Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengakhiri perdagangan pekan ini dengan penurunan, berada di zona merah. Berdasarkan data dari Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG turun sebesar 2,31 poin atau 0,02% menjadi 8.271,76 pada penutupan Jumat (20/2/2026).
Pada perdagangan pekan terakhir Februari 2026 mendatang, indeks diprediksi akan mengalami kenaikan. Ezaridho Ibnutama, Head of Research NH Korindo Sekuritas, menjelaskan bahwa IHSG berpotensi menguat pada perdagangan Senin (23/2/2026). Level support IHSG saat ini berada di 8.176, sedangkan resistance berada di kisaran 8.379 hingga 8.474.
Menurut Ezaridho, pelaku pasar akan memperhatikan keputusan terbaru dari Mahkamah Agung Amerika Serikat (SCOTUS) yang membatalkan tarif Trump. Perkembangan ini berpotensi meningkatkan sentimen positif terhadap Indonesia setelah sebelumnya ada ketegangan akibat isu MSCI dan Moody’s yang sempat menurunkan kepercayaan investor pada kuartal pertama 2026.
Namun, ia juga menyampaikan bahwa pelaku usaha domestik mungkin menghadapi persaingan ketat dari perusahaan AS yang mendapatkan pengecualian dari beberapa regulasi di Indonesia. Pengecualian ini mencakup aturan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN), yang bisa memicu tuntutan perlakuan yang setara bagi pelaku usaha lokal.
Di tengah tren melemahnya rupiah, beberapa perusahaan manufaktur mempertimbangkan relokasi ke Amerika Serikat untuk memanfaatkan pembebasan regulasi, tarif 0%, serta penerimaan pendapatan dalam mata uang dolar AS yang kuat.
Di sisi lain, kesepakatan dagang antara AS dan Indonesia tetap memberikan sentimen positif yang dapat mengubah arus keluar modal dari Indonesia. Ezaridho berpandangan bahwa ketika kesepakatan ini mulai berlaku, regulasi domestik kemungkinan akan beradaptasi terhadap meningkatnya persaingan dalam lanskap bisnis Indonesia.
Nafan Aji Gusta, Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, memberikan prediksi IHSG untuk perdagangan Senin (23/2/2026) berada di level support 8.210 dan 8.171 serta resistance di posisi 8.376 dan 8.408. Ia menilai investor dan pelaku pasar akan mencermati kelanjutan sentimen antara MSCI dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Bursa Efek Indonesia (BEI), dan Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) terkait reformasi pasar modal, khususnya yang menyangkut transparansi kepemilikan saham dan dinamika free float.
Ini memungkinkan investor asing untuk melakukan akumulasi saham berkapitalisasi besar. Di samping itu, pelaku pasar juga memperhatikan perkembangan hubungan bilateral antara AS dan Indonesia. Nafan menilai ada kesepakatan saling menguntungkan, di mana Indonesia mendapatkan fasilitas tarif 0% untuk sekitar 1.800 produk ekspor ke AS. Kebijakan ini dinilai dapat memberikan dorongan bagi produk unggulan nasional seperti logam mineral, manufaktur, kayu, hingga furnitur.
Selain itu, apresiasi harga komoditas emas menjadi sentimen positif karena berpotensi mendukung kinerja emiten-emiten terkait. Pasar juga masih dibayangi sejumlah katalis lain, seperti rilis laporan keuangan, momentum Ramadan dan Lebaran, serta musim pembagian dividen yang sering menjadi perhatian investor.
Dalam rekomendasi saham, Ezaridho menyarankan investor untuk memantau saham logistik perkapalan, antara lain PT Samudera Indonesia Tbk (SMDR) dengan target harga Rp 500, PT Buana Lintas Lautan Tbk (BULL) dengan target harga Rp 800, dan PT Soechi Lines Tbk (SOCI) pada target harga Rp 1.110 per saham.
SMDR Chart
by TradingView



