Close Menu
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Facebook X (Twitter) Instagram
Selasa, 17 Maret 2026
Trending
  • Honda Supra X 125 2026: Motor Bebek Legendaris yang Tangguh
  • Unduh PP 9/2026, Juknis THR 2026, Potongan Pajak & Cara Hitung THR
  • Krisis AS-Iran Ancam Ekonomi RI, CELIOS Minta Pertahankan Subsidi BBM
  • Menteri Luar Negeri Iran Tegaskan Penolakan Gencatan Senjata dari AS-Israel, Ini Alasannya
  • Limbah Elektronik Global Beredar Tanpa Pengawasan
  • Saham Indeks KOMPAS100 Masih Layak Diperhatikan
  • Awal Mula Kasus Bibi Kelinci: CCTV Pencurian di Restoran Jadi Bukti Tersangka
  • THR 2026 Dipotong Pajak? Ini Penjelasan DJP dan Besarannya
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok Threads RSS
Indonesia Discover
Login
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Indonesia Discover
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
  • Olahraga
  • Login
Home»Nasional»Ekonomi»Saham Indeks KOMPAS100 Masih Layak Diperhatikan
Ekonomi

Saham Indeks KOMPAS100 Masih Layak Diperhatikan

admin_indonesiadiscoverBy admin_indonesiadiscover17 Maret 2026Tidak ada komentar4 Mins Read
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
Share
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link

Kinerja Indeks Kompas100 dan IHSG yang Tidak Menjanjikan

Pada tahun 2026, kinerja Indeks Kompas100 terlihat lesu sejalan dengan arah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang bergerak negatif. Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), Indeks Kompas100 terkoreksi sebesar 11,22% year to date (ytd) ke level 1.059,606 hingga Jumat (8/3). Sementara itu, IHSG merosot 12,27% ytd ke level 7.585,687.

Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), Hari Rachmansyah, menjelaskan bahwa tren pelemahan indeks Kompas100 dipengaruhi oleh kombinasi sentimen global dan domestik. Dari sisi global, memanasnya tensi geopolitik Timur Tengah seperti konflik Amerika Serikat (AS)-Israel dan Iran meningkatkan sentimen risk-off yang disertai volatilitas harga minyak dan komoditas serta ketidakpastian arah suku bunga global. Di dalam negeri, tekanan juga datang dari arus keluar dana asing serta koreksi pada saham berkapitalisasi besar.

Beberapa sektor dengan bobot signifikan yang menjadi pemberat indeks antara lain perbankan seperti BBCA, BBRI, BMRI, dan BBNI, kemudian sektor teknologi seperti GOTO dan ARTO, serta sektor konsumsi seperti UNVR dan HMSP yang terdampak pelemahan daya beli masyarakat.

Pengaruh Ketidakpastian Global dan Domestik

Pengamat Pasar Modal sekaligus Founder Sekolah Saham Indonesia, Raden Bagus Bima, menilai bahwa kinerja indeks Kompas100 dipengaruhi oleh ketidakpastian suku bunga acuan global yang bertahan tinggi dalam jangka waktu lama, penguatan dolar AS, serta meningkatnya tensi geopolitik di beberapa kawasan yang membuat investor global cenderung mengurangi eksposur, terutama pada saham di emerging markets.

Alhasil, pasar kehilangan penurunan value dan frekuensi transaksi. Dari dalam negeri, aksi profit taking pada saham-saham big caps setelah reli kuat sejak 2024 juga mempengaruhi kinerja Kompas100. Di samping itu, rotasi sektor oleh investor institusi dari saham berbasis komoditas menuju sektor defensif yang saat ini cenderung minim opsi.

Menurut Raden, faktor penentu arah indeks Kompas100 masih berasal dari sektor perbankan besar yang memiliki bobot kapitalisasi indeks tinggi, kemudian sektor energi dan komoditas seiring normalisasi harga batu bara dan nikel.

Prospek Jangka Menengah yang Masih Menjanjikan

Secara umum, prospek kinerja indeks Kompas100 masih cukup menjanjikan untuk jangka menengah. Dari sisi fundamental, sebagian besar saham di dalam Kompas100 merupakan emiten dengan likuiditas tinggi, kapitalisasi besar, serta fundamental yang relatif solid, sehingga pergerakan sahamnya cenderung lebih sesuai terhadap volatilitas pasar.

