Close Menu
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Facebook X (Twitter) Instagram
Kamis, 5 Maret 2026
Trending
  • Jumlah bantal sofa sempurna untuk tampilan indah dan nyaman
  • Rencana Pembunuhan Farradilla Sudah Dipersiapkan Sejak 2025
  • Siapa Ayatullah Ali Khamenei? Ini Jejak Kekuasaan Pemimpin Tertinggi Iran
  • Jadwal Liga Inggris: Man United vs Palace, Chelsea vs Arsenal Malam Ini
  • Perubahan besar tahun 2026 mengubah nasib zodiak yang siap berubah
  • Bagaimana Sikap Kita Menghadapi Globalisasi? Soal IPS Kelas 6 SD Semester 2
  • Orang yang Tahan Gadget Saat Nonton Film Punya 6 Kekuatan Langka Ini, Menurut Psikologi
  • Peluncuran Armada Balap Yamaha Indonesia di Kompetisi Dunia dan Asia
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok Threads RSS
Indonesia Discover
Login
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Indonesia Discover
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
  • Olahraga
  • Login
Home»Ragam»Laporan Utama: Pakaian Lokal Kian Diterima
Ragam

Laporan Utama: Pakaian Lokal Kian Diterima

admin_indonesiadiscoverBy admin_indonesiadiscover5 Maret 2026Tidak ada komentar10 Mins Read
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
Share
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link

Laporan Utama: Apparel Lokal Semakin Diterima

Brand-brand apparel lokal kini mulai diterima oleh pasar menengah ke atas, yang sebelumnya hanya memperhatikan produk luar negeri. Simak perjalanan mereka dari segmen bawah hingga menjadi pilihan utama.

Perkembangan Brand Apparel Lokal

Beberapa dekade lalu, memakai jaket, sarung tangan, dan perlengkapan riding dari brand luar negeri premium adalah sebuah kebanggaan, terutama bagi pengguna motor gede. Namun seiring waktu, brand lokal dengan penetrasi dan citra yang kuat di segmen bawah mampu menjadi pilihan utama.

Mengapa butuh waktu lama agar produk-produk lokal ini bisa diterima oleh pasar menengah atas?

Ada beberapa faktor yang menyebabkan hal ini:

  1. Visi pemilik brand atau produsen

    Idealisme founder atau pemilik merek belum sejalan dengan ekspektasi pasar. Produk yang ditawarkan berbasis idealisme, bukan kebutuhan pasar. Meski berhasil, tetapi belum bisa menjadi local pride.

  2. Pendekatan produk yang berbeda

    Munculnya brand-brand lokal baru dengan pendekatan produk yang berbeda. Mereka mengamati, meniru, dan memodifikasi produk luar, tetapi tidak sekadar menjiplak. Malah berhasil menciptakan identitas dan rasa bangga terhadap merek.

  3. Faktor eksternal lainnya

    Pemakai motor gede yang ikut mengkonsumsi produk lokal saat menaiki motor alternatif mereka. Pendekatan kepada komunitas yang efektif dan kolaborasi dengan APM (Agen Pemegang Merek) juga membantu. Pemakai motor kecil bisa memakai jaket premium karena kolaborasi antara APM atau dealer dengan produsen apparel lokal.

  4. Perubahan tren

    Kebanggaan muncul karena para pengguna tidak lagi cukup menggunakan “jaket hadiah” yang biasanya model bomber, berbahan parasut, dan mudah sobek.

Contin: Menyediakan Apparel yang Serius

Di tengah gempuran merek luar negeri, Contin berhasil mempertahankan posisinya dengan fokus pada perpaduan antara gaya, kenyamanan, dan keselamatan bagi para pengendara di Indonesia.

Contin asal Cimahi, Jawa Barat, dibangun oleh Vincent Nugroho. Brand ini telah eksis sejak 2006 karena terus memberikan edukasi terhadap bikers seputar apparel bermotor.

Menurut Vincent, pasar apparel di Indonesia masih dalam tahap edukasi, karena kesadaran akan fungsi keselamatan seringkali masih kalah oleh tren fashion.

Vincent menegaskan bahwa tugas brand owner dan pegiat keselamatan berkendara adalah mengedukasi tentang risiko, kenyamanan, dan keselamatan. Apparel punya peran penting di situ, tanpa menghilangkan aspek fashion.

Sebagai merek yang konsisten menghadirkan produk “serius”, Contin merancang setiap produknya agar fungsional baik untuk kebutuhan harian maupun touring jarak jauh.

