Close Menu
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Facebook X (Twitter) Instagram
Sabtu, 11 April 2026
Trending
  • BBWS Brantas Gelar Rapat Monev 2026, Fokus Percepatan Program dan Antisipasi Bencana
  • JW Group Perkuat Sinergitas Lewat Halalbihalal Bernuansa Jawa Kuno
  • Tiga prajurit Indonesia tewas dalam 24 jam di Lebanon, saatnya mundur?
  • Arus balik bandara Minangkabau membludak, antrean check-in mengular
  • Sinyal Kuat Timnas Indonesia: Dua Bintang Luar Negeri Bergabung dengan FCV Dender
  • Makna Nama Anak AHY dan Annisa Pohan: Filosofi Kuat Arjuna Hanyokrokusumo Yudhoyono
  • Tumpukan Sampah 6 Meter di Pasar Induk Kramat Jati Ganggu Pengunjung
  • 5 Shio Paling Beruntung Bulan April 2026, Kaya dan Berkembang
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok Threads RSS
Indonesia Discover
Login
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Indonesia Discover
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
  • Olahraga
  • Login
Home»Ragam»Otomotif»Sistem Parkir Surabaya Berubah, Warga dan Paguyuban Berkomentar
Otomotif

Sistem Parkir Surabaya Berubah, Warga dan Paguyuban Berkomentar

admin_indonesiadiscoverBy admin_indonesiadiscover8 Februari 2026Tidak ada komentar3 Mins Read
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
Share
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link

Perubahan Sistem Parkir di Surabaya Menimbulkan Beragam Tanggapan



Pemerintah Kota Surabaya telah melakukan perubahan besar-besaran terhadap sistem parkir di wilayahnya. Perubahan ini menarik perhatian berbagai pihak, baik warga maupun organisasi seperti paguyuban jukir. Salah satu perubahan utama adalah penggunaan sistem pembayaran digital atau non tunai.

Pendapat Warga yang Setuju

Putri Aisyah (41), seorang warga Surabaya, menyambut baik kebijakan tersebut. Ia mengatakan bahwa sistem parkir digital akan meningkatkan kepercayaan antara petugas dan pemilik kendaraan. Selain itu, ia juga berharap bahwa pendapatan dari parkir bisa langsung masuk ke anggaran pemerintah.

“Parkir digital bisa menjaga profesionalitas dari parkiran-parkiran Surabaya,” ujarnya. Ia juga menilai bahwa dengan sistem ini, setiap toko modern atau swalayan akan memiliki petugas parkir resmi yang dapat memastikan keamanan kendaraan.

Menurut Putri, sistem parkir digital juga akan membantu mengurangi masalah jukir liar. “Kalau jukir liar, mereka mungkin jaga kendaraan, tapi jika ada hal buruk, mereka tidak akan bertanggung jawab. Malah bisa menimbulkan keributan di jalan,” katanya.

Ia berharap pihak swasta dan pemerintah bisa menjamin keamanan kendaraan setelah sistem digital diterapkan. “Penyelenggara parkir harus memberikan perlindungan 100 persen bagi pengguna jasa parkir,” harapnya.

Penolakan dari Sebagian Warga

Namun, tidak semua warga merasa senang dengan kebijakan ini. Kayla Jasmine (23) menolak sistem parkir digital karena dinilai merepotkan masyarakat. Ia mengatakan masih banyak orang yang belum paham tentang sistem cashless atau non tunai.

“Masih banyak masyarakat yang belum memiliki akses internet yang merata dan literasi digital yang cukup,” ujarnya. Ia juga menyarankan agar pihak penyedia parkir menyediakan kartu tap sebagai alternatif bagi yang tidak bisa menggunakan sistem digital.

“Jika begitu, maka tetap ada dua sistem, yaitu tunai dan cashless,” tambahnya. Kayla menilai bahwa saat ini penerapan sistem digital di Surabaya belum siap dilakukan.

“Tapi, kalo ngomongin situasi sekarang ya memang belum siap. Aku bisa setuju dengan situasi bersyarat, ya itu tadi pemerataan akses,” terangnya.

Penolakan dari Paguyuban Jukir Surabaya

Selain warga, Paguyuban Jukir Surabaya (PJS) juga menolak kebijakan baru ini. Wakil Ketua PJS, Feri Fadli, mengatakan bahwa ada beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh Pemkot Surabaya.

Pertama, Pemkot harus membuat aturan parkir yang jelas dan tidak abu-abu. “Seperti kasus toko modern, katanya digaji yang layak tapi ada yang Rp 300.000 sampai Rp 700.000,” ujarnya.

Feri juga ingin Pemkot Surabaya memikirkan kesejahteraan anggota PJS. Ia menyarankan adanya sistem bagi hasil yang lebih adil. “Bagi hasil harus lebih banyak untuk jukir, misalnya jukirnya 80 persen terus pemerintah 20 persen. Biar enggak terlalu jomplang, karena kalau kendaraan hilang jukirnya yang ganti,” ucapnya.

Dengan perubahan ini, PJS khawatir kesejahteraan anggotanya akan terganggu. Mereka berharap pemerintah dapat memperhatikan kepentingan para jukir dalam penerapan sistem parkir digital.

Share. Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
admin_indonesiadiscover
  • Website

Berita Terkait

Klasemen MotoGP 2026: Marco Bezzecchi Juara Americas 2026

7 April 2026

Hasil Moto3 Amerika 2026: Veda Terjatuh, Guido Pini Jadi Juara Pertama

7 April 2026

Live hasil MotoGP Amerika 2026 lengkap klasemen terbaru, murid Rossi patahkan dominasi Aprilia

7 April 2026
Leave A Reply Cancel Reply

Berita Terbaru

BBWS Brantas Gelar Rapat Monev 2026, Fokus Percepatan Program dan Antisipasi Bencana

10 April 2026

JW Group Perkuat Sinergitas Lewat Halalbihalal Bernuansa Jawa Kuno

10 April 2026

Tiga prajurit Indonesia tewas dalam 24 jam di Lebanon, saatnya mundur?

7 April 2026

Arus balik bandara Minangkabau membludak, antrean check-in mengular

7 April 2026
© 2026 IndonesiaDiscover. Designed by Indonesiadiscover.com.
  • Home
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • PT. Indonesia Discover Multimedia
  • Indeks Berita

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

Sign In or Register

Welcome Back!

Login to your account below.

Lost password?