Close Menu
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Facebook X (Twitter) Instagram
Jumat, 27 Maret 2026
Trending
  • Rute dan Tarif Trans Jogja 2026: Solusi Hemat Libur Lebaran
  • Volvo EX30 2026 Diluncurkan di Tiongkok dengan Harga Lebih Murah
  • 10 Pilihan Warna Tirai yang Sempurna untuk Dinding Putih
  • Transfer Liga Inggris: Arsenal Bakal Lepas Bintang Muda 30 Juta Euro
  • Pembekuan Kredit Bank: Tanda Ekonomi Tidak Berkembang?
  • Raqan Pengelolaan Sumur Minyak Rakyat Masuk Prolegkab 2026, DPRK Prioritaskan Regulasi Strategis
  • Sebuah senja dari Washington
  • 5 Film Politik Keluarga, Berani Tonton Bersama Orangtua?
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok Threads RSS
Indonesia Discover
Login
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Indonesia Discover
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
  • Olahraga
  • Login
Home»Nasional»Ekonomi»Pembekuan Kredit Bank: Tanda Ekonomi Tidak Berkembang?
Ekonomi

Pembekuan Kredit Bank: Tanda Ekonomi Tidak Berkembang?

admin_indonesiadiscoverBy admin_indonesiadiscover27 Maret 2026Tidak ada komentar4 Mins Read
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
Share
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link



Pertumbuhan Kredit Perbankan di Indonesia Mengalami Perlambatan

Di tengah situasi perekonomian yang masih dinamis, pertumbuhan kredit perbankan di dalam negeri mengalami perlambatan. Meskipun demikian, tingkat pertumbuhan kredit tetap berada pada level yang cukup tinggi. Bank Indonesia (BI) mencatat bahwa pertumbuhan kredit bank pada Februari 2026 sebesar 9,37%, turun dari pertumbuhan pada Januari 2026 yang sebesar 9,96%. Perlambatan ini terjadi di seluruh segmen kredit.

Pertumbuhan Kredit Berdasarkan Kelompok Penggunaan

Berdasarkan kelompok penggunaan, kredit investasi tercatat tumbuh 20,72% secara tahunan di Februari 2026. Sementara itu, kredit modal kerja dan kredit konsumsi masing-masing tumbuh sebesar 3,88% dan 6,34% secara tahunan. Realisasi pertumbuhan di periode tersebut lebih rendah dibandingkan realisasi sebulan sebelumnya. Pada Januari 2026, kredit investasi tercatat tumbuh 22,38% secara tahunan, kredit modal kerja naik 4,13%, dan kredit konsumsi naik 6,58% secara tahunan.

Penyebab Perlambatan Kredit

Pengamat perbankan sekaligus Senior Vice President Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI), Trioksa Siahaan, menilai pelambatan ini terjadi akibat daya beli masyarakat yang belum menguat. “Permintaan kredit lesu karena tertahannya ekspansi akibat daya beli yang belum sepenuhnya membaik,” ujarnya.

Tertahannya permintaan kredit masyarakat ini dikarenakan oleh beberapa faktor, seperti pertumbuhan ekonomi yang belum membaik, ancaman inflasi di awal tahun, suku bunga bank yang masih relatif tinggi, hingga kondisi geopolitik global yang mulai memanas pada Februari 2026.

Di sisi lain, Direktur Sagara Research Institute, Piter Abdullah menilai perbankan juga semakin selektif dan menahan penyaluran kredit. Dengan kondisi ekonomi, baik global maupun domestik saat ini, banyak bank yang memilih untuk berhati-hati agar tidak terkena risiko kredit macet.

“Bank besar yang meskipun memiliki likuiditas cukup lebih memilih berhati-hati. Dampaknya tercermin di antaranya di pertumbuhan kredit,” kata Piter.

Kinerja Keuangan Beberapa Bank

Penurunan pertumbuhan penyaluran kredit juga terlihat dari kinerja keuangan sejumlah bank periode Februari 2026. Salah satunya di Bank Central Asia (BCA). Penyaluran kredit BCA di Februari 2026 tercatat hanya naik 5,84% secara tahunan menjadi Rp 953,22 triliun. Di Januari 2026, pertumbuhan kredit BCA mencapai 6,26% secara tahunan menjadi Rp 948,96 triliun.