Keunggulan utama yang ditawarkan adalah originalitas desain yang memiliki DNA sendiri, sehingga mudah dikenali dan berbeda dari kompetitor lainnya.

Strategi ini diambil agar produk mereka tetap memiliki identitas yang kuat. Untuk menjaga keberlangsungan bisnis, Contin menerapkan strategi harga yang kompetitif namun tetap mengedepankan kualitas material dan fitur yang adaptif terhadap kebutuhan konsumen.

Saat ini, penjualan mereka didominasi oleh jaket touring kelas flagship dan jaket harian, dengan distribusi yang merata antara kanal offline maupun online. Harganya dimulai dari Rp 198 ribu hingga Rp 1,6 jutaan.

Dengan terus berinovasi mengikuti perkembangan zaman, Contin berkomitmen untuk tetap menjadi pilihan utama bagi para penjelajah roda dua yang menginginkan keamanan sekaligus tampilan yang keren.

YORC: Menghubungkan Fungsi Riding dengan Lifestyle

YORC berdiri sejak 2018 dan dibangun dari sudut pandang rider itu sendiri. Founder YORC, Reyner Alexander, menjelaskan bahwa YORC lahir dari keinginan banyak rider, termasuk dirinya, yang ingin apparel otomotif yang nyaman dipakai riding tapi tetap terjangkau dan masuk dalam aktivitas harian tanpa kelihatan terlalu racing atau berat.

Menurut Reyner, perkembangan kultur riding di Tanah Air berjalan sangat pesat. Namun di sisi lain, pilihan apparel yang mampu mengakomodasi kebutuhan berkendara sekaligus gaya hidup masih tergolong terbatas, terutama di segmen brand lokal.

Konsep tersebut kemudian menjadi fondasi YORC dalam mengembangkan produknya. Brand lokal ini tidak hanya memposisikan apparel sebagai perlengkapan saat berada di atas motor, tetapi juga sebagai pakaian yang bisa digunakan untuk aktivitas harian tanpa harus berganti outfit.

Seiring perjalanannya, YORC kini memiliki beragam kategori produk yang menyasar kebutuhan rider harian hingga touring ringan. Beberapa produk yang ditawarkan antara lain jaket riding Strayline, inner protector Flexcore, balaclava, tas helm, inner suit dan basic tee, hoodie serta crewneck, hingga celana riding seperti denim dan cargo.

Selain itu, YORC juga melengkapi lini produknya dengan berbagai aksesori seperti topi, stiker, dan side stand pad. Harga apparel yang disuguhkan oleh YORC mulai dari Rp 100 ribu hingga Rp 1,2 jutaan.

Melalui ragam produk tersebut, YORC berupaya menghadirkan apparel otomotif yang fungsional, nyaman, dan tetap relevan dengan gaya hidup rider Indonesia.

Rabbit and Wheels: Fashion with Function

Merek apparel riding lokal Rabbit and Wheels terus memperkuat posisinya di pasar dengan mengusung konsep fashion with function. Apparel asal Bandung ini menyasar pengendara motor yang ingin tetap tampil stylish tanpa mengorbankan kenyamanan dan fungsi saat berkendara.

Founder Rabbit and Wheels, Irvan Octria, menjelaskan bahwa segmentasi Rabbit and Wheels lahir dari kebutuhan bikers Indonesia yang menginginkan apparel riding dengan desain lebih menarik dan tidak kaku.

“Segmentasi Rabbit and Wheels ini lebih ke fashion with function. Kami ingin memberikan produk yang menarik atau fashionable untuk dipakai berkendara, karena kami melihat rata-rata jaket riding di pasaran agak kaku dari segi desain, hanya bermain logo saja dan kurang eye-catching,” ujar Irvan.

Menurutnya, konsep tersebut juga muncul dari permintaan langsung para bikers yang ingin tetap tampil modis saat berkendara, baik untuk kebutuhan harian maupun hobi.

Dalam hal desain, Rabbit and Wheels tidak hanya mengikuti tren dunia otomotif, tetapi juga perkembangan fashion global. Irvan menyebut bahwa saat ini arah desain produk mereka banyak terinspirasi dari tren visual modern yang mulai bergeser ke arah tipografi.

Terkait harga, Rabbit and Wheels menawarkan lini produk mereka dengan rentang harga beragam. Hal ini dilakukan untuk menyesuaikan kategori dan kebutuhan pengendara. Untuk jaket kasual, harga dibanderol mulai Rp 490.000 hingga Rp 1.150.000. Sementara lini Motorsport Jacket berada di kisaran Rp 1.593.900 sampai Rp 2.079.000.

