Close Menu
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Facebook X (Twitter) Instagram
Senin, 13 Juli 2026
Trending
  • 10 Merek Sepatu Wanita Lokal Berkualitas dan Nyaman
  • 5 film superhero flop yang debutnya masih mengalahkan Supergirl
  • Kunjungan ke Pabrik Yamaha, Komunitas XMAX Bali Jelajahi Standar Produksi Global
  • Video Call dengan Bayi: Termasuk Screen Time? Ini Jawabannya
  • Penawaran Umum RANS Ditutup Besok, Jutaan Investor Antre Daftar di Bursa
  • Terdakwa Korupsi Rp 300 M Soroti Bukti Kerugian dan Validitas Audit
  • Gubernur Khofifah Dianugerahi Penghargaan atas Penurunan Stunting Jatim 14,7 Persen
  • Sandro Tonali resmi bergabung dengan Tottenham Hotspur, jadi pemain termahal klub
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok Threads RSS
Indonesia Discover
Login
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Indonesia Discover
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
  • Olahraga
  • Login
Home»Nasional»Ekonomi»Krisis Iran Guncang Harapan Kebijakan Moneter Asia
Ekonomi

Krisis Iran Guncang Harapan Kebijakan Moneter Asia

admin_indonesiadiscoverBy admin_indonesiadiscover9 Maret 2026Tidak ada komentar4 Mins Read
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
Share
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link

Perubahan Ekspektasi Suku Bunga di Asia Akibat Lonjakan Harga Minyak

Konflik antara Iran dengan koalisi Amerika Serikat (AS) dan Israel telah memicu lonjakan harga minyak global. Hal ini berdampak pada rencana pelonggaran kebijakan moneter yang dilakukan oleh bank sentral di kawasan Asia. Data dari overnight index swaps menunjukkan perubahan signifikan terkait ekspektasi suku bunga di beberapa negara Asia.

Perubahan paling mencolok terjadi di India dan Filipina, di mana pasar kini memperkirakan kenaikan suku bunga alih-alih pemangkasan. Di Thailand dan Indonesia, meskipun bank sentral masih diperkirakan akan memangkas suku bunga, probabilitasnya semakin menurun.

Sensitivitas Bank Sentral terhadap Harga Minyak

Menurut Selena Ling, kepala riset dari Oversea-Chinese Banking Corp Ltd. (OCBC), kemungkinan konflik Iran yang berkepanjangan membuat bank sentral di Asia lebih sensitif terhadap pergerakan harga minyak. “Bank sentral Asia kemungkinan akan mencermati apakah ruang pelonggaran kebijakan moneter dalam jangka pendek telah menyempit seiring pergerakan harga minyak,” ujarnya.

Sebelum konflik di Timur Tengah memanas, Ling telah memprediksi bahwa pertumbuhan ekonomi yang lebih kuat dan meredanya tren disinflasi akan membatasi ruang pemangkasan suku bunga tahun ini. Namun, jika konflik Iran berkepanjangan dan menyebabkan gangguan pasokan minyak secara nyata, jendela pelonggaran kebijakan mungkin menutup lebih cepat.

Prediksi Kenaikan Inflasi

OCBC memperkirakan kenaikan harga minyak berkelanjutan sebesar 10% dari rata-rata US$67 per barel pada Januari–Februari dapat meningkatkan inflasi tahunan sekitar 0,6%–0,8% di Thailand, 0,5%–0,7% di Filipina dan India, serta sekitar 0,4%–0,6% di Malaysia, Indonesia, dan Vietnam.

Harga minyak mentah acuan jenis Brent diperdagangkan di kisaran US$83 per barel pada perdagangan awal Jumat di Asia. Gubernur Bangko Sentral ng Pilipinas Eli Remolona Jr. mengatakan kenaikan harga minyak sekitar 10% sejak konflik Timur Tengah dimulai masih dapat dikelola. Namun, lonjakan hingga 50% akan memerlukan intervensi kebijakan yang lebih kuat.

