dalam konflik berskala lebih besar, “sehingga membebaskan pemerintahan AS dari kecurigaan bahwa mereka berperang untuk kepentingan Israel dengan mengorbankan rakyat Amerika.”

Dalam kedua skenario itu, yang menjadi korban bukan hanya Iran. Yang menjadi korban adalah logika dan kejujuran dalam wacana kebijakan luar negeri global.

Zionisme yang Kehilangan Mayoritas Pendukungnya

Hakki Ocal dari Daily Sabah membawa analisis ke dimensi yang paling jarang dibahas secara terbuka dalam diskursus mainstream: pergeseran sikap masyarakat Yahudi sendiri terhadap Zionisme, dan implikasinya bagi masa depan kawasan. Ocal memulai dari data yang ia nilai sangat signifikan. Sepuluh tahun lalu, 82 persen orang Yahudi Israel menyatakan bahwa gagasan Zionisme masih relevan. Kini, Institut Penelitian Kebijakan Yahudi memperkirakan hanya 60 persen orang Yahudi Israel yang mengidentifikasi diri sebagai Zionis.

Lebih jauh lagi, 52 persen kini berpikir bahwa Zionisme tidak lagi diperlukan untuk mempertahankan tanah air Yahudi. Dan yang paling mencolok: “57% orang Israel, baik Yahudi maupun non-Yahudi, melihat bahwa Israel yang dwikomunal dan dwizonal adalah mungkin.” Di kalangan Yahudi di luar Israel, khususnya di Inggris, angkanya bahkan lebih mencolok: 54 persen percaya pada solusi dua negara, dan 56 persen merasa malu atas apa yang dilakukan pemerintah Israel.

Bagi Ocal, pergeseran ini bukan sekadar data survei. Ia adalah tanda dari sesuatu yang lebih fundamental, yakni legitimasi ideologis Zionisme yang sedang mengalami erosi dari dalam. “Generasi Z mulai menyadari bahwa negara mereka pun bisa mengorbankan nyawa mereka,” tulisnya, merujuk pada generasi muda Amerika yang semakin mempertanyakan keterlibatan negaranya dalam konflik di Timur Tengah.

Solusi yang Ocal tawarkan adalah yang paling radikal di antara ketiga analis ini: sebuah negara binasional, yang ia gambarkan sebagai “Israel yang dwikomunal dan dwizonal,” di mana warga Yahudi dan Palestina hidup bersama dalam satu kerangka politik yang setara. Ia mengutip gerakan “Jews United Against Zionism” yang menyatakan: “Orang Yahudi adalah orang-orang yang mengikuti Yudaisme, baik karena keturunan maupun karena konversi, dan orang Israel adalah penduduk Israel, termasuk orang Yahudi, Palestina, dan Druze, serta orang-orang dari agama lain.”

Tiga Diagnosis, Satu Kenyataan

Al-Mustafa, Abdel Tawab, dan Ocal datang dari tradisi intelektual dan kepentingan geopolitik yang berbeda. Namun ketiganya bertemu pada satu kesimpulan yang, jika dirumuskan dengan jujur, adalah yang paling tidak nyaman untuk diucapkan: bahwa konflik yang sedang berlangsung ini tidak memiliki penyelesaian militer.



Penampakan kerusakan setelah serangan rudal Iran dilaporkan menghantam daerah perumahan dekat kota Shoham, Israel tengah, 14 Maret 2026. – (EPA-EFE/ABIR SULTAN)

Al-Mustafa menunjukkan bahwa bahkan operasi keamanan yang paling efisien sekalipun hanya bisa mengatasi gejala, bukan akar masalah, karena terus terkonsolidasinya jaringan transnasional yang terus merekrut dari celah-celah identitas yang belum terselesaikan. Abdel Tawab menunjukkan bahwa pengetahuan nuklir yang sudah meresap ke dalam 25.000 otak manusia tidak bisa dihancurkan dengan bom, sehingga solusi militer terhadap ancaman nuklir Iran adalah ilusi yang mahal. Sementara Ocal menunjukkan bahwa legitimasi ideologis dari seluruh arsitektur konflik ini, yakni Zionisme sebagai proyek politik, sedang kehilangan pendukungnya bahkan di kalangan mereka yang paling berkepentingan mempertahankannya.

Yang ketiga analisis ini tidak sepenuhnya menjawab adalah: apa yang akan menggantikan tatanan yang sedang runtuh ini? Di sanalah ketidakpastian yang paling besar masih berdiam, menunggu untuk dijawab bukan oleh analis, melainkan oleh sejarah yang sedang berproses hari ini dan yang akan datang, dengan darah dan kebijakan yang konsekuensinya akan dirasakan jauh melampaui generasi yang membuatnya.

Share. Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
admin_indonesiadiscover
  • Website

Berita Terkait

Link Pendaftaran Beasiswa UB 2026 untuk Warga IKN, Syarat Lengkap

1 April 2026

Membunuh Filsuf

1 April 2026

Kapan Libur Panjang Berikutnya? Tanggal Merah dan Cuti Bersama April–Mei 2026

1 April 2026
Leave A Reply Cancel Reply

Berita Terbaru

Pulau Sunyi di Belitung Jadi Jalur Narkoba, 46 Kg Sabu Ditemukan dalam Sebulan

1 April 2026

Bursa Transfer Liga Italia: AC Milan Incar Bintang Club Brugge Nicolo Tresoldi

1 April 2026

Link Pendaftaran Beasiswa UB 2026 untuk Warga IKN, Syarat Lengkap

1 April 2026

Keluarga Sopiah Pecah Tangis, Minta Polisi Selidiki Kematian Ibu Hamil di Liku 9 Kepahiang

1 April 2026
© 2026 IndonesiaDiscover. Designed by Indonesiadiscover.com.
  • Home
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • PT. Indonesia Discover Multimedia
  • Indeks Berita

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

Sign In or Register

Welcome Back!

Login to your account below.

Lost password?