Salah satu katalis yang bisa memberi pengaruh pada masa mendatang yaitu stabilisasi kebijakan suku bunga global, terutama jika pasar mulai melihat peluang penurunan suku bunga acuan The Fed. Katalis penting lainnya adalah perbaikan aliran dana asing ke emerging market serta realisasi kinerja laba emiten besar yang tetap tumbuh stabil, terutama di sektor perbankan, telekomunikasi, dan konsumer.

Momen pemulihan biasanya akan mulai terlihat ketika arus dana asing kembali masuk secara konsisten, karena kalau diperhatikan Kompas100 sangat dipengaruhi oleh pergerakan investor institusi global.

Sektor yang Berpotensi Menjadi Penopang

Raden juga menyebut, sektor yang berpotensi menjadi penopang indeks Kompas100 dalam beberapa waktu mendatang kemungkinan masih berasal dari perbankan besar yang memiliki fundamental kuat dengan pertumbuhan kredit yang stabil, profitabilitas, dan kualitas aset relatif terjaga. Setelah itu, ada sektor telekomunikasi lantaran memiliki karakter defensif dengan recurring revenue atau pendapatan berulang yang kuat.

Sementara itu, Hari memperkirakan sejumlah saham dengan fundamental kuat dan kapitalisasi besar berpotensi menjadi penopang indeks Kompas100, terutama dari sektor perbankan seperti BBCA, BBRI, dan BMRI yang masih didukung pertumbuhan kredit stabil dan margin yang solid. Selain itu, saham sektor energi dan komoditas seperti ADRO, MEDC, PTBA, dan AMMN berpotensi menopang indeks tersebut berkat dukungan harga komoditas dan arus kas yang kuat.

Dari sektor konsumer defensif, saham seperti INDF, ICBP, MYOR, dan KLBF juga relatif tahan banting terhadap volatilitas global. Begitu pula dengan saham bertema hilirisasi mineral seperti MDKA, MBMA, dan NCKL yang masih memiliki prospek jangka panjang.

Strategi Investasi yang Harus Diterapkan

Dengan demikian, meski tekanan indeks saat ini dipicu sentimen global dan arus keluar dana asing, fase volatilitas tersebut berpotensi menjadi periode konsolidasi sebelum peluang pemulihan pasar ke depan. Hari menyebut saham-saham dari sektor emas, migas, batu bara, dan timah dari indeks Kompas100 punya daya tarik bagi investor pada 2026 karena memiliki katalis dari harga komoditas dan fundamental yang relatif kuat. Namun, investor disarankan tetap menerapkan strategi investasi secara bertahap dan selektif mengingat volatilitas pasar global masih cukup tinggi.

Di lain pihak, Raden bilang bahwa koreksi pasar sejak awal tahun telah membuat sebagian saham big caps di indeks Kompas100 sekarang diperdagangkan di bawah rata-rata valuasi historisnya. Alhasil, beberapa saham dari indeks ini mulai menarik untuk investor jangka menengah hingga panjang.

Terdapat beberapa saham penghuni indeks Kompas100 yang layak dipertimbangkan investor menurut Raden. Di antaranya adalah BBRI, BBTN, TLKM, AADI, PTBA, ENRG, ANTM, dan BUMI.

Share. Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
admin_indonesiadiscover
  • Website

Berita Terkait

Krisis AS-Iran Ancam Ekonomi RI, CELIOS Minta Pertahankan Subsidi BBM

17 Maret 2026

Pajak THR 2026: Persen dan Cara Menghitungnya

17 Maret 2026

50 Ucapan Selamat Nyepi 2026 yang Menggugah Hati

17 Maret 2026
Leave A Reply Cancel Reply

Berita Terbaru

Honda Supra X 125 2026: Motor Bebek Legendaris yang Tangguh

17 Maret 2026

Unduh PP 9/2026, Juknis THR 2026, Potongan Pajak & Cara Hitung THR

17 Maret 2026

Krisis AS-Iran Ancam Ekonomi RI, CELIOS Minta Pertahankan Subsidi BBM

17 Maret 2026

Menteri Luar Negeri Iran Tegaskan Penolakan Gencatan Senjata dari AS-Israel, Ini Alasannya

17 Maret 2026
© 2026 IndonesiaDiscover. Designed by Indonesiadiscover.com.
  • Home
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • PT. Indonesia Discover Multimedia
  • Indeks Berita

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

Sign In or Register

Welcome Back!

Login to your account below.

Lost password?