Close Menu
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Facebook X (Twitter) Instagram
Kamis, 11 Juni 2026
Trending
  • Film Pesta Babi: Jejak Yasinta Moiwend di Jakarta – Siapa yang Menemani?
  • Blak-blakan! Veda Ega Pratama Bocorkan Penyebab Kecelakaan di FP2, Bangkit dan Rebut Start P9 Moto3 Hungaria 2026
  • Spesifikasi dan Harga iQOO 15T: Smartphone Gaming dengan Kamera 200MP OIS
  • Yang Termasuk Daftar Prelist dalam Sensus Ekonomi 2026
  • Ibu Histeris, Anaknya Tewas Dijambret Setelah 4 Hari Koma
  • Lowongan Guru PPPK 2026: Pendaftaran hingga Gaji Sekolah Rakyat
  • Kabar pertukaran pemain Persib dan Persita: Rayco Rodriguez digadang-gadang ditukar dengan Ramon Tanque
  • Gembira Loka Yogyakarta Bagikan Tiket Masuk Gratis, Ini Syaratnya
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok Threads RSS
Indonesia Discover
Login
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Indonesia Discover
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
  • Olahraga
  • Login
Home»Ragam»Teknologi»Kekhawatiran akan dampak AI di dunia kerja meningkat, ahli sebut sebagai pemicu bangkitnya gerakan buruh
Teknologi

Kekhawatiran akan dampak AI di dunia kerja meningkat, ahli sebut sebagai pemicu bangkitnya gerakan buruh

admin_indonesiadiscoverBy admin_indonesiadiscover25 Februari 2026Tidak ada komentar3 Mins Read
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
Share
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link

Kecemasan terhadap Dampak Kecerdasan Buatan di Dunia Kerja

Di tahun 2026, kecemasan terhadap dampak kecerdasan buatan (AI) di dunia kerja semakin menguat. Di tengah tekanan biaya hidup dan ketidakpastian global, pekerja lintas sektor kini menghadapi bayang-bayang otomatisasi dan pengawasan berbasis algoritma yang dinilai mampu mengubah relasi kerja secara mendasar.

Pada awal dekade ini, fokus utama adalah pada gelombang pengunduran diri massal dan pengorganisasian serikat pekerja di Amerika Serikat (AS). Namun, kini perhatian bergeser ke ancaman disrupsi teknologi. Para pemimpin perusahaan teknologi memproyeksikan bahwa AI akan segera mampu menjalankan tugas insinyur perangkat lunak, bahkan suatu hari mengambil alih fungsi manajerial. Namun, optimisme tersebut tidak sepenuhnya dirasakan oleh para pekerja.

Survei Pew Research 2025 menunjukkan bahwa 64 persen publik percaya AI akan menyebabkan lebih sedikit pekerjaan dalam 20 tahun ke depan. Hanya 17 persen warga AS yang menilai AI akan berdampak positif bagi negara tersebut dalam periode yang sama. Data ini memperlihatkan jurang persepsi antara narasi kemajuan teknologi dan kekhawatiran masyarakat pekerja.

Momentum untuk Konsolidasi Pekerja

Sejumlah ahli melihat situasi ini sebagai momentum strategis bagi konsolidasi pekerja. Sarita Gupta, Wakil Presiden Program AS di Ford Foundation dan penulis The Future We Need, melihat pergeseran ini sebagai titik temu baru. “Ini menciptakan sebuah peluang,” ujarnya. Dia menjelaskan, “Ketika seorang insinyur perangkat lunak muda di Silicon Valley menyadari bahwa kinerjanya dilacak atau dilemahkan dengan logika yang sama seperti buruh gudang, sekat kelas mencair, dan gerakan kelas pekerja yang lebih luas untuk martabat menjadi mungkin. Itulah yang mulai kita lihat.”

