Close Menu
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Facebook X (Twitter) Instagram
Rabu, 18 Februari 2026
Trending
  • Huawei Mate X7 hadir di Indonesia, siap saingi pasar smartphone lipat yang berkembang
  • AFTECH rilis white paper kolaborasi Bank-Pindar tingkatkan akses kredit
  • Pria Mantan Penitip Anak di Inggris Dipenjara 18 Tahun atas Kasus Pelecehan Siswa
  • Kemenlu Pastikan TNI ke Gaza Bukan Untuk Perang dan Lucuti Senjata Hamas
  • Hasil Lengkap Piala FA – Arsenal Dekati Quadruple, Tunggu Pertandingan Besar Babak Kelima
  • KM Dorolonda Perluas Rute, Jadwal Kapal Pelni Hingga 11 Maret Tuju Serui, Ternate, Bitung, Pantoloan
  • Bacaan Injil Katolik 16 Februari 2026 dan Renungan Harian
  • Di Manakah Tempat Berpuasa Terpanjang Sepanjang Ramadan 2026?
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok Threads RSS
Indonesia Discover
Login
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Indonesia Discover
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
  • Olahraga
  • Login
Home»Nasional»Ekonomi»OpenAI Laporkan Pencurian Riset AI oleh DeepSeek ke Kongres AS
Ekonomi

OpenAI Laporkan Pencurian Riset AI oleh DeepSeek ke Kongres AS

admin_indonesiadiscoverBy admin_indonesiadiscover18 Februari 2026Tidak ada komentar4 Mins Read
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
Share
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link

OpenAI Mengingatkan Kongres AS tentang Ancaman dari DeepSeek

OpenAI secara resmi memberikan peringatan kepada Kongres Amerika Serikat (AS) terkait tindakan agresif yang dilakukan oleh perusahaan rintisan kecerdasan buatan asal Tiongkok, DeepSeek. Perusahaan berbasis di Hangzhou ini dituduh mencoba meniru model-model AI terkini milik perusahaan teknologi AS.

Laporan yang dirilis mengungkap bahwa DeepSeek secara sistematis menargetkan infrastruktur intelektual milik OpenAI dan laboratorium lainnya di AS, dengan tujuan untuk mengekstrak kemampuan tingkat tinggi melalui metode teknis yang sangat terorganisasi. Memo yang dikirimkan kepada Komite Terpilih DPR AS untuk Kompetisi Strategis antara AS dan Partai Komunis China menjelaskan pergeseran ancaman teknologi.

OpenAI menyatakan bahwa ancaman terhadap kedaulatan digital AS mulai bergeser dari sekadar persaingan pasar menjadi isu keamanan nasional. Hal ini menunjukkan bahwa persaingan dalam bidang kecerdasan buatan tidak lagi hanya masalah bisnis, tetapi juga menyentuh stabilitas keamanan negara.

1. OpenAI Menyoroti Teknik Distilasi DeepSeek sebagai Upaya Menumpang Gratis

Laporan terbaru OpenAI menyoroti penggunaan teknik distilasi oleh DeepSeek sebagai metode utama untuk meniru kecerdasan buatan AS. Dalam proses ini, model AI yang lebih kecil dilatih menggunakan jawaban dari model besar yang sudah mapan, sehingga menyalin logika dan kemampuan penalarannya.

OpenAI menegaskan bahwa proses ini merupakan upaya berkelanjutan untuk menumpang gratis pada kapabilitas yang dikembangkan oleh OpenAI dan laboratorium garis depan AS lainnya, demi mempercepat pengembangan chatbot seri R1. Pendekatan ini memungkinkan DeepSeek mentransfer pengetahuan dari model perintis seperti GPT-4o ke dalam sistem mereka sendiri dengan biaya yang jauh lebih efisien.

Namun, OpenAI menjelaskan bahwa praktik ini memungkinkan model-model asal Tiongkok untuk melakukan pemangkasan prosedur dalam hal keamanan dan pengembangan yang bertanggung jawab. Hal ini terjadi karena DeepSeek dianggap hanya fokus pada hasil akhir tanpa melewati proses penyaringan keamanan yang ketat selama tahap pelatihan awal, sehingga menimbulkan risiko etika yang serius dalam industri teknologi.

Sam Altman, pimpinan OpenAI, memberikan penilaian tajam mengenai situasi ini dalam memo yang dikirimkan kepada Kongres. “Kami memberikan penilaian terbaru kepada Komite mengenai taktik distilasi DeepSeek yang terus berkembang sebelum rencana peluncuran model baru mereka menjelang Tahun Baru Imlek,” kata Altman.