Sementara penyaluran kredit Bank Tabungan Negara (BTN) per Februari tercatat mencapai Rp 341,16 triliun, atau tumbuh 8,6% secara tahunan. Sementara di Januari, pertumbuhan penyaluran kredit mencapai 9,30% secara tahunan.

Di Bank Mandiri, pertumbuhan penyaluran kredit tercatat stabil, hanya naik tipis. Per Februari 2026, kredit di Bank Mandiri tumbuh 15,7% secara tahunan jadi Rp 1.513,1 triliun. Di Januari, realisasi kredit bank ini tumbuh 15,62% secara tahunan.

Bank CIMB Niaga juga mengakui penyaluran kredit di awal tahun ini masih relatif rendah. Presiden Direktur CIMB Niaga Lani Darmawan mengungkapkan, pertumbuhan kredit di awal tahun ini masih belum melonjak.

Pertumbuhan Kredit di CIMB Niaga

Perlambatan ini, kata Lani, terjadi terutama dalam kredit segmen non-ritel. “Pertumbuhan kredit secara tahunan di Februari cenderung flat. Terlihat lesunya permintaan,” kata Lani beberapa waktu lalu.

Lani menyebut salah satu sektor kredit CIMB Niaga yang masih mengalami pertumbuhan di Februari 2026 adalah kredit kendaraan bermotor. Sektor kredit tersebut mengalami pertumbuhan 6% secara tahunan.

Adapun untuk sektor kredit lainnya, Lani menilai masih belum bertumbuh signifikan. “Sisanya masih relatif flat,” ujarnya.

Lani memperkirakan penyaluran kredit CIMB Niaga belum akan meroket pada fase awal tahun ini. “Saya lihat kuartal I ini akan sangat terbatas untuk pertumbuhan kredit,” kata Lani.

Proyeksi BI terhadap Pertumbuhan Kredit

BI sendiri masih optimistis pertumbuhan penyaluran kredit tahun ini akan tercapai sesuai target. Bank sentral memperkirakan pertumbuhan kredit 2026 tetap terjaga pada kisaran 8%-12% dipengaruhi oleh sisi permintaan dan penawaran.

Dari sisi permintaan, pemanfaatan pembiayaan perbankan dapat ditingkatkan, terutama untuk mengoptimalkan fasilitas pinjaman yang belum digunakan (undisbursed loan) yang masih cukup besar, yaitu mencapai Rp 2.536,40 triliun atau 22,86% dari plafon kredit yang tersedia.

Dari sisi penawaran, kapasitas pembiayaan bank tetap memadai, ditopang oleh rasio alat likuid terhadap dana pihak ketiga (AL/DPK) sebesar 27,40% dan DPK yang masih tumbuh tinggi sebesar 13,18% pada Februari 2026.

Selain itu, minat penyaluran kredit perbankan tetap baik, tecermin dari persyaratan pemberian kredit (lending requirement) yang masih longgar, kecuali pada segmen kredit konsumsi dan UMKM, akibat masih tingginya risiko kredit pada kedua segmen tersebut.

Share. Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
admin_indonesiadiscover
  • Website

Berita Terkait

Profil Irjen Pol Andries Hermanto, Bintang Dua dari Akpol 1992

27 Maret 2026

IEA: Perang Iran Lebih Parah dari Krisis Minyak 1970-an

26 Maret 2026

Lihat rekomendasi saham dan proyeksi Vale Indonesia (INCO) 2026

26 Maret 2026
Leave A Reply Cancel Reply

Berita Terbaru

Rute dan Tarif Trans Jogja 2026: Solusi Hemat Libur Lebaran

27 Maret 2026

Volvo EX30 2026 Diluncurkan di Tiongkok dengan Harga Lebih Murah

27 Maret 2026

10 Pilihan Warna Tirai yang Sempurna untuk Dinding Putih

27 Maret 2026

Transfer Liga Inggris: Arsenal Bakal Lepas Bintang Muda 30 Juta Euro

27 Maret 2026
© 2026 IndonesiaDiscover. Designed by Indonesiadiscover.com.
  • Home
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • PT. Indonesia Discover Multimedia
  • Indeks Berita

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

Sign In or Register

Welcome Back!

Login to your account below.

Lost password?