Close Menu
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Facebook X (Twitter) Instagram
Kamis, 19 Februari 2026
Trending
  • MEBI Luncurkan SPKLU Signature Station Pertama di Indonesia dengan Teknologi Huawei Fast Charging
  • 4 Tips Menyimpan Dana Darurat untuk Generasi Sandwich
  • Eks Kapolres Bima Kota Terancam Hukuman Penjara Akibat Narkoba
  • Kuliah Gratis, Lulus Jadi CPNS: Dua Sekolah Kedinasan Baru 2026
  • Persib dan Borneo FC Kembali Naik! Update Klasemen Super League 2025/2026 Setelah Persija Kalahkan Bali United
  • Jadwal Kapal Pelni Dorolonda Februari-Maret 2026: Rute Makassar, Baubau, Namlea, Ambon & Lainnya
  • Ramalan Virgo Hari Ini: Finansial, Karier, Kesehatan, dan Lainnya
  • Tiga zodiak ini akan temukan kebahagiaan sejati mulai 17 Februari 2026
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok Threads RSS
Indonesia Discover
Login
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Indonesia Discover
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
  • Olahraga
  • Login
Home»Ragam»Otomotif»Eropa tertinggal 20 tahun dari China dalam teknologi baterai
Otomotif

Eropa tertinggal 20 tahun dari China dalam teknologi baterai

admin_indonesiadiscoverBy admin_indonesiadiscover5 Februari 2026Tidak ada komentar3 Mins Read
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
Share
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link

Peringatan keras dari Pakar Otomotif Jerman tentang Ketergantungan Eropa pada Teknologi Tiongkok

Pakar otomotif ternama asal Jerman, Profesor Ferdinand Dudenhöffer, mengeluarkan peringatan keras terkait posisi Eropa dalam revolusi kendaraan listrik global. Menurutnya, benua biru ini kini tertinggal setidaknya 20 tahun di belakang Tiongkok dalam hal pengembangan teknologi baterai. Kesenjangan ini menempatkan produsen mobil Eropa dalam posisi yang sangat sulit untuk bersaing baik secara harga maupun inovasi. Tanpa kerja sama strategis dengan pemasok dari Negeri Tirai Bambu, industri otomotif Eropa terancam kehilangan momentum transisi energi dan tertinggal permanen dalam peta persaingan global yang semakin sengit.

Dominasi Pasar dan Ketergantungan Manufaktur pada Teknologi Tiongkok



Data terbaru menunjukkan bahwa pada Desember 2025, produsen mobil Tiongkok berhasil mencatatkan rekor penjualan bulanan di Eropa dengan angka melampaui 100.000 unit. Capaian ini memberikan Tiongkok pangsa pasar sebesar 9,5 persen di benua tersebut. Fenomena ini didorong oleh penguasaan rantai pasok baterai yang sangat dominan, di mana lebih dari 70 persen baterai kendaraan listrik yang terjual di Eropa pada tahun 2025 dipasok oleh perusahaan-perusahaan asal Tiongkok.

Profesor Dudenhöffer menekankan bahwa Eropa saat ini berada dalam kondisi ketergantungan yang tinggi. Tiongkok melalui perusahaan raksasa seperti CATL dan Gotion High-Tech tidak lagi sekadar mengirimkan komponen, tetapi telah membangun pusat manufaktur langsung di daratan Eropa melalui kerja sama dengan merek besar seperti BMW. Keunggulan Tiongkok tidak hanya terletak pada kapasitas, tetapi juga pada kendali atas 75 persen kapasitas produksi baterai global, terutama pada teknologi baterai litium besi fosfat (LFP) yang lebih ekonomis.

