Close Menu
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Saturday, 10 October 2026
    Trending
    • Sahabat Jadi Selingkuhan, Pasangan Sendiri Dikhianati!
    • PSM Makassar vs Arema FC di Super League 2026/2027: Head to head, prediksi skor, daftar pemain
    • 6 strategi memanfaatkan waktu yang terbuang untuk meningkatkan karier menurut psikologi
    • Prediksi superkomputer terkait klasemen akhir fase awal Liga Champions 2026/2027
    • 6 alasan mengapa media sosial membuat anak-anak yang mulai remaja merasa menderita menurut psikologi
    • 5 zodiak dengan ramalan keuangan paling cerah September 2026, karier hingga relasi jadi kuncinya!
    • PSM Makassar vs Arema FC di Super League 2026/2027: Head to head, prediksi skor, daftar pemain
    • Dua tahun Prabowo: Antara negara kuat dan pemerintahan efektif
    Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok Threads RSS
    Indonesia Discover
    Login
    Indonesia Discover
    • Nasional
    • Internasional
    • Ekonomi
    • Politik
    • Hukum
    • Ragam
    • Olahraga
    • Login
    Home»Nasional»Ekonomi»Prospek Saham Energi di Tengah Penurunan Indeks Sektor
    Ekonomi

    Prospek Saham Energi di Tengah Penurunan Indeks Sektor

    admin_indonesiadiscoverBy admin_indonesiadiscover20 February 2026No Comments4 Mins Read
    Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
    Share
    Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link

    Pergerakan Indeks Sektor Energi yang Kontradiktif dengan Harga Komoditas

    Indeks sektoral saham energi di Indonesia, yaitu IDX Energy, menunjukkan pergerakan yang kontradiktif dibandingkan tren harga komoditas energi seperti minyak mentah dan batubara. Meskipun harga komoditas energi sedang dalam tren positif sejak awal tahun, indeks ini justru mengalami koreksi signifikan.

    Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), IDX Energy telah terkoreksi sebesar 5,62% year to date (ytd) atau sejak awal tahun ke level 4.202,944 hingga Jumat (13/2/2026). Sementara itu, harga minyak mentah dunia jenis West Texas Intermediate (WTI) naik 10,19% ytd ke level US$ 63,41 per barel pada Selasa (17/2/2026) pukul 17.05 WIB. Pada saat yang sama, harga minyak mentah Brent tumbuh 11,88% ytd ke level US$ 68,20 per barel. Harga batubara juga menguat 8,14% ytd ke level US$ 116,25 per ton hingga Senin (16/2/2026).

    Namun, harga gas alam dunia masih dalam tren negatif lantaran terkoreksi 15,86% ytd ke level US$ 3,1103 per MMBTU hingga Selasa (17/2/2026) sore. Hal ini menunjukkan bahwa tidak semua komoditas energi mengalami peningkatan yang sama.

    Faktor Penyebab Koreksi Indeks Sektor Energi

    Menurut Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta, salah satu penyebab koreksi indeks kumpulan saham energi adalah isu rencana pemangkasan target produksi batubara nasional pada 2026. Isu ini menimbulkan sentimen negatif jangka pendek bagi emiten di sektor tersebut, khususnya bagi yang terancam mengalami pemotongan kuota produksi dalam jumlah besar.

    Sampai saat ini, para pelaku pasar masih menanti keputusan akhir dari Kementerian ESDM terkait persetujuan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) untuk masing-masing produsen batubara pada 2026. Dalam hal ini, pemerintah dipastikan akan mengurangi produksi batubara nasional menjadi sekitar 600 juta ton pada 2026. Belum adanya keputusan final terkait produksi membuat investor cenderung wait and see.

    Dampak Terhadap Saham-Saham Sektor Energi

    Pengamat Pasar Modal sekaligus Founder Republik Investor Hendra Wardana menilai, tren koreksi harga saham-saham konglomerasi bidang energi seperti PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN), PT Petrosea Tbk (PTRO), PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), dan PT Bumi Resources Tbk (BUMI) dalam beberapa waktu terakhir berdampak signifikan terhadap IDX Energy. Hal ini disebabkan oleh bobot kapitalisasi pasarnya yang cukup besar.

