Teknologi IoT untuk Keamanan dan Keselamatan Penumpang
TRAVL, unit bisnis travel milik PT Maya Gapura Intan (MGI), menghadirkan inovasi dalam industri transportasi dengan menerapkan perangkat yang terhubung dengan internet atau Internet of Things (IoT) untuk menjaga keamanan dan keselamatan para penumpang. Perangkat ini mampu memantau posisi dan kecepatan kendaraan secara real time. Rencananya, perangkat tersebut akan terpasang di 100 armada TRAVL.
Business Development Manager TRAVL, Fillipus Christian menjelaskan bahwa perangkat bekerja untuk mengukur laju kendaraan. Jika pengemudi melampaui batas kecepatan, yakni 100 km/jam di jalan tol dan 90 km/jam di jalan layang, sistem akan memberikan peringatan otomatis. GPS juga mendeteksi pelanggaran seperti penggunaan bahu jalan, sementara seluruh sistem penjadwalan telah terintegrasi secara digital.
“Kalau misalkan selama 25 detik driver nya masih dalam kecepatan tinggi nanti akan ada bunyi,” ucap Fillip dalam acara TRAVL Journalist Ride, Senin (9/2/2026).
Target Pengoperasian 100 Unit Shuttle
Pada 2026, TRAVL menargetkan pengoperasian 100 unit shuttle dengan jumlah penumpang mencapai 60.000 orang. Fillip mengatakan pandemi Covid-19 mengubah preferensi masyarakat dalam memilih moda transportasi. Layanan bus antarkota perlahan kehilangan peminat, sementara shuttle justru semakin diminati karena dinilai lebih nyaman, praktis, dan fleksibel.
“Saingan nya di shuttle jadi harus lawan shuttle lagi,” ujar Fillip. Menurutnya, membangun bisnis shuttle di Bandung bukan perkara mudah. Berdasarkan data Dinas Perhubungan Kota Bandung, terdapat sekitar 23 perusahaan shuttle yang telah beroperasi, sehingga persaingan menjadi sangat ketat. Meski demikian potensi pasar di Jawa Barat khususnya Bandung, masih sangat besar mengingat tingginya mobilitas masyarakat untuk bekerja, kuliah, berwisata, dan berbagai keperluan antarkota lainnya.
Strategi Berbasis Riset
Untuk mencapai target 100 unit armada dan 60.000 penumpang pada 2026, TRAVL menerapkan strategi berbasis riset. Salah satunya melalui focus group discussion (FGD) terhadap pengguna rute Jakarta–Bandung dalam tiga bulan terakhir. Hasil riset menunjukkan kelompok usia 20–30 tahun, yang didominasi mahasiswa dan pekerja baru, sangat sensitif terhadap harga, dengan kisaran ideal Rp100.000–Rp125.000.
Sementara kelompok usia 31–40 tahun juga sensitif terhadap harga, namun dengan alasan berbeda, yakni karena intensitas perjalanan yang tinggi (heavy user) dengan frekuensi bolak-balik Bandung–Jakarta 2 hingga 4 kali per bulan, sehingga harga ideal berada di kisaran Rp170.000–Rp190.000. Kelompok usia 31–40 tahun ini menjadi pasar utama TRAVL.
Selain harga, TRAVL juga menekankan kemudahan akses, kenyamanan, dan keamanan sebagai faktor utama layanan. “Kalau di shuttle akses jadi nomor satu,” kata Fillip. Selain itu pelayanan kepada penumpang juga hal yang sangat penting. TRAVL juga memerhatikan kenyamanan mulai dari desain kursi yang luas di dalam shuttle, ruang tunggu yang nyaman, dan toilet bersih di setiap pick up point.
Pemasaran dan Digitalisasi
Dari sisi pemasaran, TRAVL memanfaatkan riset terhadap 200 responden yang menunjukkan bahwa pemesanan tiket masih didominasi oleh online travel agent (OTA), agen perjalanan, dan walk-in. Penggunaan aplikasi mandiri masih relatif kecil, yakni sekitar 13 responden. Untuk meningkatkan brand awareness, TRAVL aktif memanfaatkan media sosial, termasuk bekerja sama dengan influencer TikTok dan key opinion leader (KOL).
“Sekarang orang mencari referensi lewat TikTok dan media sosial, jadi kita memanfaatkan KOL yang dekat sama pengikutnya untuk menjangkau pasar,” ujarnya.
Perkembangan dan Rencana Masa Depan
TRAVL mulai melayani rute Jakarta–Bandung dan sebaliknya sejak 20 Desember 2025. Saat ini, perusahaan memiliki 33 unit shuttle premium, dengan 24 unit di antaranya aktif beroperasi. Hingga saat ini, TRAVL telah melayani sekitar 3.900 penumpang.
Ke depan, TRAVL berencana menambah layanan pengiriman barang, paket perjalanan, serta memperluas rute di wilayah Jawa Barat. Dalam tiga hingga empat tahun mendatang, perusahaan juga menargetkan pembukaan rute menuju Jawa Tengah. Bandung dipilih sebagai rute utama karena memiliki mobilitas tinggi dan potensi pasar besar. Rencana pembangunan tol baru juga membuka peluang pertumbuhan bisnis shuttle.
Berdasarkan riset internal, shuttle dinilai lebih diminati dibandingkan Kereta Cepat Whoosh, karena faktor harga, kenyamanan, serta kemudahan akses, mengingat tidak semua wilayah mudah menjangkau stasiun keberangkatan. Waktu tempuh perjalanan Jakarta–Bandung diperkirakan sekitar tiga jam. Waktu operasional shuttle dimulai dari pukul 04.00 WIB sampai 21.00 WIB, dengan waktu keberangkatan setiap satu jam sekali. Penumpang juga mendapatkan fasilitas makanan selama perjalanan. Saat ini, rata-rata setiap unit shuttle TRAVL melayani dua hingga tiga penumpang di setiap perjalanannya.