Fenomena ini dianggap sebagai ancaman nyata bagi model bisnis perusahaan AS seperti OpenAI dan Anthropic yang harus mengenakan biaya berlangganan tinggi untuk menutupi biaya infrastruktur raksasa. Sebaliknya, DeepSeek dapat menawarkan layanannya secara gratis karena biaya pengembangannya telah dipangkas secara signifikan melalui ekstraksi pengetahuan yang dianggap ilegal.

2. OpenAI Ungkap Bukti Karyawan DeepSeek Mengakses Ilegal Sistem Keamanan AS

Laporan internal OpenAI mengungkapkan bukti konkret mengenai aktivitas sejumlah akun yang terhubung langsung dengan karyawan DeepSeek untuk menembus sistem pertahanan keamanan mereka. Para teknisi tersebut dilaporkan menggunakan alat perutean canggih milik pihak ketiga yang telah dikaburkan untuk menyembunyikan identitas serta lokasi asal permintaan mereka.

Strategi ini dilakukan guna menghindari deteksi otomatis yang dirancang untuk mencegah pengambilan data massal demi kepentingan pelatihan model pesaing. Selain penyamaran identitas, tim peneliti juga menemukan bahwa pengembang DeepSeek telah menyusun kode program khusus. Kode ini memungkinkan mereka memanggil model-model Amerika secara otomatis dan terprogram untuk mengumpulkan data dalam skala industri.

Praktik ini ternyata didukung oleh ekosistem matang yang melibatkan jaringan penjual layanan tidak sah di Tiongkok. Keberadaan jaringan tersebut memungkinkan aktor-aktor di negara itu tetap mengakses teknologi terbaru meskipun terdapat berbagai pembatasan ekspor dan kontrol akses yang sangat ketat dari pihak AS.

3. OpenAI Dorong Investasi Infrastruktur AS untuk Bendung Dominasi AI China

OpenAI menyatakan bahwa kekhawatiran mereka terhadap DeepSeek melampaui isu kerugian komersial semata. Replikasi model melalui teknik distilasi dikhawatirkan dapat menghilangkan fitur keselamatan bawaan, sehingga berpotensi memfasilitasi penyalahgunaan teknologi di bidang biologis dan kimia oleh pihak yang tidak bertanggung jawab. Selain itu, OpenAI menyoroti kepatuhan sistem AI DeepSeek terhadap kontrol informasi Partai Komunis Tiongkok, termasuk penyensoran isu politik sensitif seperti masalah Taiwan dan insiden Tiananmen yang dianggap mengancam nilai-nilai demokrasi global.

Terkait persaingan global ini, OpenAI menekankan pentingnya penguasaan infrastruktur fisik sebagai kunci kemenangan. Sebagai langkah nyata untuk menyerang balik dominasi teknologi Tiongkok, OpenAI mendorong pemerintah AS meningkatkan investasi pada infrastruktur domestik melalui Proyek Stargate yang menargetkan kapasitas daya sebesar 10 GW pada tahun 2029.

Dukungan politik terhadap temuan OpenAI ini datang dari Ketua Komite China di DPR AS, John Moolenaar. Ia menegaskan bahwa taktik DeepSeek merupakan bagian dari strategi jangka panjang Tiongkok untuk mencuri, menyalin, dan kemudian mendominasi industri teknologi dunia.


Share. Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
admin_indonesiadiscover
  • Website

Berita Terkait

AFTECH rilis white paper kolaborasi Bank-Pindar tingkatkan akses kredit

18 Februari 2026

Waktunya bangkit ekonomi! 4 zodiak ini siap terima rezeki besar mulai 15 Februari 2026

18 Februari 2026

Mengapa Pelanggan Lebih Suka Checkout Pukul 00.00? Ini Jawabannya

17 Februari 2026
Leave A Reply Cancel Reply

Berita Terbaru

Huawei Mate X7 hadir di Indonesia, siap saingi pasar smartphone lipat yang berkembang

18 Februari 2026

AFTECH rilis white paper kolaborasi Bank-Pindar tingkatkan akses kredit

18 Februari 2026

Pria Mantan Penitip Anak di Inggris Dipenjara 18 Tahun atas Kasus Pelecehan Siswa

18 Februari 2026

Kemenlu Pastikan TNI ke Gaza Bukan Untuk Perang dan Lucuti Senjata Hamas

18 Februari 2026
© 2026 IndonesiaDiscover. Designed by Indonesiadiscover.com.
  • Home
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • PT. Indonesia Discover Multimedia
  • Indeks Berita

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

Sign In or Register

Welcome Back!

Login to your account below.

Lost password?