Kasus Narkoba yang Menyeret Kapolres Bima Kota
Kasus narkoba yang melibatkan seorang perwira menengah di jajaran Kepolisian Republik Indonesia (Polri) kembali menjadi sorotan. Terbaru, Kapolres Bima Kota, AKBP Didik Putra Kuncoro dinonaktifkan dari jabatannya setelah diduga terlibat dalam kasus peredaran narkoba. Hal ini merupakan pengembangan dari kasus sebelumnya yang menjerat AKP Malaungi, mantan Kasat Narkoba Polres Bima Kota.
AKP Malaungi, yang telah dipecat dan menjadi tersangka dalam kasus sabu, mengaku menjalankan perintah atasannya, yaitu AKBP Didik. Ia menyebut bahwa AKBP Didik menerima uang senilai Rp1 miliar dari bandar narkoba bernama Koko Erwin terkait peredaran sabu. Informasi ini memicu pemeriksaan lebih lanjut oleh Mabes Polri terhadap AKBP Didik.
Penghargaan yang Mengundang Kontroversi
Sebelum kasus ini terungkap, AKBP Didik sempat meraih penghargaan Best Inspiring and Visionary Leader 2025. Penghargaan tersebut diberikan dalam ajang Indonesia Award Magazine Inspiring Professional and Leadership Award 2025. Dalam penjelasannya, AKBP Didik menyampaikan bahwa penghargaan ini bukan akhir dari perjalanan, melainkan motivasi untuk terus meningkatkan pelayanan kepada masyarakat.
Namun, penghargaan ini kini menjadi bahan kontroversi karena bersamaan dengan dugaan keterlibatan dalam kasus narkoba. Pernyataan AKBP Didik yang dikutip dari akun Instagram pribadinya juga menunjukkan komitmen untuk membangun kepemimpinan yang inspiratif dan visioner. Namun, kini semua itu berada di bawah sorotan.
Penjelasan dari Polda NTB
Kabid Humas Polda NTB, Kombes Mohammad Kholid, membenarkan bahwa AKBP Didik sedang diperiksa di Mabes Polri. Ia mengatakan bahwa Kapolres Bima Kota sudah dinonaktifkan sementara waktu. “Saat ini sedang dilakukan pemeriksaan di Mabes,” katanya.
Dari hasil pemeriksaan awal, disebutkan bahwa AKBP Didik diduga menerima uang sebesar Rp1 miliar dari bisnis narkoba. Kuasa hukum AKP Malaungi, Asmuni, menyebut bahwa kliennya mengaku menjalankan perintah pimpinan. Ia mengatakan bahwa klien kami melakukan tindak pidana tersebut atas perintah AKBP Didik.
Peran AKP Malaungi dalam Kasus Ini
Menurut Asmuni, AKP Malaungi bertugas menyimpan barang bukti sabu milik Koko Erwin. Sebagai imbalan, Koko Erwin memberikan uang Rp1 miliar kepada AKBP Didik. Uang tersebut ditransfer secara bertahap ke rekening milik seorang wanita. Setelah menerima uang, Malaungi diperintahkan untuk mengambil narkoba di sebuah hotel tempat menginap sang bandar.
Asmuni juga menyebut bahwa kliennya memiliki sejumlah bukti yang telah disampaikan ke penyidik. Semua bukti perintahnya ada di dalam chat yang sudah masuk dalam berita acara pemeriksaan.
Barang Bukti Sabu di Rumah Dinas
Selain itu, temuan barang bukti sabu seberat 488 gram di rumah dinas AKP Malaungi juga menjadi perhatian. Asmuni menyebut bahwa barang haram tersebut milik Koko Erwin, yang tidak diketahui rimbanya. Ia menyatakan bahwa barang tersebut tidak diketahui asalnya.
Profil AKBP Didik Putra Kuncoro
AKBP Didik Putra Kuncoro adalah Kepala Polres Bima Kota. Pangkat AKBP setara dengan Letnan Kolonel di TNI, dan biasanya menjabat sebagai Kapolres, Wakapolres, atau jabatan setingkat di bawah Kombes Pol. AKBP Didik adalah alumni Akademi Kepolisian (Akpol) tahun 2004. Ia lahir pada 30 Maret 1979 dan berasal dari Kediri, Jawa Timur.
Karier AKBP Didik dimulai saat dirinya bertugas di Polda Gorontalo selama dua tahun. Ia lalu pindah ke Polda Metro Jaya dengan menjabat sebagai Kaurbinopsnal Sat Reskrim Polres Metro Jakarta Selatan. Kemudian ia juga pernah menjabat sebagai Wakapolres Tangerang Selatan.
AKBP Didik mulai bertugas di NTB tahun 2020 dengan jabatan strategis seperti Kasubdit I Ditreskrimum, Kasubdit IV Ditreskrimsus, dan Kasubdit III Ditresnarkoba Polda NTB. Ia kemudian ditunjuk sebagai Kapolres Bima Kota menggantikan AKBP Yudha Pranata pada 14 Januari 2025.