Untuk produk T-shirt, harganya mulai dari Rp 270.000 hingga Rp 400.000. Dengan perpaduan desain modern, fungsi yang disesuaikan iklim tropis, serta harga yang beragam, Rabbit and Wheels menargetkan bisa menjadi pilihan utama apparel riding bagi bikers Indonesia yang ingin tampil gaya di jalan. Bahkan aftersales dari Rabbit and Wheels bisa dibilang terbaik, karena memberikan layanan cuci seumur hidup secara gratis!

Respiro: Apparel yang Lengkap dan Berfokus pada Keselamatan

Respiro menawarkan rangkaian produk apparel riding yang cukup lengkap untuk kebutuhan pengendara motor di Indonesia, mulai dari jaket hingga perlengkapan pendukung. Brand asal Bandung yang berdiri sejak 2010 ini memasarkan jaket riding sebagai produk utama, dengan banderol harga yang bervariasi tergantung segmen dan fitur yang diusung.

Untuk lini jaket, Respiro membaginya ke dalam empat kategori utama, yakni Essenzo untuk penggunaan harian, Rovero bagi kebutuhan touring, Veloce untuk racing sport touring, serta Adrenal yang ditujukan bagi pengendara adventure. Harga jaket Respiro dipasarkan mulai dari Rp 300 ribuan hingga sekitar Rp 1,5 jutaan.

Selain jaket, Respiro juga menjual berbagai produk pelengkap yang menunjang aktivitas berkendara. Di antaranya jas hujan, tas, sarung tangan, balaclava, hingga aksesori seperti gantungan kunci. Produk-produk pelengkap tersebut ditawarkan dengan harga yang relatif terjangkau. Untuk produk pelengkap seperti gloves dan balaclava, dimulai dari Rp 70 ribu.

Dari sisi pengembangan produk, Respiro mengandalkan material khusus bernama Pirotex pada jaket-jaketnya. “Material khusus bernama Pirotex, yang membuat material dari jaket Respiro breathable, windproof, dan water repellent, hanya tingkatannya saja yang berbeda sesuai jaketnya,” kata Salman.

Enggak hanya soal kenyamanan, aspek keselamatan juga mulai menjadi perhatian utama Respiro seiring meningkatnya kesadaran pengendara motor. Untuk itu, Respiro berencana memperkuat lini jaket berprotektor pada tahun 2026.

7Gear: Apparel untuk Rider Aktif

Di tengah maraknya apparel motor yang menonjolkan tampilan visual, 7Gear justru hadir dengan menyasar rider enthusiast yang benar-benar aktif di jalan.

Owner 7Gear, Adet Vriono, menegaskan bahwa sejak awal, bisnisnya tersebut tidak memposisikan produknya sebagai apparel gaya hidup, melainkan perlengkapan riding yang dibangun dari kebutuhan nyata para pengendara.

“7Gear bermain di segmen rider enthusiast. Target utamanya adalah pengguna motor yang benar-benar aktif seperti adventure rider, touring rider, hingga off-road. Karena itu, functional product menjadi salah satu fitur utama yang terus kami kembangkan,” ujar Adet.

Angle fungsionalitas ini juga menjadi fondasi utama arah desain 7Gear. Menurutnya, kondisi iklim tropis, jarak tempuh yang jauh, serta medan yang beragam membuat kebutuhan rider Indonesia sangat spesifik dan tidak bisa disamakan dengan pasar luar negeri.

“Kiblat desain 7Gear banyak terinspirasi dari dunia motoran overland dan dual purpose. Ini sesuai dengan kebutuhan khas rider Indonesia. Jadi desain kami bukan sekadar gaya, tapi design by function,” jelasnya.

Ia menambahkan, setiap detail produk dirancang berdasarkan kebutuhan saat berkendara, bukan sekadar estetika. Mulai dari potongan, ventilasi, pemilihan material, hingga fitur teknis, semuanya disesuaikan agar tetap nyaman dipakai dalam berbagai kondisi perjalanan.

Dari sisi harga, 7Gear menawarkan lini produk yang luas untuk menjangkau berbagai kebutuhan rider aktif. Rentang harganya dimulai dari Rp 99.000 hingga Rp 2.100.000, tergantung jenis produk, material, serta fitur teknis yang disematkan. Apparel dan pendukung yang disediakan oleh 7Gear mulai dari tankbag, sidebag, tailbag, jersey, base layer, jaket, rompi, celana, sarung tangan, tas, hingga hydrobag.

