Meningkatnya Kemitraan Perbankan dan Pindar
Penyusunan white paper ini juga dilatarbelakangi oleh tren meningkatnya kemitraan antara perbankan dan pindar dalam beberapa tahun terakhir. Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan, peran bank sebagai sumber pendanaan utama bagi pindar terus meningkat secara signifikan, dari hanya Rp4,5 triliun pada 2021 menjadi Rp46,1 triliun pada 2024. Perkembangan ini mencerminkan peningkatan kepercayaan perbankan terhadap model bisnis pindar, sekaligus menegaskan urgensi kerangka kolaborasi yang lebih terstruktur, bertanggung jawab, dan berorientasi jangka panjang.
Deputi Komisioner Pengawas Lembaga Pembiayaan, Perusahaan Modal Ventura, Lembaga Keuangan Mikro, dan Lembaga Jasa Keuangan Lainnya (PMVL) OJK, Jasmi menyampaikan, OJK menyambut baik setiap inisiatif konkret untuk mewujudkan kolaborasi perbankan dan industri pindar yang memiliki potensi besar untuk dikembangkan secara inklusif dan bertanggung jawab. Dengan tetap mengedepankan penguatan tata kelola, manajemen risiko, kemanfaatan, dan perlindungan konsumen. Sinergi lintas lembaga keuangan tersebut diharapkan dapat memperluas akses alternatif pembiayaan kepada masyarakat, khususnya UMKM.
Temuan Studi White Paper

Sementara itu, CEO Mandala Consulting, Manggala Putra Santosa mengungkapkan peningkatan rasio kredit sangat menentukan tingkat pertumbuhan ekonomi suatu negara melalui penguatan konsumsi, investasi, dan produktivitas. Namun, tidak dipungkiri tantangan akses kredit di Indonesia belum bisa dilepaskan dari besarnya populasi yang belum sepenuhnya terintegrasi ke dalam sistem keuangan formal.
Data World Bank menunjukkan sekitar 48 persen penduduk dewasa Indonesia masih underbanked, sedangkan data SNLIK OJK mencatat inklusi keuangan perbankan baru mencapai sekitar 70 persen pada 2025. Artinya, masih ada sekitar 30 persen orang dewasa di Indonesia masih financially excluded. Data dari Bank Dunia (World Bank) juga menunjukkan rasio kredit terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia masih relatif rendah dan cenderung stagnan di kisaran 36,4 persen pada periode 2024–2025. Angka ini berada jauh di bawah rata-rata negara berpendapatan menengah atas di kawasan yang mencapai 74,46 persen, maupun negara berpendapatan menengah bawah di 62,72 persen.
Menurut Manggala, kesenjangan ini antara lain dipengaruhi oleh ketatnya persyaratan kredit formal, serta masih luasnya segmen masyarakat produktif yang belum terlayani oleh lembaga keuangan konvensional. Sejalan dengan hasil temuan terkait keterbatasan akses masyarakat terhadap produk keuangan formal di tengah penetrasi internet Indonesia yang telah mencapai 75 persen, hasil studi White Paper mengungkap mulai adanya pergeseran pertumbuhan kanal pembiayaan.
Meski perbankan masih menjadi penyedia kredit utama dengan nilai pinjaman yang besar, tetapi pindar menjadi kanal yang tumbuh paling cepat, dengan pertumbuhan tahunan sekitar 34 persen pada periode 2019-2024. Hal ini lantaran pindar menawarkan dua nilai tambah utama, yaitu membuka akses ke segmen yang selama ini belum tergarap optimal dan mendorong inovasi melalui underwriting digital, pemanfaatan data alternatif untuk credit scoring, serta proses yang lebih agile.
Faktor Keberhasilan Kolaborasi Perbankan dan P2P Lending

Dari sisi industri, Kepala Departemen P2P Lending AFTECH sekaligus Direktur Utama Easycash, Nucky Poedjiardjo mengatakan, percepatan peran pindar dalam ekosistem pembiayaan perlu diimbangi dengan kesiapan tata kelola dan kepatuhan yang sejalan dengan standar perbankan. Dalam konteks ini, kesiapan platform pindar untuk beradaptasi dengan standar tersebut menjadi faktor utama agar kolaborasi bank–pindar berhasil dan dapat berkontribusi positif terhadap perluasan akses pendanaan yang berkelanjutan.
Kami percaya platform pindar yang kredibel sudah memiliki kesiapan untuk mengimbangi standar perbankan. Sebenarnya saat ini sudah banyak contoh platform pindar dengan tata kelola yang baik dan dapat menjadi acuan bagi industri. Temuan riset AFTECH bersama Mandala Consulting juga menunjukkan, beberapa bank internasional di Indonesia aktif bekerja sama dengan pindar. Artinya, pindar di Indonesia sudah memiliki tata kelola dan kapabilitas yang dipercaya oleh perbankan, bahkan di level internasional.
Nucky meyakini, nilai dari kemitraan bank dan pindar sangat besar dan dampaknya secara signifikan positif bagi masyarakat, terutama karena model ini berpotensi menutup kesenjangan akses kredit yang dapat menjadi motor pertumbuhan ekonomi. Sebagai contoh dampak positif dari penyaluran kredit yang lebih luas berdasarkan riset IMF adalah penyaluran kredit baik multiguna maupun produktif dapat mendorong produktivitas, memperkuat konsumsi, dan memberi dorongan nyata bagi pertumbuhan ekonomi.
Tentunya, kolaborasi bank dan pindar tidak akan menyelesaikan seluruh persoalan kredit. Namun, hal ini membuka ruang pembiayaan baru yang selama ini belum tergarap. Pindar dapat berperan sebagai sandbox bagi peminjam yang baik, dan menjadi ruang awal membangun rekam jejak kredit sebelum masuk ke sistem perbankan. Jika tata kelolanya terus diperkuat, sinergi ini dapat menjadi salah satu batu loncatan penting menuju inklusi keuangan yang lebih merata dan ekonomi yang lebih tangguh.