Efisiensi Produksi dan Tantangan Biaya di Industri Baterai Eropa



Kesenjangan ekonomi antara kedua kawasan ini sangat mencolok dalam hal biaya produksi dan kecepatan pengembangan. Biaya produksi baterai di Tiongkok tercatat sekitar 30 persen lebih rendah dibandingkan dengan pabrikan di Eropa. Selain itu, siklus pengembangan produk di Tiongkok mampu dipangkas hingga 50 persen lebih singkat. Hal ini menciptakan apa yang disebut Dudenhöffer sebagai “Efisiensi Tiongkok”, sebuah standar kerja yang sangat sulit dikejar oleh birokrasi dan rantai pasok di Jerman maupun negara Eropa lainnya.

Di sisi lain, upaya Eropa untuk membangun kemandirian baterai justru menemui jalan buntu. Produsen baterai lokal seperti Northvolt dari Swedia menghadapi ancaman kebangkrutan akibat kendala teknis dan keterlambatan pengiriman, sementara ACC di Prancis terpaksa menunda rencana ekspansi pabrik mereka. Meskipun Uni Eropa telah meluncurkan Critical Raw Materials Act, biaya produksi lokal tetap 50 persen lebih mahal daripada di Tiongkok, ditambah dengan ketergantungan impor material kritis seperti litium dan nikel yang masih mencapai lebih dari 80 persen.

Kepemimpinan Teknologi Cerdas dan Masa Depan Kerja Sama Bilateral



Ketertinggalan Eropa ternyata tidak hanya terbatas pada sektor baterai. Dudenhöffer mencatat bahwa dalam bidang kemudi otonom dan sistem kokpit pintar, perusahaan Tiongkok seperti Xiaomi, Huawei, Horizon Robotics, dan QCraft kini justru menjadi pemimpin tren global. Mereka tidak lagi didominasi oleh teknologi dari Amerika Serikat maupun Eropa, melainkan menciptakan standar baru dalam inovasi perangkat lunak kendaraan. Hal ini memaksa pabrikan Eropa untuk berubah dari pusat konsumsi baterai menjadi sebuah “lapangan uji teknologi Sino-Jerman”.

Menghadapi realitas ini, satu-satunya solusi logis bagi produsen mobil Eropa adalah menjalin kemitraan yang lebih erat. Dudenhöffer menyarankan agar Eropa belajar dari efisiensi pengembangan Tiongkok guna mempercepat transisi mereka. Kerja sama ini dipandang sebagai strategi saling menguntungkan (win-win solution) yang menggabungkan keunggulan teknik tradisional Eropa dengan inovasi cepat serta rantai pasok baterai yang efisien dari Tiongkok. Jika tidak, jendela transisi otomotif akan tertutup dan Eropa berisiko kehilangan peran utamanya di industri tersebut.

BYD Targetkan 1,3 Juta Penjualan Ekspor pada 2026

Share. Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
admin_indonesiadiscover
  • Website

Berita Terkait

Februari 2026, Kredit Motor Murah: Cicilan Rp700 Ribu hingga Diskon Rp24 Juta!

19 Februari 2026

Harga Terbaru Toyota Veloz Hybrid EV 2026: Era Baru Mobil Keluarga

19 Februari 2026

Harga Terbaru Toyota Veloz Hybrid EV 2026: Konsumsi BBM Mencapai Angka Ini

19 Februari 2026
Leave A Reply Cancel Reply

Berita Terbaru

MEBI Luncurkan SPKLU Signature Station Pertama di Indonesia dengan Teknologi Huawei Fast Charging

19 Februari 2026

4 Tips Menyimpan Dana Darurat untuk Generasi Sandwich

19 Februari 2026

Eks Kapolres Bima Kota Terancam Hukuman Penjara Akibat Narkoba

19 Februari 2026

Kuliah Gratis, Lulus Jadi CPNS: Dua Sekolah Kedinasan Baru 2026

19 Februari 2026
© 2026 IndonesiaDiscover. Designed by Indonesiadiscover.com.
  • Home
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • PT. Indonesia Discover Multimedia
  • Indeks Berita

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

Sign In or Register

Welcome Back!

Login to your account below.

Lost password?