
Ancaman Trump terhadap Iran dan Peran Strategis Selat Hormuz
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, memberikan ultimatum kepada Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz dalam waktu 48 jam. Jika tidak memenuhi tuntutan tersebut, Washington akan “menghancurkan” berbagai pembangkit listrik di Iran. Pernyataan ini dikeluarkan pada 21 Maret pukul 23.44 GMT. Artinya, Iran memiliki waktu hingga 23.44 GMT pada 23 Maret—atau pukul 03.14 waktu Teheran pada 24 Maret (06.44 WIB) untuk memenuhi tuntutan tersebut.
Selat Hormuz merupakan koridor strategis yang menghubungkan Teluk dengan Laut Arab. Dengan lebar sekitar 50 km di kedua ujungnya, serta menyempit hingga sekitar 33 km di titik tersempit, selat ini menjadi jalur utama bagi produksi minyak dan LNG di Timur Tengah. Menurut perkiraan Administrasi Informasi Energi AS (EIA), sekitar 20 juta barel minyak dan produk turunannya melewati Selat Hormuz setiap hari pada 2025. Nilai perdagangan energi yang melalui jalur ini mencapai hampir US$600 miliar (Rp10.173 triliun) per tahun.
Minyak yang melintas tidak hanya berasal dari Iran, tetapi juga dari negara-negara Teluk lainnya seperti Irak, Kuwait, Qatar, Arab Saudi, dan UEA. Selain itu, sekitar 20% gas alam cair (LNG) global dikirim melalui selat tersebut, sebagian besar dari Qatar. Pada 2024, Qatar mengekspor sekitar 9,3 miliar kaki kubik per hari (Bcf/d) LNG melalui Hormuz, sementara UEA mengekspor sekitar 0,7 Bcf/d, menurut data pemerintah AS.
Hormuz juga menjadi jalur vital untuk ekspor pupuk dari Timur Tengah. Sekitar sepertiga perdagangan pupuk dunia biasanya melewati selat ini. Di sisi lain, dari arah luar, Hormuz menjadi jalur penting bagi impor kebutuhan dasar ke Timur Tengah, termasuk bahan pangan, obat-obatan, serta pasokan teknologi.
Kapal yang Masih Melintasi Selat Hormuz
Menurut perhitungan kantor berita AFP pada 18 Maret, sedikitnya 21 kapal telah terkena serangan, menjadi sasaran, atau melaporkan adanya upaya penyerangan sejak perang dimulai. Salah satu kapal yang mengalami ledakan mengangkut empat ABK asal Indonesia. Dari keempat WNI tersebut, sebanyak tiga orang belum diketahui nasibnya.
Meski demikian, masih ada sejumlah kapal yang bisa melintas Selat Hormuz. Analisis dari data pelayaran Kpler menunjukkan hanya 99 kapal yang melewati selat sempit tersebut sepanjang bulan ini, atau rata-rata lima hingga enam kapal per hari. Sebagian besar kapal yang melintasi selat ini memiliki keterkaitan dengan Iran, termasuk 14 kapal yang berlayar dengan bendera Iran serta sejumlah kapal lain yang dikenai sanksi karena diduga terhubung dengan perdagangan minyak Teheran.
Sebelum perang, sekitar 138 kapal melintasi selat itu setiap hari, berdasarkan data Joint Maritime Information Centre. Kapal-kapal itu diandalkan untuk membawa seperlima pasokan minyak global. Namun, ancaman dari Iran, ditambah serangan drone dan rudal, membuat kapal tanker tidak berani melintas di selat.
Upaya AS untuk Membuka Selat Hormuz
Sejauh ini, Amerika Serikat belum mengerahkan kapal perangnya ke Selat Hormuz. Aksi militer AS terbatas pada serangan udara, termasuk serangan terhadap kapal Angkatan Laut Iran. Pada 18 Maret, militer AS melaporkan telah membombardir lokasi peluncur rudal jelajah anti-kapal milik Iran di sepanjang selat.
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyerukan kepada negara-negara sekutu untuk mengirimkan kapal perang ke Selat Hormuz guna melindungi kapal-kapal dagang serta memulihkan pasokan minyak dunia. Namun, sejauh ini permintaannya dijawab dengan sejumlah penolakan. UK, Jerman, Australia, Spanyol, dan Jepang termasuk di antara negara yang secara tegas menyatakan tidak akan mengirim kapal dalam perang melawan Iran.
Di Jerman, Menteri Pertahanan Boris Pistorius menolak permintaan Trump mentah-mentah. “Apa yang diharapkan Trump dari segelintir [kapal] fregat Eropa yang tidak mampu dilakukan oleh Angkatan Laut AS yang begitu kuat?” cetusnya. “Ini bukan perang kami. Kami tidak memulainya.”
Alternatif Jalur Ekspor Minyak
Ancaman penutupan Selat Hormuz yang terus berulang selama bertahun-tahun mendorong negara-negara pengekspor minyak di kawasan Teluk mengembangkan jalur darat alternatif. Arab Saudi mengoperasikan pipa minyak mentah East–West sepanjang 1.200 km, yang mampu mengalirkan hingga lima juta barel minyak per hari, menurut pemerintah AS. Pada masa lalu, kerajaan itu juga sempat mengalihkan fungsi pipa gas alam untuk sementara waktu menjadi jalur pengangkutan minyak mentah.
UEA telah menghubungkan ladang-ladang minyak pedalamannya ke Pelabuhan Fujairah di Teluk Oman melalui jaringan pipa yang memiliki kapasitas sedikitnya 1,5 juta barel per hari. Minyak sebenarnya bisa dialihkan lewat infrastruktur alternatif tersebut untuk menghindari Selat Hormuz. Namun, langkah itu akan memangkas pasokan global sekitar 8–10 juta barel per hari. Selain itu, aktivitas pemuatan minyak di Fujairah juga terganggu akibat serangan drone.










