Close Menu
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Facebook X (Twitter) Instagram
Thursday, 5 November 2026
Trending
  • Bekerja di perusahaan asing bergaji ratusan dolar, Dwi Bagus ternyata ahli las bawah air
  • Prediksi Liverpool vs Chelsea: The Reds Siap Bungkam Skuad Xabi Alonso
  • Pendapatan Anjlok, Gerindra-PSI Pertanyakan Pemerataan Ekonomi Bali di RAPBD 2027
  • Bongkar Rahasia CVT Rusak: Tips Jitu dari Bengkel Resmi
  • 20 Prompt AI Keren untuk Gambar Sumpah Pemuda 2026, Sekali Klik!
  • Gugur di Ujung Timur: Perwira Kopassus Asal Sorong Tewas Ditembak Rekan Sejawat
  • Fakta di Balik Alif, Pria yang Lamar Dokter dengan Aset Rp10 Miliar dan Rumah Selapangan Bola
  • Panduan Pemula Bangkok: Wisata, Kuliner, dan Belanja Terbaik
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok Threads RSS
Indonesia Discover
Login
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Indonesia Discover
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
  • Olahraga
  • Login
Home»Nasional»Ekonomi»Pembekuan Kredit Bank: Tanda Ekonomi Tidak Berkembang?
Ekonomi

Pembekuan Kredit Bank: Tanda Ekonomi Tidak Berkembang?

admin_indonesiadiscoverBy admin_indonesiadiscover27 March 2026No Comments4 Mins Read
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
Share
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link



Pertumbuhan Kredit Perbankan di Indonesia Mengalami Perlambatan

Di tengah situasi perekonomian yang masih dinamis, pertumbuhan kredit perbankan di dalam negeri mengalami perlambatan. Meskipun demikian, tingkat pertumbuhan kredit tetap berada pada level yang cukup tinggi. Bank Indonesia (BI) mencatat bahwa pertumbuhan kredit bank pada Februari 2026 sebesar 9,37%, turun dari pertumbuhan pada Januari 2026 yang sebesar 9,96%. Perlambatan ini terjadi di seluruh segmen kredit.

Pertumbuhan Kredit Berdasarkan Kelompok Penggunaan

Berdasarkan kelompok penggunaan, kredit investasi tercatat tumbuh 20,72% secara tahunan di Februari 2026. Sementara itu, kredit modal kerja dan kredit konsumsi masing-masing tumbuh sebesar 3,88% dan 6,34% secara tahunan. Realisasi pertumbuhan di periode tersebut lebih rendah dibandingkan realisasi sebulan sebelumnya. Pada Januari 2026, kredit investasi tercatat tumbuh 22,38% secara tahunan, kredit modal kerja naik 4,13%, dan kredit konsumsi naik 6,58% secara tahunan.

Penyebab Perlambatan Kredit

Pengamat perbankan sekaligus Senior Vice President Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI), Trioksa Siahaan, menilai pelambatan ini terjadi akibat daya beli masyarakat yang belum menguat. “Permintaan kredit lesu karena tertahannya ekspansi akibat daya beli yang belum sepenuhnya membaik,” ujarnya.

Tertahannya permintaan kredit masyarakat ini dikarenakan oleh beberapa faktor, seperti pertumbuhan ekonomi yang belum membaik, ancaman inflasi di awal tahun, suku bunga bank yang masih relatif tinggi, hingga kondisi geopolitik global yang mulai memanas pada Februari 2026.

Di sisi lain, Direktur Sagara Research Institute, Piter Abdullah menilai perbankan juga semakin selektif dan menahan penyaluran kredit. Dengan kondisi ekonomi, baik global maupun domestik saat ini, banyak bank yang memilih untuk berhati-hati agar tidak terkena risiko kredit macet.

“Bank besar yang meskipun memiliki likuiditas cukup lebih memilih berhati-hati. Dampaknya tercermin di antaranya di pertumbuhan kredit,” kata Piter.

Kinerja Keuangan Beberapa Bank

Penurunan pertumbuhan penyaluran kredit juga terlihat dari kinerja keuangan sejumlah bank periode Februari 2026. Salah satunya di Bank Central Asia (BCA). Penyaluran kredit BCA di Februari 2026 tercatat hanya naik 5,84% secara tahunan menjadi Rp 953,22 triliun. Di Januari 2026, pertumbuhan kredit BCA mencapai 6,26% secara tahunan menjadi Rp 948,96 triliun.

Sementara penyaluran kredit Bank Tabungan Negara (BTN) per Februari tercatat mencapai Rp 341,16 triliun, atau tumbuh 8,6% secara tahunan. Sementara di Januari, pertumbuhan penyaluran kredit mencapai 9,30% secara tahunan.

