Close Menu
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Friday, 9 October 2026
    Trending
    • Sahabat Jadi Selingkuhan, Pasangan Sendiri Dikhianati!
    • PSM Makassar vs Arema FC di Super League 2026/2027: Head to head, prediksi skor, daftar pemain
    • 6 strategi memanfaatkan waktu yang terbuang untuk meningkatkan karier menurut psikologi
    • Prediksi superkomputer terkait klasemen akhir fase awal Liga Champions 2026/2027
    • 6 alasan mengapa media sosial membuat anak-anak yang mulai remaja merasa menderita menurut psikologi
    • 5 zodiak dengan ramalan keuangan paling cerah September 2026, karier hingga relasi jadi kuncinya!
    • PSM Makassar vs Arema FC di Super League 2026/2027: Head to head, prediksi skor, daftar pemain
    • Dua tahun Prabowo: Antara negara kuat dan pemerintahan efektif
    Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok Threads RSS
    Indonesia Discover
    Login
    Indonesia Discover
    • Nasional
    • Internasional
    • Ekonomi
    • Politik
    • Hukum
    • Ragam
    • Olahraga
    • Login
    Home»Nasional»Ekonomi»Ekonomi Syariah Indonesia: Tumbuh di Angka, Tertinggal dalam Keadilan
    Ekonomi

    Ekonomi Syariah Indonesia: Tumbuh di Angka, Tertinggal dalam Keadilan

    admin_indonesiadiscoverBy admin_indonesiadiscover21 February 2026No Comments4 Mins Read
    Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
    Share
    Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link

    Perkembangan Ekonomi Syariah di Indonesia: Angka dan Realitas yang Berbeda

    Perkembangan ekonomi syariah di Indonesia sering kali diukur melalui angka. Tingkat literasi yang terus meningkat, inklusi yang perlahan tumbuh, serta hadirnya berbagai institusi keuangan syariah sering dijadikan indikator keberhasilan. Namun, pertanyaan mendasar tetap muncul: Apakah pertumbuhan tersebut benar-benar dirasakan oleh lapisan masyarakat paling bawah?

    Di sinilah tantangan utama ekonomi syariah Indonesia mulai terlihat. Meski tumbuh secara statistik, ia belum sepenuhnya hidup secara sosial. Masih banyak masyarakat yang tidak merasakan manfaat langsung dari sistem ini.

    Dominasi Perbankan dan Ketimpangan Ekosistem

    Tidak dapat dipungkiri bahwa literasi dan inklusi ekonomi syariah di Indonesia hingga saat ini masih sangat ditopang oleh perbankan syariah. Bank menjadi wajah utama ekonomi syariah, baik dalam narasi kebijakan, edukasi publik, maupun promosi industri. Sayangnya, dominasi ini membuat sektor lain—seperti zakat, filantropi, BMT, dan wakaf produktif—cenderung tertinggal dan hanya menjadi pelengkap formal.

    Padahal, jika ditinjau dari maqashid syariah, justru sektor distribusi dan pemberdayaan sosial inilah yang menjadi ruh utama ekonomi syariah. Ketika ekosistem dibangun secara timpang—berat di sektor keuangan formal dan lemah di sektor sosial—wajar jika inklusi berjalan lambat dan kepercayaan publik tidak tumbuh secara optimal.

    Zakat: Potensi Besar, Realisasi Minim

    Potensi zakat di Indonesia sangat besar. Namun realitasnya, tingkat kepatuhan zakat, terutama zakat mal, masih rendah. Masalah ini sering direduksi sebagai lemahnya kesadaran beragama. Padahal, persoalannya jauh lebih kompleks.

    Banyak pelaku usaha enggan menunaikan zakat bukan karena tidak takut pada agama, melainkan karena zakat masih dipersepsikan sebagai pengurang profit. Insentif fiskal berupa pengurangan pajak atas zakat yang telah dibayarkan dinilai belum cukup menarik dan belum mampu mengubah cara pandang dunia usaha. Zakat belum diposisikan sebagai instrumen ekonomi produktif yang mampu memberikan efek berganda bagi kesejahteraan umat.

    Akibatnya, zakat masih berhenti sebagai kewajiban individual, bukan kekuatan ekonomi kolektif.

