Close Menu
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Facebook X (Twitter) Instagram
Rabu, 27 Mei 2026
Trending
  • Andhika Ramadhani Dikabarkan ke Persik Kediri! 23 Clean Sheet dan 5.628 Menit Bermain di Persebaya Surabaya
  • Jamaah Aceh Terakhir Tiba di Mekkah, 18 Orang Gagal Berangkat
  • Ramalan Zodiak Leo dan Virgo 21 Mei 2026: Cinta, Karir, Kesehatan, dan Keuangan
  • Kehilangan Rahim Akibat Kelalaian Pejabat, Ayu Aulia Minta Dinikahi dan Menyesal Pernah Aborsi
  • Jual Bayi Kandung Rp25 Juta di Palembang, Ayah Dihukum 6 Tahun
  • Katarak Picu 80 Persen Kebutaan di Usia 50 Tahun ke Atas
  • Veda Ega Pratama Dua Kali Juara di Mugello, Tanda Bahaya bagi Lawan Moto3 Italia 2026
  • Menteri HAM Pigai Nonton Film Pesta Babi, Yusril: Pembubaran Nobar Bukan Arahan Pemerintah
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok Threads RSS
Indonesia Discover
Login
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Indonesia Discover
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
  • Olahraga
  • Login
Home»Nasional»Ekonomi»DPK Rumah Tangga Mulai Pulih, Tanda Daya Beli Kembali Bangkit?
Ekonomi

DPK Rumah Tangga Mulai Pulih, Tanda Daya Beli Kembali Bangkit?

admin_indonesiadiscoverBy admin_indonesiadiscover3 April 2026Tidak ada komentar4 Mins Read
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
Share
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link

Perbaikan Kondisi Tabungan Masyarakat

Kemampuan masyarakat untuk menabung uangnya di perbankan tampaknya mulai membaik. Hal ini terlihat dari simpanan masyarakat sektor rumah tangga di perbankan yang mulai menunjukkan tanda pemulihan. Data Bank Indonesia menunjukkan bahwa rata-rata dana pihak ketiga (DPK) rumah tangga per rekening tercatat naik menjadi Rp6,09 juta pada Desember 2025. Jumlah ini meningkat dari bulan sebelumnya atau November 2025 yang mencapai Rp6,02 juta.

Secara rinci, untuk instrumen tabungan sendiri, rata-rata per rekening di periode yang sama juga naik menjadi Rp4,10 juta dari bulan sebelumnya sebesar Rp4,03 juta. Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios), Bhima Yudhistira, menilai kenaikan DPK rumah tangga perlu dicermati lebih dalam. Menurutnya, peningkatan simpanan belum tentu mencerminkan konsumsi yang menguat.

“DPK rumah tangga tumbuh lebih ke arah saving atau berjaga-jaga di tengah ketidakpastian ekonomi,” ujar Bhima kepada Indonesiadiscover.com.co.id, Selasa (31/3). Ia menambahkan, indikasi tersebut terlihat dari perlambatan sektor riil, seperti kredit UMKM yang justru terkontraksi 0,3% secara tahunan pada Desember 2025. Selain itu, terjadi pergeseran dari tabungan ke giro yang lebih likuid.

“Kalau bergeser ke giro, artinya dana lebih mudah ditarik kapan saja, biasanya untuk kebutuhan darurat,” jelasnya. Bhima memproyeksikan tren DPK rumah tangga berpotensi melambat pada 2026. Hal ini seiring tekanan kebutuhan konsumsi, seperti kenaikan harga BBM, LPG, dan bahan pangan, serta risiko meningkatnya pemutusan hubungan kerja (PHK).

“Begitu angka PHK naik, saving akan tergerus karena dipakai sebagai bantalan bertahan hidup,” katanya.

Pandangan Positif dari Perbankan

Di sisi lain, perbankan melihat tren ini lebih positif. Head of Deposit Product Management PT Bank Mandiri Tbk, Mega Ekaputri Pujianto, menilai pemulihan DPK rumah tangga sejalan dengan membaiknya aktivitas ekonomi. “Pemulihan rata-rata DPK rumah tangga menjadi indikator positif yang sejalan dengan perbaikan aktivitas ekonomi di akhir 2025,” ujarnya.

Hal ini tercermin dari Mandiri Spending Index (MSI) yang naik sekitar 17% secara bulanan pada Desember 2025 dan berada di level 354,5 pada pekan terakhir penutupan tahun, serta penguatan indeks tabungan kelompok menengah yang justru naik 0,49 poin menjadi 101,2. “Kelompok menengah mulai kembali memperkuat likuiditas dan tabungannya setelah sebelumnya menahan diri,” tambah Mega.

