Indonesia terus memperkuat posisinya sebagai pengimpor nikel terbesar di dunia, dengan proyeksi peningkatan ekspor bijih nikel dari Filipina yang diprediksi meningkat dua kali lipat menjadi 30 juta ton pada tahun ini. Langkah pemerintah Indonesia dalam membatasi produksi besar-besaran telah mendorong perusahaan-perusahaan nikel mencari pasokan alternatif dari negara-negara lain.
Dante Bravo, Presiden Global Ferronickel Holdings Inc., produsen nikel terbesar kedua di Filipina, menyatakan bahwa jika Indonesia memangkas pasokan domestik, mereka akan terpaksa mencari sumber lain. Ia menjelaskan bahwa kekurangan pasokan tersebut akan dipenuhi dari berbagai wilayah seperti Filipina, New Caledonia, dan daerah lainnya. Menurutnya, ekspor nikel Filipina ke Indonesia tahun ini bisa meningkat dua kali lipat dibandingkan tahun 2025 yang mencapai sekitar 15 juta ton.
Filipina memproduksi sekitar 65 juta ton bijih nikel setiap tahun, dengan sebagian besar dikirim ke China. Namun, sejak 2024, penjualan ke Indonesia mengalami lonjakan karena pembatasan produksi yang diberlakukan oleh pemerintah Indonesia. Saat ini, pembatasan produksi nikel masih berlanjut, termasuk permintaan kepada PT Weda Bay Nickel untuk mengurangi produksi secara signifikan. Perusahaan patungan antara Eramet (Prancis), Tsingshan Holding Group Co (China), dan PT Aneka Tambang Tbk (Antam) hanya mendapat kuota produksi dan penjualan sebesar 12 juta wet metric ton (wmt) tahun ini.
Kementerian ESDM Indonesia juga mengumumkan pemangkasan produksi nikel pada kisaran 260 juta hingga 270 juta ton pada tahun ini, yang lebih rendah dibandingkan kuota produksi yang disetujui dalam RKAB 2025 sebesar 379 juta ton. Langkah ini dilakukan untuk meningkatkan harga nikel di pasar global yang sempat stagnan di level US$14.000-US$15.000 per ton pada 2025.
Produksi nikel Filipina diperkirakan akan untung dari curah hujan yang tidak terlalu tinggi tahun ini. Namun, jika produksi tetap stagnan, pengiriman ke China mungkin sedikit menurun dan dialihkan ke Indonesia. Dante Bravo, yang juga menjabat sebagai Ketua Asosiasi Industri Nikel Filipina, menyatakan bahwa akan terjadi persaingan antara pasar Indonesia dan China.
Tulsi Das Reyes, Presiden Unit Pertambangan DMCI Holdings Inc., memprediksi peningkatan pengiriman nikel Filipina ke Indonesia sebesar 20% pada tahun ini. Ia menilai bahwa penurunan produksi Indonesia akan menciptakan peluang bagi produsen bijih Filipina, terutama jika permintaan global tetap kuat.
Nickel Asia Corp., produsen nikel terbesar di Filipina, dapat memasok lebih banyak bijih dari tambang Manicani di Filipina bagian tengah untuk musim penambangan mendatang. Wakil Direktur Keuangan Nickel Asia Corp, Andre Mikael Dy, menyatakan bahwa perusahaan siap meningkatkan produksi sesuai kebutuhan situasi.
Namun, Dante Bravo mengatakan bahwa produksi Filipina mungkin tidak akan meningkat dengan cepat karena lebih dari separuh dari 37 tambang nikel yang beroperasi di negara itu sudah berusia tua dan proses ekspansi berjalan lambat. Ia menyarankan agar pemerintah mempercepat proses perizinan untuk memanfaatkan peluang ini.
Ekspansi pesat industri nikel Indonesia dalam beberapa tahun terakhir telah membuat negara ini menjadi dominan di pasar global. Namun, hal ini juga menekan harga dan menyulitkan produsen pesaing di Australia dan New Caledonia. Meskipun Filipina merupakan produsen bijih nikel terbesar setelah Indonesia, pengembangan industri hilirnya belum sebanding dengan Indonesia.
Meski sempat mewacanakan pelarangan ekspor bijih nikel, kebijakan tersebut akhirnya dibatalkan. Hingga kini, Filipina masih mengekspor sebagian besar nikelnya dalam bentuk mentah.