    Ketika saham-saham tersebut mengalami aksi profit taking setelah reli panjang pada tahun lalu, otomatis indeks sektoral energi juga ikut tertekan meskipun harga batubara dan minyak dunia tidak terkoreksi. Di samping itu, isu pengurangan produksi batubara nasional pada 2026 menimbulkan kekhawatiran bahwa pertumbuhan volume penjualan emiten batubara akan terbatas, terutama bagi emiten yang selama ini agresif meningkatkan kemampuan produksi.

    Prospek Ke depan dan Rekomendasi Investasi

    Untuk ke depannya, prospek indeks sektor energi akan sangat ditentukan oleh stabilitas harga komoditas, kepastian regulasi produksi, dan arah kebijakan energi global maupun domestik. Sentimen campuran muncul dari komitmen Indonesia yang akan meningkatkan impor energi dari Amerika Serikat (AS) sebagai bagian dari kerja sama bilateral antar dua negara ini.

    Di satu sisi, kerja sama tersebut dapat memperkuat hubungan Indonesia-AS dan memberi kepastian pasokan energi yang berdampak positif bagi emiten migas maupun infrastruktur energi. Namun, di sisi lainnya, jika impor energi meningkat signifikan, pelaku pasar bisa menilai adanya risiko tekanan bagi produsen domestik.

    Reaksi pelaku pasar terhadap keputusan final pemangkasan produksi batubara nasional kemungkinan akan bergantung pada besaran dan distribusi kuota produksi tersebut untuk masing-masing emiten. Emiten dengan biaya produksi rendah dan cadangan komoditas besar relatif bakal tetap aman, mengingat mereka mampu menjaga margin meski volume produksi terbatas.

    Sebaliknya, emiten dengan struktur biaya tinggi berisiko mengalami penurunan profitabilitas lebih dalam ketika kebijakan pemangkasan produksi batubara dilaksanakan. Jika keputusan pemangkasan produksi sudah berlaku efektif, maka hal ini akan menjadi momen kepastian bagi pasar. Kepastian kebijakan tersebut juga menjadi waktu yang tepat bagi investor untuk memulai akumulasi kembali saham-saham sektor energi yang valuasinya masih murah.

    Menurut Hendra, indeks sektor energi kemungkinan bakal ditopang oleh saham-saham dari emiten yang punya model bisnis terintegrasi dan diversifikasi pendapatan. Ia merekomendasikan speculative buy saham CUAN dan DSSA dengan target harga masing-masing di level Rp 2.200 per saham dan Rp 100.000 per saham. Saham PTRO dan BUMI disarankan trading buy dengan target harga masing-masing di level Rp 8.000 per saham dan Rp 330 per saham.

    Share. Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
    admin_indonesiadiscover
    • Website

    Berita Terkait

    Konsumen semakin peduli lingkungan, tetapi pilihan produk berkelanjutan masih terbatas

    31 August 2026

    Investasi Asing dan Masa Depan Perumahan Indonesia

    31 August 2026

    Saksi Perjuangan Siswa SD Mencari Ilmu di Bandung Barat

    30 August 2026
    Leave A Reply Cancel Reply

    Berita Terbaru

    Sahabat Jadi Selingkuhan, Pasangan Sendiri Dikhianati!

    27 September 2026

    PSM Makassar vs Arema FC di Super League 2026/2027: Head to head, prediksi skor, daftar pemain

    16 September 2026

    6 strategi memanfaatkan waktu yang terbuang untuk meningkatkan karier menurut psikologi

    16 September 2026

    Prediksi superkomputer terkait klasemen akhir fase awal Liga Champions 2026/2027

    16 September 2026
    TAGS
    akan Ampat Berita Bisnis Budaya Bukan dalam dan dari dengan diskon DPR Dunia Ekonomi Hiburan Horoskop Indonesia ini insiden Iran Jadi Kasus kasus kriminal Kejahatan Kesehatan Kontroversi KPK Laporan Polisi media berita Olahraga Pemerintah perbintangan perusahaan Politik Politik dan Hukum politik dan pemerintahan presiden Raja Selebriti Soal Tambang TNI untuk warga yang
    © 2026 IndonesiaDiscover. Designed by Indonesiadiscover.com.

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

    Sign In or Register

    Welcome Back!

    Login to your account below.

    Lost password?