Apa Itu Prolonged Grief Disorder?
Prolonged grief disorder (PGD), atau dikenal juga sebagai duka yang berkepanjangan, telah diakui dalam buku manual diagnosa gangguan mental terkemuka yaitu Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders, 5th edition (DSM-5). Dengan pengakuan ini, penderita PGD dapat memperoleh bantuan yang tepat dan layak. Seseorang dikatakan mengalami kondisi ini jika kesedihan yang dialaminya sudah mulai mengganggu kehidupan sehari-harinya.
Untuk mengetahui lebih lanjut tentang PGD, termasuk gejalanya, penyebabnya, cara diagnosis, dan penanganannya, silakan simak artikel ini hingga akhir.
Penyebab dan Gejala
Penyebab dari PGD masih belum sepenuhnya diketahui. Seperti gangguan kesehatan mental lainnya, PGD mungkin disebabkan oleh kombinasi faktor lingkungan, kepribadian, sifat bawaan, serta keseimbangan kimia tubuh. PGD lebih sering dialami oleh perempuan dan orang dengan usia yang lebih tua. Beberapa faktor risiko yang dapat meningkatkan kemungkinan seseorang mengalami PGD antara lain:
- Kematian yang tidak terduga atau karena kekerasan, seperti kematian akibat kecelakaan mobil, pembunuhan, atau bunuh diri orang yang dicintai.
- Kematian seorang anak.
- Hubungan dekat atau ketergantungan dengan orang yang telah meninggal.
- Isolasi sosial atau kehilangan sistem dukungan dan pertemanan.
- Riwayat depresi, kecemasan akibat perpisahan, atau gangguan stres pascatrauma (PTSD) sebelumnya.
- Pengalaman masa kecil yang traumatis, seperti pelecehan atau penelantaran.
- Stresor kehidupan utama lainnya, seperti kesulitan finansial.
Gejala Umum
Saat orang terdekat kita meninggal, penting untuk memperhatikan kesehatan mental. Meskipun kesedihan adalah hal wajar, kondisi ini bisa menjadi masalah jika rasa sedih berlangsung selama berbulan-bulan atau terlalu intens. Beberapa gejala PGD meliputi:
- Tidak percaya bahwa orang terdekat telah meninggal.
- Merasa marah, benci, atau sangat sedih terhadap kematian yang terjadi.
- Sulit melanjutkan hidup, seperti bersosialisasi, melakukan hobi, atau merencanakan masa depan.
- Mati rasa secara emosional.
- Merasa hidup tidak memiliki makna.
- Rasa kesepian yang ekstrem.
Gejala pada Anak

Gejala PGD bisa berbeda-beda tergantung usia, jenis kelamin, atau budaya. Pada anak-anak dan remaja, reaksi terhadap kehilangan akan berbeda. Beberapa gejalanya termasuk:
- Menunggu orang yang meninggal untuk kembali.
- Pergi ke tempat-tempat di mana mereka pernah melihat orang terkasih yang telah meninggal.
- Merasa takut orang-orang di sekitarnya akan meninggal.
- Memiliki pikiran “gaib” atau gangguan kecemasan saat berpisah.
- Menunjukkan kesedihan atau perasaan sakit yang kuat.
Diagnosis
Dokter akan melakukan diagnosis PGD dengan berkonsultasi langsung dengan pasien. Untuk dikatakan mengidap PGD, gejala yang ditunjukkan harus tidak cocok dengan kondisi gangguan mental lainnya. Berdasarkan DSM-5, kerinduan mendalam terhadap orang yang telah meninggal merupakan gejala utama dari PGD. Pasien setidaknya harus memiliki tiga gejala yang disebutkan untuk dikategorikan mengidap PGD.
Penanganan

PGD dapat ditangani melalui terapi PGD (PGDT). Terapi ini didasarkan pada penelitian psikologis dan fungsi sosial setelah kehilangan. Dengan PGDT, pasien akan bekerja sama dengan profesional kesehatan mental untuk mendiskusikan:
- Kelekatan hubungan.
- Proses penguasaan diri.
- Regulasi emosi.
- Proses kognitif.
- Kepribadian sosial dan interaksi dengan orang lain.
- Proses psikososial lainnya.
Komplikasi yang Mungkin Terjadi
Jika tidak ditangani dengan baik, PGD bisa memengaruhi fisik, mental, dan kehidupan sosial pengidapnya. Beberapa komplikasi yang bisa terjadi antara lain:
- Depresi.
- Pikiran atau perilaku bunuh diri.
- Kecemasan, termasuk PTSD.
- Gangguan tidur signifikan.
- Peningkatan risiko penyakit fisik, seperti penyakit jantung, kanker, atau tekanan darah tinggi.
- Kesulitan jangka panjang dalam kehidupan sehari-hari, hubungan, atau pekerjaan.
- Penyalahgunaan alkohol, zat, atau nikotin.
Pencegahan

Tidak ada cara pasti untuk mencegah PGD. Namun, konseling segera setelah mengalami kehilangan bisa membantu, terutama bagi orang-orang yang berisiko tinggi mengalami PGD. Beberapa cara pencegahan meliputi:
- Bicarakan tentang kesedihan dan biarkan diri menangis. Meskipun menyakitkan, tetapi kesedihan biasanya akan berkurang jika kamu membiarkan dirimu merasakannya.
- Cari dukungan, seperti dari keluarga, sahabat, kelompok dukungan sosial, atau komunitas agama.
- Lakukan konseling duka cita. Melalui konseling dini setelah kehilangan orang yang dicinta, kamu bisa mengeksplorasi emosi seputar kehilangan dan belajar mekanisme koping yang sehat. Ini bisa membantu mencegah pikiran dan keyakinan negatif yang semakin menguat.
Prolonged grief disorder atau duka yang berkepanjangan berhubungan dengan beberapa gangguan mental lainnya. Jika kamu atau orang yang kamu kenal merasakan kesedihan yang berkepanjangan, sebaiknya membuat janji temu dengan psikolog atau psikiater agar bisa mendapatkan penanganan yang dibutuhkan dan mencegah komplikasi yang lebih serius.