    Absen di Level Akar Rumput

    Masalah lain yang tidak kalah serius adalah minimnya kehadiran ekonomi syariah di tingkat RT dan RW. Di level ini, praktik ekonomi masyarakat masih bertumpu pada logika bertahan hidup dan keuntungan pribadi. Hal ini bukan kesalahan masyarakat, melainkan kegagalan sistem ekonomi syariah dalam menghadirkan alternatif yang nyata, mudah, dan adil.

    Zakat fitrah umumnya hanya dipahami sebagai ritual tahunan, sementara zakat mal bahkan tidak diketahui saluran dan mekanismenya. Banyak masyarakat kecil yang sebenarnya telah memenuhi syarat zakat, tetapi tidak tahu ke mana harus menunaikannya secara tepat dan amanah.

    Ketika sistem tidak hadir di ruang hidup masyarakat, wajar jika ekonomi syariah terasa jauh, elitis, dan formalistik.

    Antara Politik, Agama, dan Keadilan Ekonomi

    Diskursus ekonomi syariah di Indonesia juga tidak bisa dilepaskan dari dinamika politik. Ketakutan terhadap isu agamisasi sering membuat negara bersikap sangat hati-hati. Berbagai simbol agama boleh hadir, tetapi penguatan institusi ekonomi umat kerap dipandang sensitif.

    Akibatnya, ekonomi syariah sering terjebak menjadi proyek simbolik: aman secara politik, tetapi lemah secara struktural. Padahal, ekonomi syariah tidak seharusnya dibaca sebagai alat identitas, tetapi sebagai instrumen keadilan sosial.

    Jalan Tengah: Angka dan Rasa Harus Sejalan

    Ekonomi syariah Indonesia tidak bisa memilih antara pendekatan dari bawah ke atas atau dari atas ke bawah. Keduanya saling terkait. Peningkatan literasi dan inklusi tetap penting untuk memperkuat legitimasi sistem, tetapi fokus pada distribusi dan keadilan ekonomi tidak boleh ditinggalkan.

    Perbankan syariah perlu diarahkan kembali pada orientasi kemaslahatan, bukan semata profit. Pengawasan dari berbagai lini—baik ulama, akademisi, masyarakat sipil, maupun regulator—harus diperkuat agar ekonomi syariah tidak terseret sepenuhnya ke logika kapitalistik.

    Di saat yang sama, pemerintah perlu menghadirkan regulasi zakat dan pajak yang lebih efektif dan adil, sehingga zakat tidak lagi dipandang sebagai beban, tetapi sebagai bagian dari sistem pembangunan nasional.

    Penutup

    Ekonomi syariah tidak cukup dibesarkan melalui angka, laporan, dan simbol. Ia harus dibumikan melalui keadilan yang benar-benar dirasakan, terutama oleh masyarakat kecil. Jika tidak, ekonomi syariah berisiko berhenti sebagai formalitas institusional dan proyek politik identitas—jauh dari cita-cita awalnya sebagai jalan menuju kesejahteraan dan keadilan sosial.

    Share. Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
    admin_indonesiadiscover
    • Website

    Berita Terkait

    Konsumen semakin peduli lingkungan, tetapi pilihan produk berkelanjutan masih terbatas

    31 August 2026

    Investasi Asing dan Masa Depan Perumahan Indonesia

    31 August 2026

    Saksi Perjuangan Siswa SD Mencari Ilmu di Bandung Barat

    30 August 2026
    Leave A Reply Cancel Reply

    Berita Terbaru

    Sahabat Jadi Selingkuhan, Pasangan Sendiri Dikhianati!

    27 September 2026

    PSM Makassar vs Arema FC di Super League 2026/2027: Head to head, prediksi skor, daftar pemain

    16 September 2026

    6 strategi memanfaatkan waktu yang terbuang untuk meningkatkan karier menurut psikologi

    16 September 2026

    Prediksi superkomputer terkait klasemen akhir fase awal Liga Champions 2026/2027

    16 September 2026
    TAGS
    akan Ampat Berita Bisnis Budaya Bukan dalam dan dari dengan diskon DPR Dunia Ekonomi Hiburan Horoskop Indonesia ini insiden Iran Jadi Kasus kasus kriminal Kejahatan Kesehatan Kontroversi KPK Laporan Polisi media berita Olahraga Pemerintah perbintangan perusahaan Politik Politik dan Hukum politik dan pemerintahan presiden Raja Selebriti Soal Tambang TNI untuk warga yang
    © 2026 IndonesiaDiscover. Designed by Indonesiadiscover.com.

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

    Sign In or Register

    Welcome Back!

    Login to your account below.

    Lost password?