Kondisi tersebut turut mendorong kinerja Bank Mandiri. Sepanjang 2025, DPK konsolidasi tumbuh di atas 23% secara tahunan, sementara dana murah (CASA) naik sekitar 12%. Tren ini berlanjut pada Januari 2026 dengan pertumbuhan DPK bank only di atas 17%. Menurut Mega, inflasi yang terkendali menjadi faktor utama penopang daya beli. Inflasi Desember 2025 tercatat 2,92% secara tahunan, menjaga konsumsi tetap stabil.

Ke depan, Bank Mandiri memproyeksikan tren pemulihan DPK rumah tangga akan berlanjut. Momentum Ramadan dan Idulfitri pada kuartal I-2026 diperkirakan menjadi katalis tambahan. “Kombinasi stimulus pemerintah dan momentum musiman akan mendorong konsumsi sekaligus meningkatkan kemampuan menabung masyarakat,” jelasnya. Ia menambahkan, dengan fundamental ekonomi yang tetap kuat dan proyeksi pertumbuhan di atas 5% pada 2026, penghimpunan DPK ritel diperkirakan tetap tumbuh pada kisaran high single-digit hingga low double-digit.

Strategi untuk Meningkatkan Simpanan

Untuk terus mengakselerasi pertumbuhan simpanan sektor rumah tangga secara berkelanjutan, Bank Mandiri memfokuskan strategi pada penguatan ekosistem digital, seperti optimalisasi Livin’ by Mandiri, juga melakukan penguatan CASA. “Sinergi layanan keuangan dari wholesale hingga retail memungkinkan kami mengakuisisi value chain (termasuk payroll) dari korporasi,” ujar Mega. Hal ini kata Mega terbukti efektif menjaga rasio CASA secara konsisten di level yang sangat sehat, yakni di atas 70% per Januari 2026, sehingga beban biaya dana (CoF) tetap efisien.

Senada, Direktur Network and Retail Funding BTN, Rully Setiawan, melihat adanya perbaikan perilaku menabung masyarakat. “Pemulihan rata-rata DPK rumah tangga mengindikasikan adanya perbaikan perilaku menabung masyarakat,” ujarnya. Ia mencatat, jumlah akun simpanan transaksional di BTN tumbuh 27% secara tahunan, dengan peningkatan yang cukup stabil pada segmen kelas menengah. Namun, Rully memperkirakan rata-rata simpanan per nasabah masih akan bergerak moderat.

“Pemulihan daya beli membutuhkan waktu, sehingga rata-rata simpanan belum akan meningkat signifikan,” katanya. Untuk menjaga pertumbuhan DPK, BTN menyiapkan sejumlah strategi. Di antaranya memperkuat ekosistem digital melalui super app Bale, mendorong transaksi berbasis komunitas, serta memperluas kerja sama dengan merchant dan e-commerce. Selain itu, BTN juga mengandalkan program loyalitas berbasis transaksi serta edukasi keuangan agar rekening tidak hanya digunakan untuk menabung, tetapi juga transaksi harian.

Share. Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
admin_indonesiadiscover
  • Website

Berita Terkait

Jual Bayi Kandung Rp25 Juta di Palembang, Ayah Dihukum 6 Tahun

26 Mei 2026

5 tips membangun penghasilan pasif untuk pemula

26 Mei 2026

5 Kebiasaan Keuangan untuk Tenang di Tengah Inflasi Naik

26 Mei 2026
Leave A Reply Cancel Reply

Berita Terbaru

Andhika Ramadhani Dikabarkan ke Persik Kediri! 23 Clean Sheet dan 5.628 Menit Bermain di Persebaya Surabaya

26 Mei 2026

Jamaah Aceh Terakhir Tiba di Mekkah, 18 Orang Gagal Berangkat

26 Mei 2026

Ramalan Zodiak Leo dan Virgo 21 Mei 2026: Cinta, Karir, Kesehatan, dan Keuangan

26 Mei 2026

Kehilangan Rahim Akibat Kelalaian Pejabat, Ayu Aulia Minta Dinikahi dan Menyesal Pernah Aborsi

26 Mei 2026
© 2026 IndonesiaDiscover. Designed by Indonesiadiscover.com.
  • Home
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • PT. Indonesia Discover Multimedia
  • Indeks Berita

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

Sign In or Register

Welcome Back!

Login to your account below.

Lost password?