Dampak pada Ekonomi Negara-Negara Asia

Indonesia dan Filipina mencatat percepatan inflasi pada Februari dan bersiap menghadapi tekanan lebih besar ke depan. Kedua negara sangat bergantung pada impor bahan bakar, sementara pelemahan mata uang semakin meningkatkan biaya impor energi.

Euben Paracuelles, chief Asean economist dari Nomura Holdings Inc., mengatakan lonjakan harga minyak akan cepat tercermin pada inflasi di Filipina dan dapat membuat bank sentral menahan suku bunga, alih-alih kembali memangkasnya pada April.

Risiko Fiskal di Indonesia

Di Indonesia, subsidi bahan bakar diperkirakan dapat meredam dampak inflasi, tetapi berisiko memperlebar defisit anggaran di tengah kekhawatiran fiskal yang sudah tinggi. Kondisi ini berpotensi memicu arus keluar modal dan mengganggu stabilitas nilai tukar yang menjadi fokus Bank Indonesia.

Nomura sebelumnya memperkirakan siklus pemangkasan suku bunga BI dimulai kembali pada Juni dari sebelumnya Maret, dengan risiko penundaan lebih lanjut jika harga minyak tetap tinggi. Inflasi Indonesia tercatat mencapai 4,76% pada Februari, melampaui target BI sebesar 1,5%–3,5% dan juga lebih tinggi dari perkiraan ekonom.

Tekanan pada Rupiah dan Kebijakan Moneter

Tekanan tersebut tercermin pada pergerakan rupiah yang pekan ini mendekati level terendah sepanjang sejarah. Bank Indonesia bahkan melakukan intervensi di pasar domestik maupun offshore.

Investor obligasi juga mulai bersiap menghadapi potensi kenaikan suku bunga di Malaysia, di tengah pertumbuhan ekonomi yang mendekati salah satu yang tercepat di kawasan. Bank sentral negara itu mempertahankan suku bunga acuan di level 2,75% pada Kamis, sembari memperingatkan risiko dari konflik Timur Tengah yang semakin dalam.

Dampak pada Ekonomi India

India menjadi salah satu ekonomi Asia yang paling rentan terhadap dampak konflik antara AS dan Israel melawan Iran. Negara tersebut mengimpor sekitar 90% kebutuhan minyaknya, dengan sekitar setengah pasokan berasal dari negara-negara Teluk Persia.

Gangguan perdagangan melalui Selat Hormuz yang menjadi jalur utama ekspor minyak juga meningkatkan risiko terhadap neraca transaksi berjalan, nilai tukar, dan inflasi India.

Secara keseluruhan, ruang manuver bank sentral di kawasan semakin menyempit. Inflasi mulai meningkat bahkan sebelum gangguan pasokan minyak sepenuhnya tercermin pada harga konsumen, sehingga otoritas moneter kini harus menyeimbangkan stabilitas mata uang dan pengendalian inflasi dengan dukungan terhadap pertumbuhan ekonomi.

Share. Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
admin_indonesiadiscover
  • Website

Berita Terkait

Penawaran Umum RANS Ditutup Besok, Jutaan Investor Antre Daftar di Bursa

11 Juli 2026

BEI Evaluasi Aturan Papan Pemantauan Khusus

11 Juli 2026

Bursa Asia Tertekan Selasa (7/7) Akibat Kenaikan Laba Samsung dan Pelemahan Yen

11 Juli 2026
Leave A Reply Cancel Reply

Berita Terbaru

10 Merek Sepatu Wanita Lokal Berkualitas dan Nyaman

11 Juli 2026

5 film superhero flop yang debutnya masih mengalahkan Supergirl

11 Juli 2026

Kunjungan ke Pabrik Yamaha, Komunitas XMAX Bali Jelajahi Standar Produksi Global

11 Juli 2026

Video Call dengan Bayi: Termasuk Screen Time? Ini Jawabannya

11 Juli 2026
© 2026 IndonesiaDiscover. Designed by Indonesiadiscover.com.
  • Home
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • PT. Indonesia Discover Multimedia
  • Indeks Berita

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

Sign In or Register

Welcome Back!

Login to your account below.

Lost password?