Di Bank Mandiri, pertumbuhan penyaluran kredit tercatat stabil, hanya naik tipis. Per Februari 2026, kredit di Bank Mandiri tumbuh 15,7% secara tahunan jadi Rp 1.513,1 triliun. Di Januari, realisasi kredit bank ini tumbuh 15,62% secara tahunan.

Bank CIMB Niaga juga mengakui penyaluran kredit di awal tahun ini masih relatif rendah. Presiden Direktur CIMB Niaga Lani Darmawan mengungkapkan, pertumbuhan kredit di awal tahun ini masih belum melonjak.

Pertumbuhan Kredit di CIMB Niaga

Perlambatan ini, kata Lani, terjadi terutama dalam kredit segmen non-ritel. “Pertumbuhan kredit secara tahunan di Februari cenderung flat. Terlihat lesunya permintaan,” kata Lani beberapa waktu lalu.

Lani menyebut salah satu sektor kredit CIMB Niaga yang masih mengalami pertumbuhan di Februari 2026 adalah kredit kendaraan bermotor. Sektor kredit tersebut mengalami pertumbuhan 6% secara tahunan.

Adapun untuk sektor kredit lainnya, Lani menilai masih belum bertumbuh signifikan. “Sisanya masih relatif flat,” ujarnya.

Lani memperkirakan penyaluran kredit CIMB Niaga belum akan meroket pada fase awal tahun ini. “Saya lihat kuartal I ini akan sangat terbatas untuk pertumbuhan kredit,” kata Lani.

Proyeksi BI terhadap Pertumbuhan Kredit

BI sendiri masih optimistis pertumbuhan penyaluran kredit tahun ini akan tercapai sesuai target. Bank sentral memperkirakan pertumbuhan kredit 2026 tetap terjaga pada kisaran 8%-12% dipengaruhi oleh sisi permintaan dan penawaran.

Dari sisi permintaan, pemanfaatan pembiayaan perbankan dapat ditingkatkan, terutama untuk mengoptimalkan fasilitas pinjaman yang belum digunakan (undisbursed loan) yang masih cukup besar, yaitu mencapai Rp 2.536,40 triliun atau 22,86% dari plafon kredit yang tersedia.

Dari sisi penawaran, kapasitas pembiayaan bank tetap memadai, ditopang oleh rasio alat likuid terhadap dana pihak ketiga (AL/DPK) sebesar 27,40% dan DPK yang masih tumbuh tinggi sebesar 13,18% pada Februari 2026.

Selain itu, minat penyaluran kredit perbankan tetap baik, tecermin dari persyaratan pemberian kredit (lending requirement) yang masih longgar, kecuali pada segmen kredit konsumsi dan UMKM, akibat masih tingginya risiko kredit pada kedua segmen tersebut.

Share. Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
admin_indonesiadiscover
  • Website

Berita Terkait

Pendapatan Anjlok, Gerindra-PSI Pertanyakan Pemerataan Ekonomi Bali di RAPBD 2027

4 November 2026

Sinergi BI-APUVINDO, Akselerasi Pasar Uang dan Valas

3 November 2026

Era Kuantum: Telkom, Danantara, BSSN, dan Peruri Bangun Ekosistem Digital

3 November 2026
Leave A Reply Cancel Reply

Berita Terbaru

Bekerja di perusahaan asing bergaji ratusan dolar, Dwi Bagus ternyata ahli las bawah air

4 November 2026

Prediksi Liverpool vs Chelsea: The Reds Siap Bungkam Skuad Xabi Alonso

4 November 2026

Pendapatan Anjlok, Gerindra-PSI Pertanyakan Pemerataan Ekonomi Bali di RAPBD 2027

4 November 2026

Bongkar Rahasia CVT Rusak: Tips Jitu dari Bengkel Resmi

4 November 2026
TAGS
akan Ampat Berita Bisnis Budaya Bukan dalam dan dari dengan diskon DPR Dunia Ekonomi Hiburan Horoskop Indonesia ini insiden Iran Jadi Kasus kasus kriminal Kejahatan Kesehatan Kontroversi KPK Laporan Polisi media berita Olahraga Pemerintah perbintangan perusahaan Politik Politik dan Hukum politik dan pemerintahan presiden Raja Selebriti Soal Tambang TNI untuk warga yang
© 2026 IndonesiaDiscover. Designed by Indonesiadiscover.com.
  • Home
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • PT. Indonesia Discover Multimedia
  • Indeks Berita

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

Sign In or Register

Welcome Back!

Login to your account below.

Lost password?