Konflik Suara Drum yang Berujung Pengeroyokan di Jakarta Barat
Pada hari Sabtu (7/2/2026), seorang warga bernama Darwin (32 tahun) menjadi korban penganiayaan oleh tetangganya sendiri di Jalan Dahlia III, Kapuk, Cengkareng, Jakarta Barat. Peristiwa ini terjadi setelah Darwin menegur tetangganya karena suara drum yang dinilai terlalu keras dan mengganggu lingkungan sekitar.
Bermula dari Teguran Suara Drum
Konflik ini bermula dari gangguan suara drum yang telah berlangsung sejak Agustus 2025 silam. Menurut Darwin, ia sudah beberapa kali menegur secara baik-baik, bahkan melibatkan RT hingga Satpol PP. Namun, suara bising tersebut tetap berlanjut. Istri Darwin yang sedang menjalani program hamil merasa stres karena tidak bisa istirahat.
“Kami sudah sampai emosi. Masalahnya, istri saya kan lagi program hamil, dia stres berat. Dia (istri) jadi langsung lempar-lempar barang, sudah sampai pukul pintu sampai berdarah,” ujar Darwin.
Janji Pasang Peredam
Setelah ditegur beberapa kali, pelaku sempat berjanji untuk memasang peredam suara. Namun, janji tersebut tak kunjung dipenuhi. Akhirnya pada tahun lalu, pelaku memasang peredam suara, namun tidak ada perbaikan signifikan.
“Pas saya dorong, bapaknya datang dari samping, istri saya di belakang saya, dari samping pakai mobil bapaknya tabrak istri saya sampai jatuh,” ungkap Darwin.
Puncak Keributan
Puncak kejadian terjadi ketika anak pelaku kembali bermain drum siang hari sekitar pukul 14.00 WIB. Istri Darwin mendatangi rumah berplang kantor hukum tersebut untuk menegur, namun berujung cekcok. Di tengah ketegangan itu, ayah pelaku tiba menggunakan mobil dan menyerempet istri Darwin hingga tersungkur.
Melihat Darwin lengah karena istrinya terjatuh, anak pelaku langsung menyerang dari belakang dengan memiting leher. Saat dalam posisi terkunci di aspal, sang ayah pelaku turun dari mobil dan ikut melakukan penganiayaan.
“Sudah gitu ditambah si ayah pelaku itu langsung giniin (tekan) muka saya sampai mulut saya, sampai saya mau blackout,” tambahnya.
Ancaman Pembunuhan
Di tengah penganiayaan, Darwin juga menerima ancaman pembunuhan dari anak pelaku yang terus mencekiknya. “Anaknya sambil miting sambil ngomong ‘Gue bunuh lu, minta maaf enggak lu, gue bunuh lu, ampun enggak lu’. Saya sudah tap, saya sudah bilang ‘Ampun, ampun’ gitu kan, tapi dia masih tambah kencang,” ucapnya.
Keributan itu pun akhirnya dilerai oleh karyawan yang berada di dalam kantor pengacara tersebut. Namun, saat istri Darwin membopong suaminya yang sudah dalam kondisi lemas, anak pelaku merekam video sambil melontarkan kata-kata kasar dan merendahkan.
Luka di Sekujur Tubuh
Akibat penganiayaan ini, Darwin menderita luka di berbagai titik pada bagian kepala, wajah, siku, hingga kaki. “Luka-lukanya dari atas mungkin kepala karena ditendang, terus pipi baru kerasa mungkin karena habis ditonjok, mata juga ada bekas. Terus di bagian siku dan lutut kanan dan kiri karena kena aspal, terseret,” rincinya.
Atas kejadian ini, Darwin telah melakukan visum dan melaporkan penganiayaan tersebut ke Polres Metro Jakarta Barat.
Polisi Selidiki
Kasi Humas Polres Metro Jakarta Barat, AKP Wisnu Wirawan mengonfirmasi bahwa pihaknya telah menerima laporan dari korban. “Polres Metro Jakarta Barat telah menerima laporan dari salah seorang warga yang tinggal di daerah Cengkareng, Jakarta Barat. Dalam laporan, korban mengaku telah dianiaya oleh kedua orang di daerah yang mengakibatkan luka memar di badan,” kata Wisnu.
Namun, saat ditanyai mengenai identitas pelaku yang diduga sebagai seorang pengacara, polisi masih belum bisa mengonfirmasi secara pasti.
Lapor Balik
Polisi mengungkap bahwa tetangga yang menganiaya Darwin juga melaporkan korban. Korban dilaporkan terkait dugaan pengancaman kekerasan. “Begitu juga si terlapor, pelaku yang melakukan penganiayaan juga membuat laporan polisi terkait tentang adanya ancaman ataupun ancaman perusakan apabila tidak berhenti bermain drum yang mengganggu ketertiban umum,” kata Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Budi Hermanto.