Philip Works: Nilai Otomotif dalam Gaya Hidup

Phillip Works merupakan apparel brand lokal yang mengusung nilai otomotif sebagai bagian dari gaya hidup, bukan sekadar mengikuti tren pasar.

Founder & Direktur Utama Phillip Works, Jovan Koswara, menyebut bahwa sejak awal Phillip Works dibangun dengan jiwa dan karakter yang kuat, agar dapat tampil berbeda di tengah persaingan industri fashion.

“Karena brand kita punya soul atau jati diri yang membuat kita standout, tidak sekadar mengikuti tren, tapi justru berusaha menjadi pihak yang set the trend. Di luar itu, harga yang kita tawarkan juga fair dengan kualitas yang kita berikan,” ujar Jovan.

Dalam menentukan posisi harga, Phillip Works mengandalkan riset pasar yang matang dengan membandingkan produk-produk dari brand lokal maupun internasional.

“Tentunya dengan research yang matang, kita memperhatikan harga jual pesaing, baik brand lokal maupun internasional. Dari situ kita mampu memposisikan diri sesuai dengan kualitas dan kreativitas yang kita berikan,” lanjutnya.

Phillip Works juga menempatkan komunitas sebagai elemen penting dalam membangun citra brand. Tidak hanya komunitas otomotif, tetapi juga komunitas fashion yang memiliki peran strategis dalam memperluas jangkauan pasar.

“Peran komunitas lebih kepada membentuk brand image. Melalui komunitas, kita memberikan impresi bahwa kita ikut turun langsung untuk memahami keinginan dan kebutuhan para penggemar otomotif. Namun kita juga tidak terpatok hanya pada komunitas otomotif, karena pada dasarnya kita adalah bisnis fashion yang mengusung tema otomotif,” jelas Jovan.

Dalam strategi pemasaran, Phillip Works memilih pendekatan yang lebih intim dan kolaboratif dibandingkan kampanye berskala besar yang umum dilakukan brand luar.

“Campaign yang kita bentuk lebih ke pendekatan langsung dengan komunitas lokal, content creator lokal, seniman lokal, bahkan builder lokal. Ini berbeda dengan kebanyakan brand luar yang menggunakan artis papan atas dengan skala besar,” katanya.

Menurut Jovan, inovasi menjadi kunci utama agar brand tetap relevan di industri fashion yang dinamis, tanpa kehilangan identitas dasar yang telah dibangun.

“Inovasi itu sangat penting. Kita harus up to date dengan tren yang ada, tapi tetap mempertahankan identitas dan konsisten terhadap roots kita,” ujarnya.

Melihat perkembangan brand lokal saat ini, Jovan optimistis terhadap apresiasi pasar, khususnya di kalangan penggemar otomotif.

“Setiap orang punya selera masing-masing, tapi tidak bisa dipungkiri brand lokal sudah jauh berkembang dari segi kreativitas dan kualitas. Saya rasa hampir setiap penggemar otomotif pasti punya setidaknya satu produk brand lokal yang mereka sukai,” tutup Jovan.

Dengan pendekatan berbasis komunitas, inovasi berkelanjutan, serta identitas yang kuat, Phillip Works terus memperkuat posisinya sebagai apparel lokal yang merepresentasikan semangat otomotif dalam gaya hidup modern.

Share. Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
admin_indonesiadiscover
  • Website

Berita Terkait

Orang yang Tahan Gadget Saat Nonton Film Punya 6 Kekuatan Langka Ini, Menurut Psikologi

5 Maret 2026

Jumlah bantal sofa sempurna untuk tampilan indah dan nyaman

5 Maret 2026

Perubahan besar tahun 2026 mengubah nasib zodiak yang siap berubah

5 Maret 2026
Leave A Reply Cancel Reply

Berita Terbaru

Jumlah bantal sofa sempurna untuk tampilan indah dan nyaman

5 Maret 2026

Rencana Pembunuhan Farradilla Sudah Dipersiapkan Sejak 2025

5 Maret 2026

Siapa Ayatullah Ali Khamenei? Ini Jejak Kekuasaan Pemimpin Tertinggi Iran

5 Maret 2026

Jadwal Liga Inggris: Man United vs Palace, Chelsea vs Arsenal Malam Ini

5 Maret 2026
© 2026 IndonesiaDiscover. Designed by Indonesiadiscover.com.
  • Home
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • PT. Indonesia Discover Multimedia
  • Indeks Berita

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

Sign In or Register

Welcome Back!

Login to your account below.

Lost password?