Close Menu
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Facebook X (Twitter) Instagram
Minggu, 24 Mei 2026
Trending
  • Profil Sebastian Desabre, Pelatih Kongo di Piala Dunia 2026 dengan Reputasi Hebat di Afrika
  • 18 Calon Jamaah Haji Aceh Gagal Berangkat Karena Kematian dan Sakit
  • Profil Pemeran Drakor Teach You a Lesson, Trailer Sudah Dirilis
  • Menolak Nongkrong Bersama Desta dan Gading Marten, Ahmad Dhani: Tidak Ingin Terpengaruh Perilaku Buruk
  • Wakil Ketua DPD RI: Pidato Prabowo Perkuat Arsitektur Ekonomi dan Ideologi Pembangunan
  • Paket Soal TIK Kelas 11 Essay Semester 2 dan Kunci Jawaban 2026
  • Skuter Listrik TVS iQube S Lebih Terjangkau, Rasakan Berkendara Seperti Motor Bensin
  • 11 Film Pendek Berdasarkan Lagu Thailand
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok Threads RSS
Indonesia Discover
Login
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Indonesia Discover
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
  • Olahraga
  • Login
Home»Nasional»Ekonomi»Pinjaman Rp 2 Triliun Dedi Mulyadi untuk Infrastruktur Jawa Barat 2030
Ekonomi

Pinjaman Rp 2 Triliun Dedi Mulyadi untuk Infrastruktur Jawa Barat 2030

admin_indonesiadiscoverBy admin_indonesiadiscover1 Maret 2026Tidak ada komentar3 Mins Read
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
Share
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link

Rencana Pinjaman Daerah untuk Infrastruktur Jawa Barat

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi mengumumkan rencana pengajuan pinjaman daerah senilai Rp 2 triliun tahun ini. Dana tersebut akan digunakan untuk membiayai proyek infrastruktur besar hingga tahun 2030. Hal ini dilakukan karena kehilangan transfer ke daerah yang mencapai hampir Rp 3 triliun.

Dedi menyatakan bahwa pinjaman akan diajukan kepada bank bjb, dan pembayaran cicilan akan dilakukan hingga tahun 2030. Ia menjelaskan bahwa dana tersebut akan digunakan untuk membangun ruas jalan di kawasan Puncak II Bogor, jembatan underpass, serta jembatan layang.

“Kan itu cicilannya sampai 2030, selama saya memimpin gitu loh. Jadi tidak boleh lebih. Nanti ada beberapa tempat yang kita bangun underpass dengan biaya yang relatif lumayan dan terus te rang saja untuk mewujudkan itu,” ujar Dedi.

Sekretaris Daerah Jabar Herman Suryatman menyatakan bahwa rencana pengajuan pinjaman daerah masih dalam pembahasan internal Pemprov Jabar. Wakil Ketua DPRD Jabar MQ Iswara mengungkapkan bahwa pihaknya telah menerima surat pengajuan pinjaman dari Gubernur Jabar.

Menurut Iswara, dalam surat tersebut, Gubernur Jabar menyampaikan rencana tambahan pinjaman Rp 2 triliun untuk membiayai berbagai proyek infrastruktur. Skema pendanaan akan melalui sindikasi antara PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI) dan bank bjb.

Iswara menegaskan agar skema pembiayaan tidak membebani satu pihak saja. Ia khawatir jika hanya mengandalkan bank bjb, dapat memengaruhi likuiditas bank daerah tersebut.

Kritik dari Pengamat Ekonomi

Pengamat ekonomi Universitas Pasundan Acuviarta Kartabi tidak setuju dengan rencana peminjaman dana tersebut. Menurutnya, tindakan ini akan menyebabkan masalah baru bagi fiskal Provinsi Jabar. Selain itu, ia menyebutkan bahwa kebijakan intensifikasi pendapatan dari pajak Provinsi Jawa Barat juga tidak berhasil.

“Jadi saya kira, gunakanlah sementara dana yang ada untuk pembangunan. Jangan sampai seperti pemerintah pusat yang banyak menyerap biaya padahal ada kebijakan efisiensi,” ujarnya.

Acuviarta menilai bahwa rencana peminjaman ini tidak urgen. Ia menyarankan agar Pemprov Jabar bisa menyusun skala prioritas dan mengelola dana yang ada dengan baik.

Pandangan Guru Besar Ekonomi Pembangunan

Prof. Atih Rohaeti Dariah, Guru Besar bidang Ekonomi Pembangunan FEB Unisba, lebih fleksibel dalam menanggapi wacana ini. Menurutnya, asalkan pinjaman digunakan untuk membangun infrastruktur daerah yang benar-benar menjadi tanggung jawab Pemprov, maka upaya peminjaman mungkin dilakukan.

Atih menekankan bahwa ekspansi fiskal melalui pinjaman harus diperhitungkan sedemikian rupa. Ia menilai perlu adanya perhitungan risiko jika potensi untuk membayar tidak tercapai.

“Artinya, jangan terjebak hasrat ekspansi fiskal yang kurang hati-hati. Sehingga perhitungan dan antisipasi mitigasi risikonya harus clear. Jika ini tidak optimal dilakukan, lebih baik tidak usah berutang,” katanya.

Alternatif Pendanaan Lain

Selain pinjaman, masih ada alternatif lain untuk memenuhi kebutuhan dana pembangunan. Pemprov Jabar bisa bernegosiasi dengan Menteri Keuangan agar pemotongan dana transfer ke daerah tidak sebesar itu. Selain itu, optimasi penerimaan pajak dan peningkatan kinerja BUMN juga bisa menjadi solusi.


Share. Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
admin_indonesiadiscover
  • Website

Berita Terkait

Wakil Ketua DPD RI: Pidato Prabowo Perkuat Arsitektur Ekonomi dan Ideologi Pembangunan

24 Mei 2026

Opini: Jutaan Pekerja Informal Dongkrak Ekonomi NTT

24 Mei 2026

Kopdes Merah Putih Bikin Investor Khawatir Masuk Saham Ritel, AMRT-DNET Terkena Dampak?

24 Mei 2026
Leave A Reply Cancel Reply

Berita Terbaru

Profil Sebastian Desabre, Pelatih Kongo di Piala Dunia 2026 dengan Reputasi Hebat di Afrika

24 Mei 2026

18 Calon Jamaah Haji Aceh Gagal Berangkat Karena Kematian dan Sakit

24 Mei 2026

Profil Pemeran Drakor Teach You a Lesson, Trailer Sudah Dirilis

24 Mei 2026

Menolak Nongkrong Bersama Desta dan Gading Marten, Ahmad Dhani: Tidak Ingin Terpengaruh Perilaku Buruk

24 Mei 2026
© 2026 IndonesiaDiscover. Designed by Indonesiadiscover.com.
  • Home
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • PT. Indonesia Discover Multimedia
  • Indeks Berita

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

Sign In or Register

Welcome Back!

Login to your account below.

Lost password?