Kekhawatiran terhadap AI juga dirasakan oleh pekerja berpenghasilan rendah. Lisa Kresge, peneliti senior di UC Berkeley Labor Center, mengatakan, “Bagi pekerja bergaji rendah, ada kekhawatiran digantikan robot. Namun di sisi lain, ada juga kekhawatiran dijadikan seperti robot.” Pernyataan ini menegaskan bahwa isu AI bukan semata soal hilangnya pekerjaan, melainkan juga soal dehumanisasi kerja.

Pengalaman Pandemi sebagai Pembelajaran

Pengalaman pandemi Covid-19 menunjukkan ketakutan kolektif yang dapat memicu pergeseran daya tawar. Kresge mengingatkan, “Itu bukan masa yang indah bagi banyak pekerja. Dan sebagian kebangkitan pengorganisasian buruh saat itu merupakan respons terhadap banyak ketakutan.”

Meski demikian, tantangan struktural tetap besar. Gupta menegaskan, “Selama empat dekade, produktivitas melonjak sementara upah stagnan, dan tingkat keanggotaan serikat mencapai titik terendah bersejarah.” Pada 2025, hanya 9,9 persen pekerja AS yang menjadi anggota serikat—angka terendah dalam hampir 40 tahun.

Kritik terhadap Narasi Dominan

Narasi dominan mengenai AI juga dinilai perlu dikritisi. Kresge menyatakan, “Ada upaya terkoordinasi di antara banyak pemimpin teknologi untuk mengaburkan pemahaman publik tentang AI. Dalam banyak hal, ini menjadi taktik untuk melemahkan pekerja, pembuat kebijakan, dan pihak yang kritis terhadap konsentrasi pendanaan dan sumber daya yang terus menguat di sektor ini.”

Masa Depan AI: Pilihan yang Terbuka

Pada akhirnya, arah pemanfaatan AI masih terbuka. Gupta menekankan, “Kita harus selalu mengingat bahwa arah teknologi adalah pilihan. Kita bisa menggunakan AI untuk membangun ekonomi pengawasan yang memeras setiap tetes keringat dari pekerja, atau menggunakannya untuk membangun era kemakmuran bersama. Kita tahu jika teknologi dirancang, diterapkan, dan diawasi dengan melibatkan para pekerja, AI tidak akan menjadi ancaman sebesar ini.”

Dengan demikian, kecemasan atas dampak AI bukan sekadar refleksi ketakutan, melainkan potensi titik balik. Para ahli menilai, di tengah ketidakpastian ini, arah gerak dunia kerja akan sangat ditentukan oleh sejauh mana pekerja mampu mengonsolidasikan daya tawarnya dalam menghadapi perubahan teknologi.


Share. Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
admin_indonesiadiscover
  • Website

Berita Terkait

Spesifikasi dan Harga iQOO 15T: Smartphone Gaming dengan Kamera 200MP OIS

11 Juni 2026

ChatGPT Bisa Membaca Kartu Tarot, Tapi Bisakah Ia Memahami Manusia?

11 Juni 2026

Cara mengganti nada dering WhatsApp dengan suara sendiri menggunakan Google Assistant

11 Juni 2026
Leave A Reply Cancel Reply

Berita Terbaru

Film Pesta Babi: Jejak Yasinta Moiwend di Jakarta – Siapa yang Menemani?

11 Juni 2026

Blak-blakan! Veda Ega Pratama Bocorkan Penyebab Kecelakaan di FP2, Bangkit dan Rebut Start P9 Moto3 Hungaria 2026

11 Juni 2026

Spesifikasi dan Harga iQOO 15T: Smartphone Gaming dengan Kamera 200MP OIS

11 Juni 2026

Yang Termasuk Daftar Prelist dalam Sensus Ekonomi 2026

11 Juni 2026
© 2026 IndonesiaDiscover. Designed by Indonesiadiscover.com.
  • Home
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • PT. Indonesia Discover Multimedia
  • Indeks Berita

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

Sign In or Register

Welcome Back!

Login to your account below.

Lost password?